

Jurnalikanews – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artifical Intelligence atau AI)
kini mulai menyentuh dunia pendidikan Indonesia. Upaya ini merupakan langkah penting
dalam menyiapkan generasi muda agar mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman, dimana
kemampuan berpikir komputasional dan literasi digital menjadi kebutuhan utama. Meskipun
penerapannya belum sepenuhnya merata, beberapa sekolah mulai memperkenalkan
pembelajaran AI dan koding melalui beragam pendekatan yang disesuaikan dengan
karakteristik dan kesiapan masing-masing lembaga pendidikan.
Pendekatan pertama yang mulai diterapkan adalah integrasi materi AI dan koding ke dalam
mata pelajaran informatika atau teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Beberapa sekolah
menengah di Indonesia, seperti SMPN 126 Jakarta telah mengadaptasi konsep ini dengan
memperkenalkan dasar-dasar kecerdasan buatan melalui pelajaran informatika. Dalam
pembelajaran tersebut, siswa diajak mengenal logika pemrograman sederhana, pemrosesan
data, dan prinsip kerja algoritma yang menjadi dasar dari AI. Pendekatan ini dinilai efektif
karena tidak menambah beban kurikulum baru, melainkan memperkaya mata pelajaran yang
sudah ada dengan konten yang relevan dengan perkembangan teknologi saat ini.
Selain integrasi dalam mata pelajaran, sebagian sekolah memilih untuk menjadikan
pembelajaran AI dan koding sebagai mata pelajaran pilihan atau muatan lokal. Di SMAIT Al
Haraki Depok, misalnya siswa diberi kesempatan untuk memilih program koding dan
kecerdasan buatan sebagai bagian dari kurikulum pengayaan. Langkah ini memungkinkan
peserta didik untuk mendalami bidang teknologi sesuai minat dan kemampuan masing-
masing. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga
menerapkannya dalam bentuk proyek kreatif seperti pembuatan aplikasi sederhana atau
simulasi sistem cerdas. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan
berorientasi pada pengembangan keterampilan nyata.
Pendekatan lainnya dilakukan melalui kegiatan ekstrakulikuler yang dirancang untuk
menumbuhkan minat dan keterampilan digital sejak dini. Sekolah-sekolah seperti SDK
Penabur Jakarta dan SMA Hellomotion Tangerang Selatan telah memanfaatkan kegiatan
ekstrakulikuler sebagai wadah eksplorasi teknologi, mulai dari pelatihan koding dasar,
pembuatan game edukatif, hingga pengenalan konsep AI dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan nonformal ini, siswa dapat belajar dengan cara yang lebih santai dan kreatif.
Ekstrakulikuler juga menjadi ruang yang baik bagi kolaborasi antar siswa, dimana mereka
dapat bekerja dalam tim dan mengasah kemampuan berpikir kritis dalam pemecahan
masalah.
Selain itu, terdapat pula pendekatan berbasis unpulugged coding yang tidak bergantung pada
perangkat digital canggih. Pendekatan ini mengajarkan konsep dasar pemrograman dan
kecerdasan buatan melalui aktivitas manual seperti permainan logika, simulasi algoritma
dengan kartu, atau teka-teki berpola. Cara ini cukup efektif terutama untuk sekolah-sekolah
yang memiliki keterbatasan fasilitas teknologi karena tetap mampu menumbuhkan
kemampuan berpikir algoritmik tanpa harus menggunakan komputer. Pendekatan unpulugged
menjadi solusi yang relevan bagi kondisi Pendidikan Indonesia yang beragam, baik di
perkotaan maupun di daerah dengan infrastruktur terbatas.
Ragam pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kecerdasan buatan
dan koding di sekolah Indonesia tidak bisa dilakukan dengan satu pola saja. Setiap sekolah
memiliki konteks, sumber daya, dan kesiapan yang berbeda, sehingga fleksibilitas dalam
penerapan menjadi kunci utama. Namun demikian, upaya-upaya ini memberikan gambaran
positif bahwa sistem pendidikan Indonesia mulai bergerak menuju arah transformasi digital
yang lebih matang. Meskipun masih banyak tantangan yang harus dihadapi, seperti
keterbatasan guru yang memahami AI dan infrastruktur yang belum merata, langkah awal ini
menjadi pondasi penting dalam membangun budaya literasi teknologi di kalangan generasi
muda.
Penerapan kecerdasan buatan di dunia pendidikan bukan sekadar memperkenalkan teknologi
baru, melainkan juga membangun cara berpikir baru yang sistematis, kreatif, dan berbasis
data. Dengan dukungan pelatihan guru, peningkatan fasilitas sekolah, dan pengembangan
kurikulum yang adaptif kehadiran AI di ruang kelas diharapkan tidak hanya menjadi tren
sesaat, tetapi menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju pendidikan yang lebih cerdas,
inklusif, dan relevan dengan kebutuhan masa depan. (APL)
Referensi:
https://www.kompasiana.com/fitrifarida3790/6275218fbb44862fa272b092/pembelajaran-
coding-di-tingkat-sekolah-dasar?page=2&page_images=1
https://kepalasekolah.id/praktik-pembelajaran-koding-dan-kecerdasan-artifisial-di-sekolah-
indonesia-model-tantangan-dan-solusi/
Sekolah Percontohan Coding dan AI: Solusi Masa Depan Pendidikan di Indonesia