JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Tragedi di Sekolah: Ledakan Masjid Jakarta dan Duka Dunia Pendidikan

Sumber: tirto.id

Jurnalikanews – Insiden ledakan mengejutkan terjadi di area masjid SMAN 72 Jakarta pada
Jumat (7/11/2025) pagi, menyebabkan sedikitnya 25 siswa mengalami luka-luka. Pihak
kepolisian telah bergerak cepat dan menetapkan seorang siswa berusia 17 tahun, yang juga
bersekolah di lokasi yang sama, sebagai terduga pelaku utama dalam insiden ini.
Menurut keterangan saksi mata, ledakan terdengar sekitar pukul 09.15 WIB saat sebagian
siswa sedang bersiap untuk kegiatan keagamaan. Ledakan yang diduga berasal dari bom
rakitan berdaya ledak rendah tersebut sontak menimbulkan kepanikan. Para korban yang
mayoritas mengalami luka bakar ringan dan luka akibat serpihan segera dievakuasi oleh guru
dan rekan-rekannya sebelum tim medis tiba di lokasi kejadian.
Tim Gegana dan Reskrim Polres Metro Jakarta Utara yang tiba di lokasi langsung melakukan
sterilisasi dan olah TKP. Tak butuh waktu lama, petugas mengamankan terduga pelaku
berinisial AR (17). Meskipun penyelidikan resmi masih berlangsung, dugaan kuat mengarah
pada motif perundungan atau bullying yang dialami pelaku sebagai pemicu tindakan nekat
tersebut.
Ledakan bom rakitan berdaya ledak rendah di tempat ibadah sekolah telah menciptakan luka
psikologis kolektif. Tidak hanya korban luka fisik, siswa yang menyaksikan kepanikan, suara
ledakan, dan kehadiran polisi bersenjata di lingkungan belajar mereka kini berpotensi
mengalami trauma serius. Psikolog pendidikan mengingatkan bahwa gejala seperti
kecemasan, sulit tidur, dan takut kembali ke sekolah dapat muncul dalam jangka panjang,
memerlukan intervensi trauma healing segera dan berkelanjutan.
Dugaan kuat bahwa terduga pelaku, AR adalah korban bullying yang putus asa menjadi kritik
keras bagi institusi pendidikan. Kasus ini menunjukkan bahwa perundungan yang diabaikan
dapat bertransformasi menjadi kekerasan yang ekstrem. Ketua Komisi Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI) menegaskan bahwa tragedi ini adalah kegagalan sistematis sekolah dan
pemangku kebijakan dalam menanggapi laporan atau tanda-tanda awal kekerasan. Sekolah,yang seharusnya menjadi rumah kedua yang aman, telah menjadi tempat di mana
keputusasaan berujung pada ledakan.
Dunia pendidikan kini didesak untuk berduka sekaligus berbenah. Harus dilakukan reformasi
total dalam mekanisme pencegahan kekerasan. Hal ini mencakup pendidikan empati yang
wajib, jalur pelaporan bullying yang rahasia dan responsif, serta pelatihan bagi guru untuk
mengenali tanda-tanda depresi atau perundungan pada siswa. Pemerintah melalui
Kementerian Pendidikan didesak untuk mengambil alih pengawasan ketat, memastikan setiap
sekolah tidak lagi menjadi ladang subur bagi bibit-bibit kekerasan.
Tragedi ini adalah alarm keras duka dunia pendidikan hanya dapat diakhiri jika seluruh
ekosistem sekolah bertekad menjadikan keselamatan psikologis dan fisik siswa sebagai
prioritas mutlak, sehingga tidak ada lagi siswa yang merasa harus meledakkan amarahnya
untuk didengar. (SA)

Referensi:
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20251107203926-12-1293217/fakta-fakta-ledakan-
di-sma-72-kelapa-gading-jakut
https://tirto.id/fakta-fakta-ledakan-di-sma-72-jakarta-hlke
https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8200106/ledakan-sman-72-jakarta-kpai-minta-
seluruh-siswa-dapat-trauma-healing