JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Artikel Inspirasi Recent Update

Marie Curie, Wanita Hebat yang Meninggal Akibat Temuannya Sendiri

Jurnalikanews – Tahukah anda siapa wanita pertama yang berhasil meraih nobel? Ya, wanita hebat tersebut ialah Marie Curie. Ia berhasil meraih penghargaan tersebut pada Desember 1903. Marie dan Pierre Curie yang merupakan suaminya dianugerahi Nobel Fisika atas penelitian mereka terhadap fenomena radioaktivitas. Marie Curie menjadi wanita pertama dalam sejarah yang menerima penghargaan ini. Sungguh mengagumkan bukan? Mari kita berkenalan lebih jauh dengan sosok wanita hebat ini.

Marie Curie dilahirkan sebagai Marya Sklodowska di ibu kota Polandia pada tanggal 7 November 1867 di Warsawa. Ayah dari Marya ini adalah guru fisika sedangkan ibunya merupakan kepala sekolah di sekolah putri. Sayangnya, ayah Marya dipecat karena menentang kekuasaan Rusia atas Polandia. Ibunya meninggal dunia pada saat Marya masih sangat kecil, yaitu pada usia 11 tahun.

Pada zaman itu, wanita tidak diizinkan untuk mengenyam bangku kuliah, maka Marya harus bekerja keras menjadi pengasuh anak dan menabung sehingga dia dapat masuk ke Universitas Sorbonne di Paris. Nama Marya Sklodowska berganti menjadi “Marie”, hal ini dikarenakan ia pindah ke Perancis dan mengganti namanya menjadi bergaya Perancis pula. Keadaan ekonomi Marie saat itu sangatlah miskin, sehingga ia sering pingsan karena menahan lapar di saat kuliah. Namun, Marie selalu menjadi juara di kelasnya karena kepintarannya yang sudah tidak diragukan lagi.

Pada tahun 1894, Marie bertemu dengan seorang laki-laki yang merupakan ahli kimia yang sukses. Lelaki ini bernama Pierre Currie. Setelah satu tahun berteman, akhirnya mereka menikah. Pierre menyadari bahwa isterinya ini ialah seorang ilmuwan yang besar. Maka dari itu, dengan senang hati ia bersedia untuk menjadi asistenya. Di tahun mereka menikah, Rontgen menemukan sinar-X dan tak lama kemudian ilmuwan Perancis Becquerel menemukan bahwa zat yang mengandung uranium mengeluarkan tipe sinar sejenis sinar-X.

Marie Curie menghabiskan seluruh hidupnya mempelajari substansi radioaktif ini. Ia menciptakan alat untuk mengukur radioaktivitas dan menemukan bahwa suatu substansi yang disebut pitchblende (bijih yang ekstraknya menghasilkan uranium) adalah 1.000 kali lebih radioaktif daripada uranium sendiri. Namun, apakah yang menyebabkan pitchblende ini memiliki sifat yang demikian radioaktif?

Marie dan Pierre memesan berton-ton pitchblende dari tambang di Austria untuk dikirim ke Paris. Mereka bekerja non-stop dalam kamar lembab, tak berpemanas. Mereke mencoba untuk memisahkan jumlah kecil materi radioaktif yang tak dikenal. Setelah beberapa tahun bekerja, mereka berhenti dengan setitik unsur radioaktif tinggi, yang mereka namakan radium. Mereka menerima hadiah nobel untuk karya ini. Sayangnya, suami tercinta meninggal dunia pada tahun 1906 karena tergilas kereta kuda saat dia menyeberang jalan. Namun, Marie meneruskan kerjanya dan menerima hadiah Nobel kedua pada tahun 1911.

Sumber : http://www.socialstudiesforkids.com/articles/worldhistory/mariecurie.htm

Marie Curie adalah salah satu dari sedikit orang yang memenangi dua hadiah nobel dalam dua bidang. Salah satu peneliti terpenting dalam bidang radiasi dan efeknya, karena inilah ia sangat terkenal sebagai perintis radiologi. Bahaya dari radioaktif belum dipahami benar pada saat itu dan Marie Curie menderita selama hidupnya karena radiasi yang membakar kulitnya sehingga akhirnya ia meninggal dunia karena sejenis kanker yang disebut leukemia pada tanggal 4 Juli 1934. Catatan milik Marie Curie tak luput dari sifat radioaktifnya, hingga seorang cucu perempuannya mendekontaminasinya.

Dedikasinya yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan sangatlah tinggi. Sampai saat ini, belum ada lagi seorang perempuan dengan talenta dan dedikasi yang demikian besar terhadap ilmu pengetahuan. Marie Curie terus bekerja dan menyelidiki nuklir dan radioaktif hanya di dalam laboratorium sederhana tanpa mau memikirkan diri sendiri. Bahkan ia tidak mau mendaftarkan penemuannya ke paten karena terlalu berpegang teguh pada prinsip “Ilmu pengetahuan adalah untuk umat manusia.” (IYMI)

Tinggalkan Balasan