JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Artikel Gaya Hidup Recent Update Saduran

Mengapa Anak Kecanduan Sesuatu, Terutama Gadget? Berikut Eksperimen Untuk Mengurangi Bermain Gadget Pada Anak

Sumber : southcharlottefamilycounseling.com

Jurnalikanews– Kegiatan sederhana yang dilakukan secara berulang kali dan menimbulkan rasa bahagia misalnya minum jus, menyeruput secangkir teh, makan pisang goreng, makan mie instan, bermain medial sosial dan game, sebenarnya tidak serta-merta berujung pada rasa kecanduan. Seseorang bisa dikatakan kecanduan akan sesuatu hal jika mereka tak bisa mengendalikan hasratnya. Mereka pun akan kesulitan menghentikan aktivitas yang mereka senangi. Pada umumnya, kecanduan yang dialami seseorang disebabkan oleh keinginan atau kegemarannya terhadap hal tertentu. Berbagai macam pertanyaan pun muncul mengenai apa yang membuat sesuatu menjadi candu, mengapa manusia bisa kecanduan terhadap sesuatu, dan apakah kecanduan itu buruk?

Melansir dari laman Livescience, Dokter Maureen Boyle dari National Institute on Drug Abuse menuturkan, “Kecanduan merupakan gangguan biopsikologi pada manusia, yakni kombinasi genetik, neurobiologi, dan interaksinya dengan faktor psikologi dan sosial”. Artinya, kecanduan sama seperti penyakit kronis tipe dua, seperti diabetes, kanker, dan penyakit jantung. Akan tetapi, seperti penyakit kronis pada umumnya, kecanduan bisa dicegah dan diobati. Dokter Boyle pun menambahkan jika kecanduan dibiarkan begitu saja akan berlangsung lama, bahkan bisa sampai seumur hidup. Kecanduan yang sampai berlarut contohnya perokok dan pecandu alkohol.

Proses seseorang menjadi kecanduan terhadap sesuatu terjadi di dalam otak, tepatnya di sistem limbik. Bagian otak ini mengatur emosi dan memori jangka panjang, salah satunya sensasi enak saat kamu makan makanan yang sangat lezat. Pada sistem limbik terdapat neurotransmitter yang melepaskan hormon dopamin. Dopamin adalah molekul yang mengangkut pesan melintasi reward centre (pusat imbalan) di otak. Hormon Itulah yang memberi orang perasaan senang saat melakukan sesuatu, serta memicu timbulnya harapan melakukan hal tersebut berulang-ulang, seperti yang dilansir Indntimes dari Colorado.edu, cara kerja dopamin terlepas di dalam otak

menuju neuron lain, lalu diserap lagi oleh neuron asalnya. Penyebaran dopamin memiliki alur yang teratur dan terkendali.

Sumber : sanescohealth.com

Kecanduan berbeda dengan kesenangan yang berlebihan. Kesenangan yang berlebihan menandakan kadar dopamin di otak tak normal. Pada saat timbul rasa senang yang berlebih, dopamin yang dihasilkan otak tak terserap lagi oleh neuron asalnya, terjebak dalam area sinaps sehingga kadar dopamin terus bertambah tak terkendali. Inilah yang menimbulkan perasaan kecanduan pada diri manusia. Kadar dopamin yang dihasilkan otak normal saat melakukan sesuatu, kamu tidak akan merasa kecanduan, sebaliknya, jika objek atau kegiatan yang kamu sukai merangsang otak untuk menghasilkan dopamin yang berlebih, bisa saja kamu jadi kecanduan. Dari penjelasan di atas kita tahu bahwa kecanduan jelas berbeda dengan kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang. Kita bisa menghentikan suatu kebiasaan sesuai situasi dan kondisi, tapi lain lagi halnya dengan kecanduan. Orang yang kecanduan akan kehilangan kendali terhadap apa yang dilakukan sehingga sulit untuk menghentikan perilaku tersebut.

Zaman milenial seperti ini, kecanduan gadget sangat berpengaruh tetutama pada anak-anak. Pada situs yang dikutip CNBC tertulis bahwa sebagai orang tua, kita semua ingin membesarkan anak-anak yang cerdas, terutama zaman sekarang yang serba digital (bahkan raksasa teknologi seperti Steve Jobs dan Bill Gates memiliki strategi untuk membatasi waktu bermain gadget anak-anak mereka). Satu hal yang pasti, teknologi semakin meluas dan persuasif. Meskipun penting bagi anak-anak kita untuk menyadari bahwa produk dirancang agar sangat menarik, kita juga perlu memperkuat keyakinan mereka pada kekuatan mereka sendiri untuk mengatasi kecanduan. Salah satunya yaitu tanggung jawab dan hak mereka untuk menggunakan waktu mereka dengan bijak.

“Jika anak-anak dapat memantau perilaku mereka sendiri, mereka mempelajari keterampilan yang mereka butuhkan agar tidak teralihkan (oleh gadget), bahkan saat orang tua tidak ada,” ujar Nir Eyal, lulusan dan instruktur di Stanford School of Business. Dua eksperimen sains berikut ini, sebagaimana dilansir dari ScienceKids untuk mengurangi bermain gadget pada anak yaitu :

1. Melelehkan Cokelat

Sumber : pitt.spoonuniversity.com

Jika kita memegang cokelat, lama kelamaan cokelat akan meleleh di tangan kita. Kemudian, pada suhu berapa cokelat bisa meleleh dari padat menjadi cair? apakah akan berbeda antara cokelat putih dan cokelat hitam? Berikut, langkah – langkahnya:

1. Letakkan sepotong cokelat di atas piring kertas dan letakkan di tempat teduh.

2. Catat berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melelehkan cokelat atau jika tidak cukup panas untuk mencair kemudian catat seberapa lunaknya setelah 10 menit.

3. Ulangi proses ini dengan sepotong cokelat di atas piring yang anda letakkan di bawah sinar matahari. Catat hasil anda dengan cara yang sama.

4. Temukan lokasi yang lebih menarik untuk menguji lamanya waktu untuk kepingan cokelat meleleh. anda dapat mencoba tas sekolah anda, air panas atau bahkan mulut anda sendiri.

5. Bandingkan hasil anda, dalam kondisi apa cokelat meleleh? anda mungkin juga ingin mencatat suhu dengan termometer di lokasi yang anda gunakan sehingga anda bisa memikirkan suhu apa yang dicairkan oleh cokelat. 

Pada suhu tertentu, potongan cokelat anda mengalami perubahan fisik, dari padat ke cair (atau diantara keduanya). Pada hari yang panas, sinar matahari biasanya cukup untuk melelehkan cokelat, anda juga bisa membalikkan proses dengan meletakkan cokelat leleh ke dalam lemari es atau freezer, nantinya ia akan berubah dari cair kembali menjadi padat. Pada cokelat kemungkinan meleleh cukup cepat jika dimasukkan ke dalam mulut, tentu ini karena suhu tubuh.

2. Pembuatan pasir hanyut

Sumber : College of engineering and Applied Science at Colorado University Boulder

Pembuatan ekspemerin pasir hanyut ini bisa dilakukan dalam skala yang aman untuk anak-anak. Berikut, langkah- langkahnya:

1. Campur tepung jagung dan air ke dalam wadah.

2. Aduk perlahan dan teteskan cairan tersebut untuk menunjukkan bahwa itu adalah cairan.

3. Aduk dengan cepat akan membuatnya padat dan memungkinkan anda untuk memukul atau menusuknya dengan cepat (ini bekerja lebih baik jika anda melakukannya dengan cepat daripada keras).

4. Karena bermain ini bisa membuat berantakan maka lakukanlah di luar dan jangan lupa untuk mengaduknya tepat sebelum anda menggunakannya, selalu aduk, sesaat sebelum anda memainkannya. 

Jika anda menambahkan jumlah air yang tepat ke tepung jagung, strukturnya menjadi sangat kental semakin anda mengaduknya dengan cepat. Hal ini terjadi karena butiran tepung jagung tercampur dan tidak dapat saling bergeser karena kurangnya air di antara mereka. Jika diaduk perlahan-lahan memungkinkan lebih banyak air di antara butiran tepung jagung, membiarkannya meluncur lebih mudah satu sama lain.

Menurut anda, mana eksperimen yang anda sukai?(CLP)

Referensi :

Liputan6.com

ahttps://ilmupedia.co.id.articles?mengapa-manusia-bisa-kecanduan/full

Tinggalkan Balasan