JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Artikel Recent Update Saduran

Kronologi Pembuatan Karikatur Berhujung Pemboikotan Produk Prancis

Charlie Hebdo, koran satir di Prancis yang menuai kontravensi setelah menerbitkan karikatur Nabi Muhammad.
(Gambar : The Jakarta Post)

Jurnalikanews- Situasi yang kian memanas terjadi antara umat Islam dengan Prancis sehingga ramai negara dengan mayoritas penduduk Islam melakukan aksi boikot produk-produk Prancis. Pemboikotan ini digencarkan sebagai bentuk protes atas beberapa pernyataan Presiden Perancis Emmanuel Macron yang dinilai menjelekkan Islam serta keengganan Macron untuk mengecam pembuatan karikatur Nabi Muhammad.

Beberapa petinggi negara juga turut andil mengecam Macron seperti Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang mendukung pemboikotan produk prancis. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pun turut mengecam pernyataan Macron yang dinilainya dapat memecah persatuan antar umat beragama.

Situasi pasca penyerangan kantor Charlie Hebdo di Paris pada tahun 2015 (Gambar : Reuters)

Penyerangan yang disulut dengan penggambaran Nabi bukan hal yang pertama kali terjadi. Pada 7 Januari 2015 terjadi penembakan di kantor surat kabar satir Charlie Hebdo, Paris. Pelaku sejumlah tiga orang melakukan penyerangan menggunakan senjata mesin yang akhirnya merenggut 12 nyawa dimana sembilan merupakan jurnalis Charlie Hebdo, seorang petugas pemelihara, dan dua orang petugas kepolisian.

Ketiga pelaku penyerangan tewas ditembak oleh polisi. 14 orang tersangka komplotan dari pelaku  dijadwalkan menjalani persidangan pada bulan September 2020.

Berikut lini masa dari kejadian hangat saat ini yang kami lansir dari Al Jazeera.

1 September 2020 : Penerbitan ulang karikatur Nabi

Menggunakan momen akan dimulainya persidangan dari tersangka komplotan pelaku penyerangan pada tahun 2015, Charlie Hebdo menyatakan akan menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad. Penggambaran kartun oleh Charlie Hebdo yakni nabi mengenakan serban berbentuk bom dengan sumbu yang tersulut.

2 September 2020 : Persidangan tersangka kasus penyerangan 2015

Sketsa ruang sidang pada 2 September 2020 di Paris ketika berlangsungnya proses persidangan 14 orang tersangka penyerangan kantor Charlie Hebdo (Gambar : AFP/ Benoît Peyrucq)

Empat belas orang tersangka disidang dengan tuduhan membantu pelaku penyerangan kantor Charlie Hebdo yang merenggut 12 nyawa dan melukai 11 orang. Persidangan dilakukan di Paris setelah diundur selama empat bulan dikarenakan situasi pandemi dan berlakunya lockdown

25 September 2020 : Penyerangan di depan bekas kantor Charlie Hebdo

Petugas pemadam kebakaran Prancis membawa korban penyerangan pisau di depan bekas kantor Charlie Hebdo
(Gambar : The New York Times)

Seorang pria dengan pisau daging melukai dua orang. Tersangka utama, yang diidentifikasi sebagai pria berusia 18 tahun asal Pakistan, ditangkap di dekat tempat kejadian. Polisi mengatakan enam orang tersangka lainnya ditahan dan diinterogasi.

Semenjak penyerangan tahun 2015, Charlie Hebdo pindah kantor ke lokasi yang dirahasiakan.

2 Oktober 2020 : Macron mengatakan Islam diseluruh dunia mengalami krisis

Macron dalam pidatonya menegaskan ‘tidak ada konsesi’ yang akan dibuat dalam upaya baru untuk mendorong agama keluar dari sektor pendidikan dan sektor publik di Prancis.

“Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia saat ini, kita tidak hanya melihat ini di negara kita,” ucap Macron.

16 Oktober 2020 : Pemenggalan seorang guru Prancis

Seorang demonstran membawa tanda “Saya Samuel” saat orang-orang berkumpul di Place de la République di Paris untuk memberi penghormatan kepada guru sejarah yang terbunuh, Samuel Paty (Gambar : AFP /Bertrand Guay)

Seorang pria berusia 18 tahun asal Chechnya memenggal kepala Samuel Paty, seorang guru sejarah berusia 47 tahun yang telah menunjukkan kartun nabi kepada murid-muridnya dalam pelajaran mengenai kebebasan berbicara. Paty diserang dalam perjalanan pulang dari sekolah menengah pertama tempat dia mengajar di Conflans-Sainte-Honorine.

Pelaku tewas setelah ditembak oleh polisi dekat dari tempat Paty mengajar. Lima orang telah ditahan atas pembunuhan tersebut di luar Paris, termasuk orang tua dari anak di sekolah tempat Paty bekerja.

Seorang pejalan kaki membaca surat perintah penutupan sementara Masjid Grande Patin, di timur Paris, pada 20 Oktober 2020 (Gambar : Reuters / Antony Paone)

Prancis memerintahkan penutupan sementara masjid Grande Mosquée de Pantin sebagai bagian dari penindakan tegas terhadap orang-orang yang diduga menghasut kebencian, setelah guru sejarah Samuel Paty dipenggal karena menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelasnya.

Otoritas Prancis menggugat masjid karena telah membagikan video di halaman Facebook-nya pada 9 Oktober, dimana ayah Muslim dari salah satu siswa Paty melampiaskan kebenciannya dengan menyebut Paty preman dan mengatakan ingin ‘menyingkirkannya’.

21 Oktober 2020 : Macron memberikan pidato penghormatan kepada Paty, “Kita tidak akan menyangkal kartun”

Macron dalam pidatonya pada upacara televisi nasional di Universitas Sorbonne Paris memberikan penghormatan kepada Paty, menyebutnya sebagai “pahlawan” yang mendedikasikan diri untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi Republik Prancis dan membentuk karakter republik pada murid-muridnya

“Kami tidak akan menolak kartun, gambar, bahkan jika yang lain mundur. Kami akan memberikan semua kesempatan yang Republik janjikan kepada semua pemuda, tanpa diskriminasi apapun.” tegas Macron

Macron memberikan penghargaan sipil tertinggi Prancis, Légion d’honneur, kepada Paty dan mengatakan dia telah dibunuh oleh “pengecut” karena telah mewakili nilai-nilai sekuler dan demokratis dari republik Prancis.

“Samuel Paty dibunuh karena Islamis menginginkan masa depan kita dan karena mereka tahu bahwa dengan pahlawan seperti dia, mereka tidak akan pernah memilikinya.” Ucap Macron

24 Oktober 2020 : Erdogan, “Macron butuh pemeriksaan mental” dan dimulainya aksi boikot produk Prancis

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam Emmanuel Macron, atas sikapnya terhadap Muslim dan mengatakan bahwa dia perlu “periksa mental”. Dilansir dari Kompas, pada Sabtu (24/10/2020) Erdogan dalam pidatonya mengatakan “Apa yang bisa dikatakan tentang seorang kepala negara yang memperlakukan jutaan anggota dari kelompok agama yang berbeda seperti ini. Pertama-tama, lakukan pemeriksaan mental,”

Panggilan untuk memboikot produk Prancis pun mulai ramai bermunculan di social media pada berbagai negara dengan mayoritas penduduk Islam. Aksi demonstrasi dijalanan juga bermunculan menolak hubungan politik dan ekonomi dengan Prancis.

28 Oktober 2020 : Charlie Hebdo menerbitkan karikatur Erdogan

Penggalan sampul karikatur Erdogan yang diterbitkan oleh Charlie Hebdo (Gambar : Charlie Hebdo)

Charlie Hebdo membuat karikatur Erdogan sebagai respons sindiran Erdogan terhadap Macron yang membuat hubungan antara negara Turki dan Prancis kian memanas.

29 October 2020 : Penyerangan di Nice dan tewasnya pria bersenjata di Avignon

Situasi pasca penyerangan di Basilika Notre-Dame, Nice. (Gambar : Reuters / Eric Gaillard)

Seorang pria muda Tunisia bersenjatakan pisau menyerang para jemaah di Basilika Notre-Dame Nice dan menewaskan tiga orang, mendorong pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan keamanannya ke level maksimum beberapa jam sebelum penguncian virus corona secara nasional. Seorang tersangka ditembak oleh polisi namun hanya terluka dan ditangkap

Selang beberapa jam setelah serangan Nice, dalam insiden terpisah, polisi membunuh seorang pria yang mengancam pejalan kaki dengan pistol di Montfavet, dekat kota Avignon di Prancis selatan. (IBH)

Tinggalkan Balasan