JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Berita Internal

Catatan dari GIMA V

gima 1Jurnalikanews- Indahnya gemerlap cahaya lampu, air bersih yang melimpah, dan mudahnya akses pendidikan serta transportasi yang setiap saat kita rasakan, ditambah lagi mudahnya akses internet, betapa sempurnanya hidup kita. Kemudian mari bayangkan jika itu semua tidak kita rasakan, saat bulan menggantikan matahari dan hanya kegelapan menyelimuti, yang kita lihat hanyalah kerlipan bintang dan lampu-lampu jalanan kota di bawah gunung tempat kita tinggal. Lalu, saat ayam jantan mulai berdiri di atas kandangnya, bersiap untuk berkokok, kita harus bersusah payah mengambil air bersih dari bak-bak penampungan untuk sekedar mandi dan memasak air. Terjalnya jalan bebatuan diperparah dengan tanah yang licin menjadi rintangan tiap kali kita akan menuntut ilmu. Itulah yang terjadi di Kampung Cibuyutan, Desa Sukarasa, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, satu dari banyaknya kampung atau desa yang tertinggal di Kabupaten Bogor. Kampung Cibuyutan ditempuh selama ± 3 jam perjalanan darat dari Kota Bogor dan ditambah 2 jam berjalan kaki melalui jalan bebatuan.
gima 2Mengetahui hal itu, para mahasiswa Politeknik AKA Bogor yang tergabung dalam Kepanitiaan Gerakan IMAKA Mengajar atau disingkat GIMA, yang telah bergerak dari tahun 2012 dibawah naungan Kementrian Sosial Masyarakat BEM IMAKA, melakukan pengabdian di Kampung Cibuyutan selama 7 hari, mulai pemberangkatan pada tanggal 27 Desember 2017 hingga kepulangan pada tanggal 2 Januari 2018. Kepanitiaan ini terdiri dari 42 anggota, termasuk BPH, 7 orang pengajar, dan 9 orang relawan. Mengingat sulitnya air bersih dan sulitnya akses pendidikan, pada GIMA ini melakukan bakti sosial, yang pertama yaitu pembangunan infrastruktur oleh para panitia laki-laki dibantu warga untuk memudahkan pasokan air bersih dari sumber mata air yang jaraknya ± 412 m dari perumahan warga melalui dua bak penampungan.
“Bak penampungan yang pertama terletak di kaki gunung dengan ukuran 1 m × 1 m × 1 m dan dialirkan kembali ke bak penampungan kedua yang berukuran 2 m × 1 m × 1,5 m menggunakan ± 103 buah pipa dengan 100 buah pipa berukuran 1 inci dan 3 pipa berukuran ½ inci”, ujar Gusvianto Putranugraha, selaku Koordinator Logistik. Kedua adalah penyuluhan ekonomi kreatif pembuatan pupuk cair dari batang pisang oleh EKSKIM, pembenahan MCK dan sekolah. Ketiga dan yang paling utama adalah pengajaran yang dilakukan oleh para pengajar terpilih di Kepanitiaan GIMA ke-5 kepada para siswa/i SD yang berjumlah ± 50 orang. “Strategi kami adalah bombardir segala arah tebar kebermanfaatan, jadi selagi ada peluang dan celah disitu kita masuk buat menebar kebermanfaatan, untuk proses pengajarannya insyaAllah ada progress di setiap tingkatan kelasnya, terbukti dari beberapa review ulang yang kita lakukan. Goal kami secara garis besar yaitu mengarahkan mereka untuk terus menggapai cita-cita mereka, membakar semangatnya untuk terus belajar dan berdoa. Biarkan jangka waktu dan interaksi kami singkat namun dampaknya panjang. Harapan mereka dan cita-cita mereka pada dasarnya sama seperti apa yang kita impikan, mungkin karena faktor lokasi yang membuat mereka menjadi terhambat dalam hal belajar, namun dalam semangat kegigihan dalam berangkat bersekolah saya rasa mereka jauh lebih unggul daripada kita semua, suatu kehormatan bisa mendidik bagi kita yang terdidik. Mungkin untuk saran, dibutuhkan fasilitas yang lebih memadai terkait hal belajar mengajar, karena fasilitas yang ada saat ini masih kurang” ujar Rendy Setyawan, selaku Koordinator Pengajar. Setelah 7 hari menjalani pengabdian, kegiatan GIMA ke-5 ini diakhiri dengan pentas seni berupa puisi, menyanyi, eksperimen kimia, dan drama oleh para siswa/i. (Fz/qy)