JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Gelombang PHK di Tengah Penguatan Rupiah: Mengapa Dunia Industri Masih Tertekan?

Sumber: https://en.tempo.co

Jurnalikanews – Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat dihadapkan pada dua kondisi ekonomi yang tampak saling bertolak belakang. Di satu sisi, nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat yang dianggap sebagai sinyal positif bagi perekonomian nasional. Penguatan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor global, salah satunya melemahnya dolar AS akibat ekspektasi penurunan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Namun, di sisi lain, berbagai perusahaan di Indonesia justru masih melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam jumlah yang cukup besar. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengapa perbaikan indikator ekonomi makro belum mampu mengangkat kinerja sektor industri dan menjaga keberlangsungan lapangan pekerjaan.

Pada dasarnya, penguatan nilai tukar rupiah tidak selalu mencerminkan kondisi sektor riil yang sesungguhnya. Pergerakan kurs lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar keuangan dan kondisi ekonomi global dibandingkan dengan aktivitas produksi di dalam negeri. Oleh karena itu, meskipun rupiah mengalami apresiasi terhadap dolar AS, berbagai perusahaan masih menghadapi tantangan yang cukup berat dalam menjalankan kegiatan usahanya. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa sepanjang semester pertama tahun 2026, puluhan ribu pekerja terdampak PHK. Hal tersebut menjadi indikasi bahwa dunia industri masih berada dalam tekanan meskipun sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perkembangan yang positif.

Salah satu penyebab utama masih terjadinya PHK adalah tingginya biaya produksi yang harus ditanggung oleh perusahaan. Biaya energi, logistik, serta distribusi masih berada pada tingkat yang tinggi sehingga membebani kegiatan operasional. Selain itu, gangguan rantai pasok global yang dipicu oleh berbagai konflik geopolitik menyebabkan pasokan bahan baku menjadi kurang lancar dan biaya pengiriman meningkat. Akibatnya, penguatan rupiah belum mampu memberikan penghematan yang signifikan terhadap biaya produksi sehingga banyak perusahaan tetap melakukan efisiensi untuk menjaga keberlangsungan usahanya.

Tekanan terhadap industri juga semakin besar akibat meningkatnya persaingan dengan produk impor yang beredar di pasar domestik. Sektor padat karya seperti tekstil, garmen, dan alas kaki menghadapi tantangan serius karena harus bersaing dengan produk luar negeri yang dijual dengan harga lebih murah. Kondisi tersebut membuat produk lokal kehilangan daya saing sehingga penjualan perusahaan menurun. Ketika pendapatan perusahaan terus mengalami penurunan sementara biaya operasional tetap tinggi, pengurangan jumlah tenaga kerja sering kali menjadi pilihan yang diambil untuk menekan pengeluaran perusahaan.

Selain menghadapi persaingan di pasar dalam negeri, industri yang berorientasi ekspor juga belum sepenuhnya pulih akibat perlambatan ekonomi global. Melemahnya permintaan dari negara-negara tujuan ekspor menyebabkan volume penjualan produk Indonesia mengalami penurunan. Di sisi lain, apresiasi nilai rupiah juga membuat harga produk Indonesia menjadi relatif lebih mahal di pasar internasional sehingga daya saing ekspor ikut berkurang. Kombinasi dari melemahnya permintaan global dan tingginya biaya produksi membuat banyak perusahaan kesulitan mempertahankan tingkat produksinya.

Dampak kondisi tersebut paling banyak dirasakan oleh wilayah yang menjadi pusat industri manufaktur nasional, terutama Jawa Barat. Provinsi ini menjadi salah satu daerah dengan jumlah kasus PHK yang cukup tinggi karena banyak perusahaan tekstil, garmen, elektronik, dan alas kaki beroperasi di kawasan tersebut. Ketika industri-industri tersebut mengalami penurunan permintaan maupun tekanan biaya produksi, ribuan pekerja ikut terdampak. Fenomena ini menunjukkan bahwa sektor padat karya masih menjadi kelompok industri yang paling rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.

Melihat kondisi tersebut, berbagai kalangan menilai bahwa pemerintah perlu mengambil langkah yang lebih komprehensif untuk menjaga keberlangsungan sektor industri. Kebijakan yang mendukung perlindungan industri dalam negeri, pengendalian arus impor yang tidak sehat, pemberian insentif kepada sektor padat karya, serta upaya menjaga stabilitas biaya energi dan logistik dinilai menjadi langkah yang penting. Selain itu, peningkatan program pelatihan dan penempatan kembali tenaga kerja juga diperlukan agar pekerja yang terdampak PHK memiliki kesempatan memperoleh pekerjaan baru.

Secara keseluruhan, penguatan nilai tukar rupiah memang merupakan perkembangan yang positif bagi perekonomian Indonesia. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk mengatasi berbagai persoalan yang masih dihadapi sektor riil. Selama biaya produksi tetap tinggi, persaingan dengan produk impor semakin ketat, dan permintaan ekspor belum kembali pulih, risiko terjadinya PHK masih akan membayangi dunia industri. Oleh karena itu, kebijakan ekonomi tidak hanya perlu berorientasi pada stabilitas indikator makro, tetapi juga harus mampu memperkuat sektor riil agar pertumbuhan ekonomi dapat menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (MRM)