

sumber: ftmm.unair.ac.id
Jurnalikanews – Seperti yang kita ketahui, sampah plastik telah menjadi salah satu masalah lingkungan yang cukup mengkhawatirkan di dunia maupun di Indonesia. Berdasarkan data resmi yang dipaparkan dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah 2025, sampah plastik mencapai sekitar 10,8 juta ton atau hampir 20% dari total sampah nasional, sementara tingkat daur ulang nasional baru menyentuh 22%. Beberapa metode dan cara pengolahan plastik sudah dilakukan, namun hal tersebut belum cukup optimal melihat sampah yang dihasilkan setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Oleh karena itu, hadirlah inovasi baru yaitu teknologi pirolisis.
Pirolisis merupakan proses dekomposisi termal suatu material pada suhu tinggi tanpa kehadiran oksigen, sehingga plastik yang dipanaskan tidak terbakar sempurna sebagaimana pembakaran biasa, melainkan mengalami pemutusan ikatan molekul (cracking) pada rantai polimer panjang menjadi molekul hidrokarbon yang lebih sederhana (Restanti, 2024). Secara umum, proses pirolisis berlangsung melalui pemanasan bertahap di ruang tertutup, di mana plastik meleleh dan berubah fase menjadi gas hasil pemecahan molekul, kemudian gas panas tersebut dialirkan ke pipa pendingin sehingga mengembun menjadi cairan hidrokarbon menyerupai minyak, sementara fraksi yang tidak terkondensasi tetap berbentuk gas dan residu padat yang tidak terurai tertinggal sebagai arang, sehingga dapat dikatakan proses pirolisis menghasilkan tiga jenis produk utama, yaitu minyak pirolisis, gas atau syngas, dan residu padat berupa char atau arang.
Suhu operasi pirolisis plastik pada berbagai penelitian di Indonesia umumnya berada pada rentang 250–500°C, bergantung pada jenis plastik dan desain alat yang digunakan. Misalnya Penelitian pada plastik PP dengan reaktor sederhana menggunakan suhu operasi sekitar 250°C, sementara penelitian pada plastik LDPE dan campuran kemasan makanan atau minuman menggunakan variasi suhu 350°C, 400°C, dan 450°C. Tidak semua jenis plastik memberikan hasil yang sama baiknya dalam proses pirolisis. Jenis plastik berbasis poliolefin, yaitu PE atau Polyethylene termasuk HDPE dan LDPE, PP atau Polypropylene, dan PS atau Polystyrene, merupakan bahan baku yang paling banyak diteliti dan dianggap paling cocok karena strukturnya relatif mudah terurai menjadi fraksi hidrokarbon cair menyerupai bahan bakar minyak (Restanti, 2024)
Jika dibandingkan dengan metode landfill dan open dumping, yang hanya memindahkan sampah tanpa mengatasi masalah, pirolisis justru dapat mengurangi volume sampah plastik dan mengubahnya menjadi produk bernilai ekonomi. Jika dibandingkan dengan insinerasi atau pembakaran terbuka, yang menghasilkan emisi dioksin bersifat karsinogenik serta gas hidrogen sulfida yang beracun bagi lingkungan, pirolisis secara teori menghasilkan lebih sedikit gas sisa dan residu yang berbahaya.
Meskipun menjanjikan, pirolisis bukan teknologi tanpa risiko. Kajian literatur mengenai proses peleburan dan pengolahan termal limbah plastik menemukan bahwa emisi utama yang dihasilkan mencakup senyawa organik volatil atau VOC, dioksin, furan, karbon monoksida, serta partikel halus PM10 dan PM2.5 terutama jika proses tidak dilengkapi sistem kontrol emisi yang memadai seperti filter HEPA, karbon aktif, atau scrubber basah berbasis larutan alkali. Riset dari peneliti Indonesia mengenai minyak hasil pirolisis plastik, menemukan fakta bahwa kandungan aromatik yang tinggi dalam bahan bakar tersebut dapat meningkatkan emisi karbon monoksida dan nitrogen oksida ketika kadar campurannya dengan bahan bakar konvensional ditingkatkan, sehingga kualitas minyak pirolisis masih perlu disempurnakan termasuk menurunkan viskositas dan kandungan sulfurnya agar dampak emisi terhadap lingkungan dapat diminimalkan sekaligus performa bahan bakarnya meningkat.
Dengan demikian, pirolisis dapat menjadi solusi nyata apabila dijalankan dengan standar teknis yang baik, regulasi emisi yang jelas, sistem pemilahan sampah dari sumber yang baik, serta pengawasan pemerintah yang konsisten. Sebaliknya, apabila diterapkan secara asal-asalan dalam skala kecil tanpa kontrol emisi, sebagaimana banyak terjadi pada proyek percontohan berbasis alat sederhana saat ini, pirolisis berisiko menjadi sumber pencemaran udara baru yang justru menambah beban lingkungan dan kesehatan bagi masyarakat. (DA)
Referensi
Limbah Plastik dan Dampaknya pada Lingkungan https://share.google/YqADpFgXy6H3NTp1e
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup / Badan Pengendalian Lingkungan Hidup https://share.google/i5SNxjslbujRe22Tl
Restanti, R.B.A. (2024). Pengolahan Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Minyak Alternatif dengan Metode Pirolisis. Jurnal Serambi Engineering Welcome to UPN Veteran Jatim Repository – UPN Veteran Jatim Repository
https://ftmm.unair.ac.id/skincare-ramah-lingkungan-berbasis-pirolisis/