

Sumber : mongabay.co.id
Jurnalikanews – Pernahkah kamu melihat ogoh-ogoh? Menjelang Hari Raya Nyepi di Bali, ada sebuah tradisi turun-temurun yang dilakukan masyarakat setempat pada hari Pengerupukan. Ogoh-ogoh adalah patung raksasa yang dibuat dari bambu dan kertas berbentuk Bhuta Kala atau raksasa yang menakutkan dengan tubuh besar, kuku panjang, mata besar tampak garang, mulut dan hidungnya besar dengan gigi mengkilap dan bertaring runcing. Patung raksasa (ogoh-ogoh) ini mewakili hal-hal negatif, sifat buruk, dan kejahatan yang ada di dalam kehidupan manusia. Pawai dilakukan pada saat ritual Buta Yadnya (Bhuta Yajna) yang merupakan rangkaian upacara untuk menyambut kedatangan Bhuta Kala dan kini menjadi festival tahunan.
Setelah pawai mengelilingi desa, ogoh-ogoh kemudian dimusnahkan pada upacara Tawur Kesanga sebagai simbol keikhlasan dan kemenangan menjelang Hari Raya Nyepi. Masyarakat Bali meyakini bahwa pawai ogoh-ogoh bertujuan untuk menetralkan unsur-unsur negatif yang mengganggu keseimbangan alam semesta, sekaligus mempersiapkan diri menyambut Tahun Baru Saka dengan batin yang suci.
Pada awalnya, ogoh-ogoh muncul sebagai hasil kreativitas seni masyarakat setempat secara spontan untuk mengekspresikan ungkapan rasa bakti kepada Tuhan. Sejak tahun 1970 an hingga 1980 an, masyarakat Bali mengarak ogoh-ogoh yang dilaksanakan pada acara Ngerupuk dan mengelilingi desa dengan membawa obor. Proses ini melambangkan keinsyafan manusia meliputi kekuatan Bhuana Agung (alam raya) dan Bhuana Alit (diri manusia) akan kekuatan alam semesta dan waktu. Dalam ajaran Tattwa atau filsafat Hindu, kekuatan ini dapat membawa makhluk hidup, terutama manusia, menuju kebahagiaan atau kehancuran. Hal ini bergantung pada bagaimana manusia mengarahkan dan menggunakan kekuatan tersebut berdasarkan niat serta tujuan yang dimilikinya.
Tidak hanya menggambarkan Bhuta Kala, kini semakin banyak jenis ogoh-ogoh dalam berbagai bentuk seperti Trimurti, wayang, Rama, Hanoman, dan kontemporer. Selain itu, proses pembuatan dan desainnya pun semakin berkembang, dengan penggunaan bahan yang lebih beragam, tidak lagi menggunakan gabus (styrofoam). Perkembangan ini menunjukkan bahwa tradisi Ogoh-Ogoh dapat mengikuti perubahan zaman melalui kreativitas masyarakat, khususnya generasi muda, tanpa harus meninggalkan nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Festival Ogoh-Ogoh ini bukan sekadar karya seni menjelang Hari Raya Nyepi, melainkan bagian dari tradisi yang memiliki banyak nilai budaya dan spiritual bagi masyarakat Bali. Di balik bentuknya yang beragam, terdapat nilai budaya dan filosofi yang diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, menjaga tradisi ogoh-ogoh tidak hanya berarti melestarikan bentuk dan proses pembuatannya, tetapi juga memahami nilai budaya dan spiritual yang terkandung di dalamnya agar tradisi ini tetap dilestarikan. (ACT)
Sumber :
https://prokomsetda.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/pengertian-ogoh-ogoh-dan-fungsinya-97