JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Emas Baru di Langit Malam: Mengapa Raksasa Dunia Berlomba Menambang Bulan

Sumber : nasa.gov

Jurnalikanews – lima dekade lalu Neil Armstrong berhasil menancapkan bendera di Bulan, membawa pulang sampel batuan dari Bulan, kemudian kembali ke Bumi dan misi pun selesai. Saat ini, Bulan bukan lagi tujuan untuk membuktikan siapa yang paling hebat, kuat, dan berani untuk pergi ke tempat asing, melainkan ladang bisnis yang bernilai triliunan dolar.

Selamat datang di “SPACE RACE 2.0”. Jika dulu orang-orang bertanya “Bisakah kita mendarat?”, sekarang pertanyaannya jauh lebih sederhana “Apa yang bisa kita ambil, olah, dan jual dari sana?”. Dulu, ke Bulan hanya bisa dilakukan negara dengan anggaran yang sangat tinggi. Sekarang, Bulan dipandang sebagai pangkalan logistik dan pabrik masa depan. Konsepnya bernama ISRU (In-Situ Resource Utilization), prinsipnya sederhana, yaitu pemanfaatan sumberdaya yang tersedia di lokasi untuk mendukung eksplorasi, alih-alih mengangkut semua perbekalan dari Bumi yang memerlukan biaya sangat tinggi.

Sumber : nasa.gov

Lantas, apa saja yang bisa kita ambil, olah, dan jual dari Bulan? Saat ini, ada beberapa hal berharga yang bisa diambil dan dimanfaatkan, seperti:

  • Es air di kutub selatan

Air di Bulan bukan digunakan untuk diminum, melainkan sebagai bahan bakar roket yang didapat dari proses elektrolisis, air dipecah menjadi hidrogen dan oksigen. Hal ini menjadikan Bulan sebagai pangkalan bahan bakar yang dapat memangkas biaya misi ke Mars hingga lebih dari 90%.

  • Helium-3

Isotop langka di Bumi ini melimpah di Regolit Bulan. Satu ton saja diperkirakan bernilai miliaran dolar karena diproyeksikan menjadi bahan bakar reaktor fusi nuklir sebagai energi masa depan yang bersih dan bebas radiasi.

  • Logam tanah langka

Regolit Bulan selain mengandung helium, juga mengandung titanium, platinum, dan silikon yang merupakan logam yang semakin sedikit dan bernilai tinggi. Logam-logam ini digunakan dalam komponen vital smartphone, baterai EV, hingga teknologi pertahanan.

Pembeda yang paling menonjol dari SPACE RACE 2.0 adalah kehadiran sektor swasta yang bergabung melalui program CLPS (Commercial Lunar Payload Service) milik NASA, nama-nama seperti SpaceX, Blue Origin, dan Intuitive Machines berlomba membangun ekosistem baru. Munculnya nama-nama baru ini kemudian melahirkan istilah “Ekonomi Cislunar” yaitu semua bisnis di ruang antara Bumi dan Bulan, seperti kargo Antariksa, jaringan seluler Bulan, hingga robot tambang otonom.

Dari semua keuntungan yang didapat munculnya masalah tetap tidak terhindarkan. Masalah utamanya Adalah siapa pemilik dari Bulan? hal ini menjadi semakin rumit setelah Outer Space Treaty 1967 melarang negara mengklaim kedaulatan atas Bulan, tetapi tidak melarang perusahaan swasta mengambil dan menjual sumber dayanya. Celah hukum ini memicu kompetisi regulasi antara blok Artemis Accord (AS) dan ILRS (Tiongkok-Rusia).

SPACE RACE 2.0 bukan tentang siapa paling cepat menancapkan bendera. Ini tentang siapa yang berhasil membangun ekonomi mandiri pertama di luar Bumi. Pemenangnya tidak hanya menguasai pasar Bulan, mereka juga memegang kunci gerbang menuju Tata Surya. (IH)

Sumber:

https://www.nasa.gov/artemis-accords/?hl=id-ID

https://www.nasa.gov/wpcontent/uploads/2020/12/artemis_plan20200921.pdf?emrc=f43185?hl=id-ID

https://www.science.org/doi/10.1126/science.1186986

https://www.unoosa.org/unoosa/en/ourwork/spacelaw/treaties/outerspacetreaty.html