JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Hadirnya Mobil Listrik: Solusi Atau Ancaman Lingkungan?

Sumber : kompasiana.com

Jurnalikanews – Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) adalah kendaraan
yang menggunakan motor listrik dan ditenagai oleh baterai, salah satu contohnya yaitu mobil
listrik. KBLBB sendiri merupakan bagian dari strategi pemerintah Indonesia untuk
mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM), mengurangi polusi, dan beralih ke energi
yang lebih ramah lingkungan. Namun, di balik citra ramah lingkungan itu, apakah kendaraan
listrik benar-benar menjadi solusi bagi lingkungan atau justru menimbulkan persoalan baru?
Di Indonesia, mobil listrik terus mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun
terakhir. Dikutip dari Kompas.com, yang merujuk pada data Gabungan Industri Kendaraan
Bermotor Indonesia (Gaikindo), pangsa Battery Electric Vehicle (BEV) selama periode
Januari–September 2025 tembus hingga 9,8 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa
penggunaan kendaraan listrik di Indonesia berpotensi terus meningkat seiring berjalannya
waktu.
Mobil listrik memiliki keunggulan yang signifikan dibandingkan dengan mobil yang
berbahan bakar fosil. Mobil listrik tidak menghasilkan emisi langsung saat digunakan.
Sebaliknya, mobil konvensional akan menghasilkan emisi gas buang seperti karbon dioksida
(CO₂), nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC) dan partikel
halus (PM2.5) saat mesinnya beroperasi. Emisi tersebut tentu berkontribusi terhadap polusi
udara dan perubahan iklim. Dalam jangka pendek, mobil listrik justru membuat udara kota
jauh lebih bersih, risiko penyakit pernapasan menurun dan berkurangnya polusi suara.
Di sisi lain, ada aspek penting yang seringkali terabaikan, yaitu dampak jangka panjang
terhadap lingkungan dari produksi baterai mobil listrik dan juga limbah dari baterai tersebut.
Penambangan litium, nikel, dan kobalt untuk produksi baterai berpotensi mencemari tanah
dan air. Selain itu sebagian besar mobil listrik saat ini menggunakan Baterai Lithium-ion, di
mana rata-rata baterai ini memiliki siklus hidup 8–15 tahun. Ketika masa pakainya habis,
performanya akan turun dan tidak lagi optimal sehingga baterai akan menjadi limbah B3
(Bahan Berbahaya dan Beracun) yang tentunya mengandung logam berat dan sulit terurai.
Sayangnya, infrastruktur dan penanganan limbah baterai di Indonesia masih terbatas dan
belum memadai. Jika penggunaan mobil listrik terus meningkat, kemungkinan di masa depan
akan muncul “tsunami limbah baterai” yang bisa menjadi persoalan ekologis.

Dapat disimpulkan bahwa dari perspektif lingkungan, mobil listrik menawarkan solusi yang
lebih berkelanjutan daripada mobil konvensional. Namun, penting untuk terus meningkatkan
proses pengolahan limbah atau pemusnahan baterai mobil listrik untuk memastikan bahwa
dampaknya tidak mengancam lingkungan. (DA)

Referensi:
Gaikindo: Pangsa Pasar Mobil Listrik Tembus 10 Persen Tahun Ini
https://otomotif.kompas.com/read/2025/11/08/150100615/gaikindo–pangsa-pasar-mobil-
listrik-tembus-10-persen-tahun-ini.
Penggunaan Kendaraan Listrik dari Perspektif Kesehatan dan Lingkungan
https://share.google/dd0dPslo9zXrQmGvC
Apakah Mobil Listrik Benar-benar Lebih Baik untuk Lingkungan? | kumparan.com
https://share.google/aR3atyUUA5Zwtpm0X