JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Artikel Gaya Hidup Recent Update Saduran

Beredar Gambar Wilayah Hutan Kalimantan yang Semakin Menyusut, Apakah Benar Seperti Itu?

Sumber : unggahan Facebook Ahmad Turamsili

Jurnalikanews – Terdapat unggahan gambar di sosial media Facebook berupa gambar peta wilayah hutan Kalimantan, yang terlihat pada gambar tersebut semakin menyusutnya hutan Kalimantan dari tahun ke tahun. Gambar tersebut bisa kalian jumpai pada salah satu akun Facebook, dengan akun atas nama Ahmad Turamsili pada Sabtu (16/1/2021).

Dalam gambar tersebut kalian bisa melihat kondisi dari hutan Kalimantan sejak tahun 1950 sampai 2020. Pada tahun 1950 pulau Kalimantan terlihat gambar hijau tua (hutan) yang mendominasi sebagian besar pulau kalimantan, kemudian dari tahun ketahun gambar hijau tua (hutan) itu semakin mengecil.

Penyebab terjadinya banjir yang melanda wilayah Kalimantan Selatan pada awal tahun 2021 dikaitkan dengan penggundulan hutan di pulau tersebut, yang menyebabkan sekitar lebih dari 20.000 warga diharuskan mengungsi.

Thomas Djamaluddin merupakan seorang Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengatakan bahwa gambar yang tersebar di sosial media tersebut bukan berasal dari hasil penginderaan jauh LAPAN. Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh telah melakukan analisis deforestasi dan menurutnya hasilnya tidak separah pada unggahan gambar yang beredar.

“Data yang diperoleh LAPAN bersama Kementerian Kehutanan dan mitra lainnya, deforestasi tahun 2000 dan 2010 tidak se-ekstrim gambar yang beredar di medsos,” ucap Thomas, pada Sabtu (16/1/2021). Thomas juga memberikan gambar citra satelit pulau Kalimantan dari tahun 2000 sampai 2012.

Sumber : wilayah hutan Kalimantan versi LAPAN

Pada warna hijau tua (hutan) yang menggambarkan wilayah hutan yang masih utuh, sedangkan pada warna yang lebih muda menggambarkan area hutan yang sudah hilang. Thomas juga menambahkan untuk tahun 2020 LAPAN belum melakukan analisis terhadap deforestasi pada wilayah pulau Kalimantan.

Dikutip pada laporan Ringkasan Eksekutif, Program Penginderaan Jauh INCAS: Metodologi dan Hasil yang dipublikasikan pada Juni tahun 2014 oleh LAPAN, tercatat terjadinya penyusutan dan penambahan hutan pada periode 2000 sampai 2012 pada pulau Kalimantan.

Pada gambar di bawah ini didapatkan dari Program Penginderaan Jauh INCAS. Pada gambar daerah yang berwarna hijau tua (hutan) merupakan tutupan hutan dari tahun 2000 sampai tahun 2012, pada warna merah menunjukkan penyusutan hutan antara tahun 2000 hingga tahun 2012 dan pada warna kuning menunjukkan penambahan hutan pada periode yang sama.

Sumber : peta tutupan dan perubahan hutan di Kalimantan tahun 2000-2012 (LAPAN)

Thomas Djamaluddin selaku kepala LAPAN mengatakan, dari peta diatas dapat diketahui pada periode tersebut terjadinya penyusutan hutan tetapi pada saat yang bersamaan terjadi penambahan hutan di beberapa titik.

“Itu menunjukkan ada deforestasi, tetapi ada juga penambahan di beberapa titik”, ucap Thomas Djamaluddin.

Sementara itu, Jefri Raharja selaku Manager Kampanye Walhi Kalsel mengatakan bahwa banjir di Kalimantan Selatan pada tahun ini lebih parah daripada tahun sebelumnya. Selain faktor dari curah hujan yang tinggi, faktor bencana ekologi yang terjadi di Kalimantan dan juga terjadinya pembukaan lahan secara terus menerus terutama untuk perkebunan sawit.

“Antara 2009 sampai 2011 terjadi peningkatan luas perkebunan sebesar 14 persen dan terus meningkat di tahun berikutnya sebesar 72 persen dalam 5 tahun,” ujarnya.

“Sedangkan untuk tambang, bukaan lahan meningkat sebesar 13 persen hanya 2 tahun. Luas bukaan tambang pada 2013 ialah 54.238 hektar,” imbuhnya lagi.

Pihak mereka sangat menyayangkan kondisi hutan Kalimantan yang kini dari tahun ke tahun menjadi lahan perkebunan. Pembukaan lahan ini juga mendorong laju perubahan iklim global. Perluasan lahan secara terus menerus menurut Jefri akan memperparah kondisi cuaca yang menjadi ekstrim.

“Kalimantan yang dulu bangga dengan hutannya, kini hutan itu telah berubah menjadi perkebunan monokultur sawit dan tambang batu bara,” ucapnya.

“Akhirnya juga mempengaruhi dan memperparah kondisi ekstrim cuaca, baik itu musim kemarau dan musim penghujan,” ucap Jefri. (AJ)

Referensi

Kompas.com

Tinggalkan Balasan