JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Artikel Hiburan Recent Update Travel

“Laut Terbelah Dua” di Bima

Sumber : Dokumentasi Pribadi

Jurnalikanews- Pesona keindahan alam Indonesia bagian timur patut diacungi jempol, salah satunya yaitu Pantai Lariti yang terletak di Desa Soro, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Pantai cantik ini tidak jauh dari Pelabuhan Sape yang menghubungkan antara Pulau Sumbawa dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Akses jalan menuju objek wisata ini sangat mudah, dari Kota Bima hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam dengan menggunakan kendaraan mobil atau motor.

Pantai ini mempunyai fenomena unik yaitu terbelah menjadi dua saat air surut, hal ini membuat kita mengingat pada kisah Nabi Musa saat dikejar oleh pengikut Firaun. Di tengah lautannya akan membentang sebuah jalan panjang yang menghubungkan daratan dengan sebuah pulau kecil di seberangnya. Hamparan pasir putih yang membelah seolah-olah menyambut kita untuk menyeberang.

Fenomena Pantai Lariti ini tidak dapat dipastikan dengan tepat kapan kemunculannya, karena kemunculan daratan ini tergantung dari pergeseran gara gravitasi bulan dan arah terbit bulan yang menentukan pasang surut air di pantai ini, serta berpatokan pada penanggalan hijriah. Namun biasanya, daratan selebar 20 meter ini akan membelah pada pukul 05.00-07.00 dan pukul 15.00-19.00.

Laut di area Pantai Lariti tidak begitu dalam dengan ombak pantai yang tidak begitu besar, serta air yang jernih ditambah pemandangan yang rupawan, sangatlah cocok sebagai destinasi liburan pada akhir pekan. Selain keindahan pantainya, disini kita dapat menemukan aneka olahan seafood yang menggugah selera atau kita dapat menyewa perahu untuk berkeliling di sekitar pantai ini.

Dengan fasilitas yang cukup memadai, wisata ini menawarkan tiket masuk sebesar Rp. 5.000 perorang sudah termasuk sewa parkir motor, mobil, atau sampan. Waktu operasi pantai ini tidak dibuka selama 24 jam, melainkan hanya dibuka pada pukul 07.00-17.00 WITA.

Sebelum dikenal sebagai Pantai Lariti, pantai ini dikenal dengan nama Pantai Lampa Jara atau Jalanan Kuda. Sebab, jaman dahulu pantai ini digunakan untuk pelepasan kuda termasuk kuda milik para sultan dari Kerajaan Bima. (NWF)

Tinggalkan Balasan