COVID–19 Belum Usai, Virus Nipah Mulai Mengintai

Sumber : https://virily.com/beauty-health/deadly-and-infectious-nipah-virus-4-districts-of-kerala-affected/

Jurnalikanews – Hampir satu tahun sudah, seluruh dunia diselimuti oleh duka Virus Corona. Sudah jutaan manusia yang terinfeksi dan sudah banyak keluarga yang kehilangan orang terkasih karena pandemi ini. Di Indonesia, terhitung sampai 7 Februari 2021 kasus terinfeksi Virus Covid–19 mencapai 1.157.837 jiwa, sungguh angka yang luar biasa. Angka tersebut mungkin masih dapat terus bertambah.

Belum selesai kasus pandemi Covid–19 ini, sekarang sudah teridentifikasi kembali virus baru yang bernama Virus Nipah. Virus Nipah adalah penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, dan bisa juga ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi atau langsung dari orang ke orang. Virus Nipah pernah menyebabkan beberapa wabah di Asia, virus ini menginfeksi berbagai macam hewan dan menyebabkan penyakit parah dan kematian pada manusia.

Virus Nipah ini bisa saja menjadi pandemi kedepannya, seperti Virus Corona yang sedang kita hadapi saat ini. Alasannya ialah karena Virus Nipah masuk kedalam 10 besar patogen yang paling mengancam kesehatan manusia dan berpotensi menjadi pandemi dan tentu saja penyakit ini belum ditemukan obat maupun vaksinnya. Karena sejumlah wabah sudah terjadi di Asia, kemungkinan besar kita masih akan menemuinya di masa depan.

Dikutip dari kompas.com, ada beberapa alasan yang membuat Virus Nipah begitu mengancam. Periode inkubasi lama (dilaporkan hingga 45 hari, dalam satu kasus) berarti ada banyak kesempatan bagi inang yang terinfeksi, tidak menyadari bahwa mereka sakit, untuk menyebarkannya. Dapat menginfeksi banyak jenis hewan, menambah kemungkinan penyebarannya. Dapat juga menular melalui kontak langsung maupun konsumsi makanan yang terkontaminasi. Gejala yang ditimbulkan ketika seseorang sudah terjangkit atau terinfeksi Virus Nipah hampir mirip ketika dengan gejala Virus Covid–19 yaitu demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan nyeri otot.

Virus Nipah pernah terjadi di Malaysia tahun 1998 dan India pada 2018. Dilansir laman resmi WHO, orang yang terinfeksi Virus Nipah mengalami berbagai penyakit infeksi asimtomatik hingga infeksi saluran pernapasan akut (ringan, parah), dan ensefalitis yang fatal. Orang yang terinfeksi awal mengalami: Demam, sakit kepala, mialgia (nyeriotot), muntah, dan sakit tenggorokan. Kondisi ini dapat disertai pusing, mengantuk, kesadaran yang berubah, dan tanda-tanda neurologis yang mengindikasikan ensefalitis akut. Beberapa orang juga dapat mengalami pneumonia atipikal dan masalah pernapasan yang parah, termasuk gangguan pernapasan akut. Ensefalitis dan kejang terjadi pada kasus yang parah, berkembang menjadi koma dalam waktu 24 hingga 48 jam. Kebanyakan orang yang selamat dari ensefalitis akut sembuh total, tetapi kondisi neurologis jangka panjang telah dilaporkan terjadi pada mereka yang selamat. Sekitar 20 persen pasien mengalami konsekuensi neurologis residual seperti gangguan kejang dan perubahan kepribadian. Sejumlah kecil orang yang sembuh kemudian kambuh atau mengembangkan ensefalitis onset tertunda.

Sumber : https://zeenews.india.com/health/how-nipah-infection-is-different-from-swine-flu-bird-flu-2209628

Jalur penularan virus ini yaitu melalui kontak dengan kelelawar. “Setiap interaksi manusia dengan kelelawar dapat dianggap sebagai interaksi berisiko tinggi,” menurut Veasna Duong, kepala unit virologi di Laboratorium Penelitian Institut Pasteur di Phnom Penh dan kolega Wacharapluesadee. “Paparan seperti ini dapat menyebabkan virus bermutasi, yang dapat menyebabkan pandemi,” kata Duong. Misalnya di Pasar Battambang, kota di Sungai Sangkae di barat laut Kamboja. Ribuan kelelawar buah hinggap di pepohonan sekitar pasar, berak dan kencing pada apapun yang lewat di bawahnya. Bila diamati dari dekat, atap kios-kios di pasar penuh dengan tahi kelelawar. “Manusia dan anjing liar berjalan di bawah sarang-sarang, terpapar urine kelelawar setiap hari,” kata Duong. Selain itu, buah yang terkontaminasi kelelawar buah juga berpotensi menularkan virus. (RI)

Tinggalkan Balasan