JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

AKA Hari Ini Recent Update

PENGOLAHAN LIMBAH POLITEKNIK AKA BOGOR

IMG20170913113939      Jurnalikanews- Politeknik AKA Bogor adalah perguruan tinggi yang begerak di bidang kimia analisis. Oleh karenanya, terdapat laboratorium-laboratorium yang digunakan untuk menunjang akademik dan prestasi para mahasiswanya. Lab yang terdapat di Politeknik AKA Bogor pastinya akan menghasilkan output, salah satunya berupa limbah.

       Mungkin sebagian dari kita masih bingung, berapa banyak limbah yang dihasilkan dan bagaimana cara pengolahan limbah dari berbagai Lab di Politeknik AKA Bogor ini. Seperti yang diungkapkan oleh ibu Nurdiani, M.Si, selaku Kepala Lab Lingkungan, terkait berapa banyak limbah yang dihasilkan, bisa dibilang berada dalam intensitas aliran sedang karena sebenarnya dalam pengolahannya sendiri bersifat kontinyu atau terus menerus tanpa mempertimbangkan berapa limbah yang dihasilkan. Nantinya limbah tersebut dialirkan pada penampung sebesar 5m³ dan volume penampungan tersebut sudah memenuhi limbah dari segala lab yang ada, mulai dari lab lingkungan, lab analitik, lab instrumen, lab mikro, dan lab uji. Jadi, bisa dibilang terdapat 5 lab yang semuanya masuk pada IPAL di belakang lab lingkungan. Meskipun dengan volume yang belum terlalu besar, tapi kapasitas limbah dari semua lab bisa terpenuhi untuk kebutuhan pengolahan limbah dari semua lab.

     Diantara limbah padat dan cair mana yang lebih banyak dihasilkan?, “Yang paling banyak dihasilkan adalah limbah cair, karena dalam praktikum sendiri banyak menggunakan bahan kimia, kalaupun ada bahan padat, misal alat alat antiseptic dari lab mikro itu biasanya langsung di masukkan pada insenerator (dibakar) lalu di padatkan”, ujar ibu Nurdiani, ketika ditemui di kantornya pada rabu (13/09).

       Dalam pengolahannya pun antara limbah cair dan padat juga dipisahkan. Pengolahannya sendiri dilakukan setiap hari serta terus-menerus dengan sistem yang otomatis. Selain itu, juga ada pemeriksaan berkala setiap akhir pekan terkait volume, dsb. Penanggung jawab nya sendiri adalah bapak Fernandi (teknisi laboran lingkungan). Salah satu contoh pengecekan misalnya apakah masih terdapat koagulan yang tersisa atau tidak, dsb. Terdapat beberapa parameter pemeriksaan, misalnya parameter fisik dan parameter kimia. Pemeriksaan sendiri dilakukan pada saat akhir pekan atau libur praktek. Hal tersebut bertujuan untuk mengevaluasi apakah dosis koagulan dan flokulannya masih memenuhi atau tidak, apakah harus ditambah dosisnya atau harus dikurangi dengan mengukur nilai KOB, KOK, kemudian parameter-parameter fisik dan kimia lainnya.

       Biasanya, mahasiswa program studi Pengolahan Limbah Industri (PLI) juga turut membantu dalam pengukuran evaluasi tersebut. Diantara semua lab yang menghasilkan limbah, lab analitik yang paling banyak menghasilkan limbah. Hal tersebut karena pada lab ini banyak menggunakan reagen-reagen bahan organik. Lab analitik sendiri terdiri dari dua lab, dan bahan-bahan organik inilah yang dapat mencemari lingkungan.

     Di lab lingkungan sendiri lebih banyak mengolah dari pada menghasilkan limbah. Nah, terkait mekanismenya, pembuangan dari semua lab dihubungkan oleh instalasi-instalasi yang saling berhubungan, mulai dari lab mikro, lab uji, dsb. Terdapat 2 saluran yang disediakan, yaitu saluran limbah B3 dan bukan limbah B3. Pengolahan bukan limbah B3 lebih ringan di antara dosis koagulan-nya dibandingkan limbah B3. Semua proses kontinyu termasuk dalam pembuangannya, mulai dari bak equalisasi / penampungan kemudian dialirakan ke bak koagulasi lalu flokulasi dan terus berlanjut sehingga nanti outputnya dalam bentuk yang diharapkan kandungan pada limbah tersebut sudah ramah lingkungan ketika dilepas ke sungai (lingkungan).

      Pada saat perkuliahan atau praktek libur maka sistem dimatikan lalu di evaluasi dengan mengukur parameter kimia yang signifikan. Misal, parameter KOK dan KOB, serta parameter fisik lainnya seperti pH, suhu, warna, dan Bau. Jika mengalami peningkatan, maka dosis juga perlu ditingkatkan dengan cara di tes jar test  terlebih dahulu. Tes tersebut bertujuan untuk mengukur seberapa besar proses koagulan yang dibutuhkan. Apabila jar test menunjukkan hasil peningkatan maka perlu adanya penambahan untuk praktikum-praktikum yang akan datang atau semester berikutnya, mengacu dari output yang dihasilkan oleh masing-masing lab. Setiap tahun, terdapat peningkatan dalam pengolahan limbah tersebut. (why/vie/caam)IMG20170913113301