JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Viral Belum Tentu Diingat: Tantangan UMKM di Tengah Banjir Konten

Sumber : pexels.com

Jurnalikanews – Ramadan 2026 menjadi salah satu bulan yang ramai bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memasarkan produknya melalui platform TikTok. Menurut pemberitaan Medcom.id (14 Maret 2026), hampir 13 juta video pendek diunggah oleh kreator dan penjual pada minggu pertama Ramadan. Pada bulan tersebut, Sajodo Snack & Food asal Tasikmalaya mengaku mengalami peningkatan penjualan hingga tiga kali lipat melalui TikTok Shop by Tokopedia. Sementara itu, UNERD Footwear asal Pasuruan mencatat jumlah pesanan lebih dari dua kali lipat dibandingkan bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Meski demikian, peningkatan penjualan akibat konten viral belum tentu membuat suatu merek terus diingat oleh konsumen.

Viral dan diingat merupakan dua kondisi yang berbeda. Konten viral menunjukkan besarnya perhatian terhadap suatu produk dalam waktu singkat, sedangkan kesadaran merek berkaitan dengan kemampuan konsumen mengenali dan mengingat suatu merek ketika akan melakukan pembelian. Sajodo, misalnya, tidak hanya memanfaatkan iklan berbayar, tetapi juga rutin menampilkan proses produksi dan perjalanan usahanya melalui TikTok sejak awal berdiri. Strategi tersebut memberikan informasi yang lebih lengkap kepada calon konsumen sehingga pengenalan terhadap merek tidak hanya bergantung pada satu konten yang sedang ramai (Ramadhan, 2026).

Persaingan di pasar digital turut memperbesar kebutuhan pelaku usaha untuk membangun identitas merek. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat jumlah penggunaan internet di Indonesia mencapai 215,63 juta orang pada periode 2022 hingga 2023. Sementara itu, Bank Indonesia mencatat nilai transaksi perdagangan elektronik (e-commerce) pada tahun 2022 mencapai Rp476,3 triliun (Rizanty, 2023). Besarnya potensi pasar tersebut juga diikuti semakin banyaknya pilihan produk dan penjual. Akibatnya, pelakuusaha perlu membangun identitas merek yang kuat agar produknya lebih mudah dikenali dan dipertimbangkan oleh konsumen. 

Hubungan antara strategi viral dan keputusan pembelian ini diteliti pada GnJ Store, toko daring pakaian ibu dan anak perempuan di Jakarta. Penelitian Putri dan Silvianita (2024) dalam Jurnal E-Bis melibatkan 115 konsumen yang pernah berbelanja melalui TikTok. Hasilnya menunjukkan bahwa viral marketing dan kesadaran merek memberikan pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian dengan nilai pengaruh sebesar 62%. Temuan ini memperlihatkan bahwa popularitas konten dan pengenalan merek dapat berperan mendorong keputusan konsumen untuk membeli produk melalui platform digital.

Namun, tingginya popularitas belum tentu sejalan dengan kuatnya ingatan konsumen terhadap suatu merek. Dalam penelitian yang sama, skor terendah pada indikator brand recall ditemukan pada kemampuan konsumen yang menyebutkan GnJ Store secara spontan ketika ditanya mengenai busana ibu dan anak, yaitu sekitar 87,48%. Meskipun masih termasuk kategori sangat baik, peneliti menduga konsumen belum tentu mengingat merek tersebut secara spontan tanpa adanya pemicu. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan pembelian suatu merek sedang populer tidak serta-merta menjamin konsumen akan mengingatnya ketika membutuhkan produk serupa di kemudian hari (Putri & Silvianita, 2024). 

Sumber: stockcake.com

Selain kesadaran merek, kemampuan mempertahankan konsumen juga berkaitan dengan loyalitas. Hal ini dibahas dalam penelitian Salsabila dan Indrawati (2022) dalam jurnal Inspirasi Bisnis dan Manajemen mengenai produk lokal UMKM di Shopee. Penelitian tersebut melibatkan 275 responden mengenai produk lokal melalui aplikasi Shopee. Hasilnya menunjukkan bahwa aktivitas pemasaran melalui media sosial berpengaruh positif secara signifikan terhadap tiga dimensi ekuitas pelanggan, yaitu nilai produk, ekuitas merek, dan ekuitas hubungan. Ketiganya juga berpengaruh positif signifikan terhadap loyalitas pelanggan.

Penelitian tersebut turut mencatat aspek yang masih dapat ditingkatkan. Pernyataan bahwa produk lokal UMKM di Shopee menjadi pilihan pertama konsumen memperoleh skor 76,44% dan termasuk kategori baik. Selain itu, pada aspek kelengkapan informasi produk, sebanyak 117 dari 275 responden menyatakan sikap netral. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian konsumen belum sepenuhnya memberikan penilaian positif terhadap kelengkapan informasi yang tersedia. Padahal, dalam transaksi daring, konsumen tidak dapat melihat dan menyentuh produk secara langsung sebelum melakukan pembelian (Salsabila & Indrawati, 2022).

Berdasarkan temuan tersebut, peneliti GnJ Store menyarankan kegiatan promosi seperti giveaway, penayangan iklan secara konsisten di media sosial, serta survei pelanggan untuk mengevaluasi layanan sebelum dan sesudah pembelian. Sementara itu, penelitian mengenai produk lokal UMKM di Shopee menyarankan pelaku usaha melengkapi informasi produk melalui fitur Shopee Feed dan meningkatkan interaksi dua arah dengan pelanggan. Meski demikian, hasil penelitian perlu dipahami sesuai cakupannya, sedangkan peningkatan penjualan Sajodo dan UNERD merupakan pengakuan pelaku usaha dalam pemberitaan media.

Dengan demikian, konten viral dapat menjadi sarana memperkenalkan produk dan mendorong penjualan UMKM. Namun, keberlanjutan usaha juga bergantung pada kemampuan membangun kesadaran merek dan mempertahankan kepercayaan konsumen. Informasi produk yang lengkap, interaksi yang konsisten, serta identitas merek yang jelas menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Strategi menarik perhatian melalui media sosial perlu diimbangi dengan upaya membangun hubungan jangka panjang bersama pelanggan agar peluang pembelian berulang dapat terus terjaga. (IDH) 

Referensi:

Putri, F. E., & Silvianita, A. (2024). Viral marketing dan brand awareness terhadap keputusan pembelian konsumen GnJ Store di Jakarta. Jurnal E-Bis, 8(1), 310–320. https://doi.org/10.37339/e-bis.v8i1.1623

Ramadhan, M. S. (2026, 14 Maret). Gunakan strategi digital, UMKM lokal raih lonjakan penjualan di TikTok selama Ramadan 2026. Medcom.id. https://www.medcom.id/ekonomi/bisnis/4ba1oZ2b-gunakan-strategi-digital-umkm-lokal-raih-lonjakan-penjualan-di-tiktok-selama-ramadan-2026

Sadya, S. (2023, 9 Maret). APJII: Pengguna internet Indonesia 215,63 juta pada 2022–2023. DataIndonesia.id. https://dataindonesia.id/internet/detail/apjii-pengguna-internet-indonesia-21563-juta-pada-20222023

Salsabila, N. S., & Indrawati. (2022). Pengaruh social media marketing activities terhadap loyalitas pelanggan pada produk lokal UMKM di aplikasi Shopee. Jurnal Inspirasi Bisnis dan Manajemen, 6(1), 83–100. https://doi.org/10.33603/jibm.v6i1.6802

Tonce, D. D. (2023, 20 Januari). Transaksi e-commerce 2022 di bawah target, mulai balik ke offline? Bisnis.com. https://ekonomi.bisnis.com/read/20230120/12/1620059/transaksi-e-commerce-2022-di-bawah-target-mulai-balik-ke-offline