JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Sumber : CNBC Indonesia

Jurnalikanews – Partikel aneh yang tidak bermassa, tidak bermuatan, dan hampir tidak pernah berinteraksi dengan materi biasa, partikel itu yang diberi julukan “Partikel Hantu” atau sering dikenal sebagai Neutrino. Neutrino tidak memiliki massa atau massanya jauh lebih kecil dibandingkan elektron, tidak memiliki muatan listrik dan tidak terpengaruh oleh medan magnet, serta memiliki interaksi yang lemah dengan partikel biasa sehingga sulit untuk ditangkap.

Neutrino diduga berasal dari beberapa fenomena, seperti reaksi fusi nuklir di inti matahari atau ledakan supernova dari bintang yang mati. Selain itu, dugaan lain juga mengatakan bahwa sebagian besar Neutrino yang berada di alam semesta berasal dari alam semesta purba. Dugaan terakhir, yaitu bahwa Neutrino berasal dari tabrakan sinar kosmik ke molekul gas atmosfer bumi dan menghasilkan pancaran partikel baru.

Neutrino lahir dari sebuah gagasan bahwa ada sebuah partikel yang “mencuri” atau membawa sebagian energi pada saat pemecahan atom. Semua bermula pada saat para ilmuwan yang sedang mengamati peluruhan radioaktif beta merasa kebingungan akibat adanya energi yang “hilang” saat peluruhan atau pemecahan atom. Berdasarkan, hukum kekekalan energi yang dipercayai, energi tidak dapat menghilang atau diciptakan dan hanya dapat diubah saja.

Pada tahun 1930, Wolfgang Pauli yang mendengar fenomena tersebut mencoba mencari tahu kebenarannya, Ia menuliskan surat kepada rekan-rekan penelitinya, di dalam surat tersebut berisi gagassan bahwa adanya suatu partikel misterius yang tidak dapat dideteksi dan membawa pergi energi yang hilang tersebut. Teori itu dibuat sebagai “solusi putus asa” untuk menjelaskan kehilangan energi pada peluruhan beta.

Pada awalnya, Wolfgang Pauli memberi nama partikel hantu tersebut sebagai neutron, akan tetapi tidak lama peneliti lain bernama James Chadwick menemukan partikel atom besar yang bermuatan netral yang diberi nama neutron. Pemberian nama neutrino sendiri berasal dari ilmuwan Italia bernama Enrico Fermi (1934) yang pada saat itu juga meneliti tentang peluruhan beta, ia memberi nama partikel tersebut sebagai Neutrino yang dalam bahasa Italia bermakna “si kecil yang netral”.

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan berusaha membuktikan keberadaan partikel tersebut. Hingga pada tahun 1956, dua fisikawan asal Amerika Serikat bernama Clyde Cowan dan Frederick Reines berhasil menangkap sinyal interaksi Neutrino pertama kalinya lewat proyek Poltergeist. Mereka mengirimkan pesan kepada Wolfgang Pauli yang berisi, “Kami dengan gembira mengabarkan bahwa kami telah mendeteksi Neutrino secara pasti,” (All Things Neutrino, 2026).

Penelitian tentang Neutrino masih terus belanjut, bahkan bertahun-tahun setelah Neutrino pertama yang berhasil dideteksi, para ilmuwan dari berbagai belahan lomba mendeteksi Neutrino dengan berbagai cara baru. Tahun 1998, Super-Kamiokande dari Jepang berhasil menemukan fenomena osilasi neutrino yang berhasil membuktikan bahwa Neutrino memiliki massa dan mematahkan asumsi awal yang menyatakan bahwa neutrino tidak memiliki massa (Kajita, T., 2010).

 

Sumber : Science Facts

Seiring perkembangan teknologi, ilmuwan menemukan tiga jenis (flavour) Neutrino yang berbeda. Dalam Model Standar Fisika, masing-masing ketiga jenis partikel Neutrino berpasangan dengan lepton bermuatan, yakni Neutrino elektron yang terbentuk dari reaksi nuklir, Neutrino muon yang terbentuk saat sinar kosmik menabrak atmosfer bumi, dan Neutrino tau yang terbentuk dari tumbukan atau akselarasi partikel.

Ketiga jenis Neutrino ini dapat saling berubah dari satu jenis ke jenis yang lain melalui fenomena osilasi. Osilasi dapat terjadi ketika perbedaan antara keadaan rasa (flavor) dan keadaan massa dari Neutrino saat bergerak melintasi ruang angkasa mengalami pergeseran gelombang massa. Fenomena ini mirip seperti kombinasi gelombang suara yang menghasilkan ketukan baru dari perbedaan frekuensi yang sangat tipis.

Penemuan partikel Neutrino yang terbaru oleh Francis Halzen (2026), yang berhasil mendeteksi partikel Neutrino dengan menanamkan detektor partikel IceCube ke dalam lapisan es Antartika, tepatnya di Kutub Selatan (CNBC, 2026). Penemuan tersebut, menjadi pembuka era baru dalam penelitian sains luar angkasa. Menggunakan partikel Neutrino, peneliti berhasil memetakan Galaksi Bimasakti dan melacak keberadaan lubang hitam yang berjarak miliaran tahun cahaya.

Neutrino juga dapat membantu menjelaskan fenomena Cosmic Neutrino Background (CNB), yakni sebuah lautan neutrino purba yang dilepaskan pada saat terjadi big bang. Jika, ilmuwan berhasil memetakan CNB, maka manusia dapat melihat kondisi awal pada detik-detik pertama saat alam semesta terbentuk. Misteri mengapa alam semesta didominasi oleh materi dan menghilangnya antimateri pun, kemungkinan dapat diketahui jawabannya.

Penemuan partikel Neutrino tidak berlangsung dalam semalam, banyak fisikawan yang terlibat dalam pengungkapan partikel hantu tersebut. Penemuan Neutrino membuka wawasan baru mengenai sains antariksa, yang dapat membantu manusia mempelajari penciptaan alam semesta dan kondisi saat awal penciptaanya. Sampai saat ini, ilmuwan berbagai negara mencoba mengungkapkan misteri alam semesta dengan bantuan Neutrino. (HRG)

 

Sumber

All Things Neutrino. (2026). The History Of Neutrinos. https://share.google/pEE7tUIZ7sdrJoKyu.

Britannica. (2026). Frederick Reines. https://share.google/Q0qYagqLnrVVb9ksf.

Fermilab. (2026). Neutrinos. https://share.google/kaq7BCDG8kJucSCz1.

Kajita, T., (2010). Atmospheric Neutrinos and Discovery of Neutrino Oscillation. Proceeding of The Japan Academy. Volume 86 (4) : 303-321.

Kok Bisa. (24 Mei 2025). Sang Partikel Hantu yang Bikin Dunia Kita Bisa Ada [Video]. Youtube. https://share.google/YxWdTsjJYbu0jxHFk.

Los Alamos National Laboratory (LANL). (2025). Project Poltergeist. https://share.google/P54vbdjliVpWkDj9R.

T2K. (2021). A Brief History of Neutrinos. https://share.google/nHdvA4RlBvCn7KvfM.

Wikipedia.en. (2026). Neutrinos. https://share.google/R5a438d0NNk6qqXLl.