JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Sweet Trap: Konsumsi Gula Berlebihan dalam Gaya Hidup Modern

Sumber: ayosehat.kemkes.co.id

Jurnalikanews – Bayangkan memulai pagi dengan iced caramel latte, menikmati kukis saat belajar, lalu membeli boba untuk teman makan siang. Kebiasaan ini mungkin terasa biasa di tengah tren minuman dan camilan manis yang semakin populer. Namun, di balik kenikmatannya, ada satu hal yang sering terabaikan: berapa banyak gula yang sebenarnya kita konsumsi setiap hari?

 

Minuman kekinian, kopi dengan berbagai varian rasa, dan aneka makanan manis kini mudah ditemukan. Selain rasanya yang nikmat, popularitas produk-produk tersebut juga didukung oleh kemudahan akses dan tren media sosial. Akibatnya, mengonsumsi makanan dan minuman manis dapat menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari tanpa disadari.

 

Masalahnya bukan dari mengonsumsi makanan manis, tetapi dari frekuensi dan jumlah konsumsinya. Gula dari minuman, sirup, topping, dan camilan dapat terakumulasi sepanjang hari. Tanpa memperhatikan kandungan gula pada tiap produk, bisa saja kita mengonsumsi gula lebih dari batas yang dianjurkan dalam sehari.

 

World health Organization (WHO) merekomendasikan agar konsumsi gula tiap orang per harinya adalah 10% dari total asupan energi harian. Bahkan pengurangan hingga 5% dianjurkan untuk memperoleh manfaat kesehatan tambahan. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menganjurkan konsumsi gula maksimal 50 gram per orang per hari.

 

Konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi. Selain itu, kebiasaan mengonsumsi minuman manis secara berlebihan berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 dan masalah kesehatan metabolik lainnya. Jika asupan energi terus-menerus melebihi kebutuhan tubuh, hal ini juga dapat mengakibatkan kenaikan berat badan.

 

Dampak tersebut tidak muncul hanya karena seseorang mengonsumsi makanan atau minuman manis sesekali. Namun, dapat terjadi jika konsumsi tersebut berlangsung secara terus-menerus. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan pola makanan secara keseluruhan, bukan sekadar menghindari satu jenis makanan.

 

Mengurangi konsumsi gula bukan berarti harus berhenti menikmati makanan manis sepenuhnya. Langkah sederhana, seperti memilih minuman dengan kadar gula lebih rendah (less sugar), mengurangi tambahan sirup, membaca label informasi gizi, dan lebih sering memilih air putih, dapat membantu membatasi asupan gula harian.

 

Pada akhirnya, meningkatnya popularitas makanan dan minuman manis perlu diimbangi dengan kesadaran konsumen. Rasa manis bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya, tetapi jumlah dan frekuensi konsumsinya perlu diperhatikan.

 

Kita mungkin tidak selalu menyadari berapa banyak gula yang masuk ke dalam tubuh setiap hari. Namun, memahami apa yang kita konsumsi merupakan langkah awal menuju kehidupan yang lebih sehat. Sebab, terkadang yang perlu diubah bukanlah makanan yang kita sukai, melainkan cara kita mengonsumsinya. (AHF)

 

Sumber:

https://www.who.int/publications/i/item/9789241549028?utm

https://kemkes.go.id/id/%20cegah-meningkatnya-diabetes-jangan-berlebihan-konsumsi-gula-garam-lemak

https://ayosehat.kemkes.go.id/bahaya-konsumsi-gula-berlebihan