JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026: Antara Optimisme dan Tantangan

sumber : blog.bankmega.com

Jurnalikanews – Dalam beberapa waktu terakhir, kondisi perekonomian Indonesia menjadi salah satu topik yang banyak diperbincangkan oleh masyarakat. Berbagai isu seperti nilai tukar rupiah, kenaikan harga kebutuhan pokok, meningkatnya harga minyak dunia, hingga kondisi  pasar modal menjadi perhatian publik. Masyarakat semakin aktif mengamati dan mengawal perkembangan ekonomi negara karena dampaknya yang langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti daya beli, biaya transportasi, hingga peluang kerja.

 

Di tengah sorotan ini, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61% pada tahun 2026, angka yang menandakan bahwa perekonomian negara terus berkembang. Pertumbuhan ekonomi biasanya merujuk pada peningkatan produksi barang dan jasa, yang akan meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, jika dianalisis lebih lanjut, ada beberapa tantangan yang menghantui perekonomian Indonesia dan berpotensi mempengaruhi pertumbuhan tersebut di masa yang akan datang.

 

Salah satu faktor penyumbang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2026 ini adalah peningkatan belanja negara. Pengeluaran negara sampai dengan Maret 2026 mencapai sekitar Rp815 Triliun atau menunjukkan peningkatan 31,4% dibandingkan tahun sebelumnya (Kemenkeu, 2026). Pertumbuhan pengeluaran pemerintah memang dapat membantu dalam peningkatan konsumsi dan aktivitas ekonomi. Namun, adanya ketergantungan terhadap pengeluaran negara juga mengandung ancaman. Jika kapasitas fiskal negara mulai habis dan efisiensi anggaran harus dilakukan oleh pemerintah, pertumbuhan ekonomi juga akan turut serta melambat.

 

Faktor lain yang juga memberi dampak adalah dari situasi global. Karena kenaikan harga minyak dunia yang mencapai lebih dari 80 USD per barel dan jauh dari asumsi pada APBN yaitu 70 USD per barel (Kompas, 2026), maka beban subsidi yang harus ditanggung oleh pemerintah semakin besar. Hal tersebut membuat beban pengeluaran negara semakin meningkat. Di sisi lain, penurunan nilai tukar rupiah hingga lebih dari Rp17.700 per dolar AS membuat biaya impor menjadi lebih mahal. Kondisi ini berpotensi meningkatkan inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat jika tidak ditangani dengan baik.

 

Selain itu, di samping tantangan jangka pendek yang dihadapi Indonesia dalam pertumbuhan ekonominya, ada pula tantangan struktural yang cukup signifikan, yaitu rendahnya efisiensi investasi. Salah satu parameter yang bisa digunakan untuk mengukur efisiensi investasi adalah Incremental Capital-Output Ratio (ICOR). Semakin besar nilai ICOR maka semakin banyak investasi yang dibutuhkan untuk mendapatkan pertumbuhan ekonomi. Saat ini nilai ICOR Indonesia mencapai 5,79, nilai yang masih bisa dikatakan cukup tinggi bila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam (3,58) dan India (4,56) (Investortrust, 2025). Ini berarti Indonesia memerlukan investasi yang lebih besar untuk menghasilkan output ekonomi yang sama dibandingkan negara-negara tersebut, menandakan efisiensi investasi yang masih rendah.

 

Masalah lain yang juga mendapatkan perhatian adalah subsidi pemerintah yang tidak tepat sasaran. Meski bantuan ini dimaksudkan untuk membantu masyarakat berpendapatan rendah, data-data yang ada malah menunjukkan bahwa bantuan ini lebih banyak dinikmati oleh masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi. Menurut data Badan Pusat Statistik pada tahun 2024, 78,93% dari konsumsi Pertalite dan 67,41% dari LPG 3 kg digunakan oleh rumah tangga kelas menengah atas, bukannya desil 1-4 yang merupakan sasaran penerima manfaatnya. Ini dikarenakan kelompok masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi memiliki konsumsi energi yang lebih besar, seperti jumlah kendaraan pribadi yang lebih banyak. Akibatnya, tujuan subsidi untuk mengurangi kesenjangan sosial menjadi kurang efektif.

 

Berbagai tantangan tersebut berkaitan erat dengan risiko yang disebut middle-income trap. Kondisi ini terjadi ketika suatu negara berhasil keluar dari kategori negara miskin, tetapi mengalami kesulitan untuk bertransformasi menjadi negara maju. Pertumbuhan ekonomi tetap terjadi, namun tidak cukup kuat untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, dan kesejahteraan masyarakat secara signifikan. Oleh karena itu, Indonesia perlu melakukan berbagai reformasi struktural agar tidak terjebak dalam kondisi tersebut.

 

Sebagai contoh, beberapa tindakan yang dapat diambil meliputi peningkatan akurasi dari bantuan sosial dengan memberikan bantuan secara langsung kepada orang-orang yang memerlukan bantuan tersebut, peningkatan rasio pajak, mendukung pendidikan vokasional, mendorong hilirisasi industri, dan juga menekankan investasi di research and development (R&D). Selain itu, hal lain yang sangat penting untuk dilakukan oleh pemerintah adalah konsistensi dalam mengambil kebijakan ekonomi dan komunikasi yang jelas untuk menjaga kepercayaan investor.

 

Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia pada tahun 2026 ini bisa dikatakan relatif stabil dengan pertumbuhan positif. Tetapi, pertumbuhan ekonomi tinggi bukan selalu merupakan cerminan dari daya tahan fundamental dari suatu ekonomi. Dibalik indikator pertumbuhan ekonomi yang baik, masih ada beberapa masalah struktural lainnya seperti ketidakseimbangan dalam pengeluaran pemerintah, efisiensi investasi rendah, dan subsidi yang belum tepat sasaran. Dengan begitu, reformasi menjadi penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia ini bukan hanya kuat tapi juga kokoh dan berkelanjutan di masa depan. (AHF)

 

 

 

Referensi:

https://tradingeconomics.com/indonesia/gdp-growth-annual

https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/berita-utama/Menkeu-Sampaikan-Realisasi-APBN-Hingga-31-Maret

https://investortrust.id/macro/83603/pemerintah-ingin-kejar-icor-rendah-untuk-dapatkan-lompatkan-pertumbuhan-ekonomi

https://nextindonesia.id/Research/2025/08/17/159/Triliunan-Subsidi-Energi-Salah-Sasaran

https://youtu.be/xrRU-XXCLpo?si=Ye49E8qp8VMT3pdm