

Jurnalikanews – Di sebuah kawasan yang jauh dari keramaian kota, di tengah damainya
pepohonan, proses belajar tidak dimulai dengan bunyi lonceng bel atau lonceng sekolah. Anak-
anak belajar sambil bergerak, berbincang, dan mengamati alam di sekitar mereka. Di tempat-
tempat yang jarang tersentuh oleh kebijakan pendidikan itulah, Butet Manurung hadir dan
mengajar mereka dengan caranya sendiri.
Saat sistem pendidikan belum menjangkau semua wilayah dan masih terpusat di kota-kota besar,
Butet Manurung hadir mendatangi mereka yang selama ini hidup di luar jangkauan sistem
pendidikan dan sekolah formal. Menurutnya, pendidikan bagi masyarakat adat bukan semata-
mata agar masyarakat punya banyak uang, tetapi agar lebih memahami dunia. Ia ingin semua
masyarakat adat dapat menjadikan pendidikan sebagai alat mengatasi perubahan.
Pada awalnya, Butet Manurung bergabung dengan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
konservasi dan ditugaskan untuk memfasilitasi pendidikan masyarakat adat di kawasan hutan
Bukit Dua Belas, Jambi. Ia datang bukan sebagai pengajar, melainkan sebagai antropolog yang
melakukan penelitian lapangan dan memberikan rekomendasi pendidikan berdasarkan kondisi
sosial masyarakat setempat.
Namun, proses di lapangan tidak berjalan sesuai rencana. Masyarakat adat yang selama ini hidup
tertutup tidak mudah memercayai orang luar. Setelah berbulan-bulan membangun relasi dan
bolak-balik mendatangi mereka, justru muncul permintaan yang tidak ia duga. Masyarakat adat
meminta agar Butet yang menjadi gurunya.
Meski tidak memiliki latar belakang sebagai guru, ia memilih untuk tidak mundur. Setelah
sekitar tujuh bulan mengalami penolakan dan terus kembali ke komunitas tersebut, Butet merasa
telah memperoleh kepercayaan yang tidak ingin ia sia-siakan. Sejak saat itu, ia mulai belajar
mengajar secara mandiri dan menyesuaikan pendekatan pendidikan dengan kehidupan
masyarakat adat.
Dari proses belajar bersama masyarakat adat inilah pendekatan pendidikan yang kemudian
dikenal sebagai Sokola Rimba mulai terbentuk. Kata “sokola” sendiri berasal dari bahasa
setempat yang berarti tempat belajar, dan sejak awal konsep tersebut dirancang tidak seperti
sekolah formal di kota. Sokola Rimba menggabungkan kebutuhan masyarakat adat dengan cara
belajar yang sesuai dengan kehidupan mereka di hutan Bukit Dua Belas, Jambi. Pembelajaran tidak didominasi oleh silabus baku, tetapi materi seperti membaca, menulis, dan berhitung
disesuaikan dengan konteks kehidupan nyata, seperti memahami hak-hak mereka atau cara
bernegosiasi dalam pasar lokal.
Pendekatan pendidikan yang menghormati budaya lokal inilah yang membuat Sokola Rimba
berbeda dari sekolah konvensional. Butet Manurung dan timnya tidak sekadar mengajar di depan
kelas, mereka tinggal bersama komunitas adat, belajar bahasa lokal, dan memahami tradisi. Cara
ini menjadi sangat penting karena banyak anggota masyarakat adat awalnya skeptis bahkan takut
terhadap pendidikan formal yang dianggap dapat mengikis budaya mereka. Dengan
menghormati kearifan lokal dan menjadikan masyarakat sebagai subjek pembelajaran, Sokola
Rimba berhasil menciptakan ruang pendidikan yang inklusif dan relevan.
Hingga hari ini, Sokola Rimba berkembang menjadi Sokola Institute, menjangkau puluhan
komunitas adat di berbagai wilayah Indonesia. Tidak hanya di Jambi, kegiatan pendidikan yang
digagas Butet kini telah hadir di komunitas adat seperti di Papua, Flores, Halmahera, Sulawesi,
serta sejumlah daerah lain, membantu ribuan warga adat mengakses pendidikan yang selama ini
sulit dijangkau oleh sistem formal. (ZS)
Referensi :
https://www.dw.com/id/mimpi-butet-manurung-untuk-masyarakat-adat-di-indonesia/a-59406373
https://www.unpad.ac.id/2021/03/kisah-butet-manurung-penggagas-sokola-rimba-yang-meraih-
dua-gelar-sarjana-di-unpad/
https://fip.unesa.ac.id/butet-manurung-jejak-dalam-membangun-pendidikan-di-masyarakat-
orang-rimba/
https://m.antaranews.com/berita/407030/anak-rimba-pahlawan-bagi-butet-manurung