

Jurnalikanews – Istilah soft life semakin populer di awal tahun 2026, terutama di kalangan
mahasiswa. Gaya hidup ini muncul sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap ritme
perkuliahan yang padat dan tuntutan untuk selalu tampil produktif. Banyak mahasiswa mulai
menyadari bahwa menjalani hari dengan tekanan berlebihan justru membuat proses belajar
terasa melelahkan dan tidak berkelanjutan.
Penerapan soft life di kalangan mahasiswa terlihat dari cara mereka mengatur aktivitas sehari-
hari. Mereka mulai memilah kegiatan yang benar-benar perlu diikuti, tidak lagi merasa harus
selalu aktif dalam segala hal, serta memberi ruang untuk beristirahat. Pilihan ini bukan berarti
menghindari tanggung jawab, melainkan usaha untuk tetap menjalani perkuliahan dengan
kondisi fisik dan mental yang terjaga.
Gaya hidup ini juga mendorong mahasiswa untuk lebih memperhatikan kebutuhan pribadi.
Waktu luang dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal sederhana yang menyenangkan, seperti
membaca, berjalan santai, atau sekadar menikmati suasana tanpa tuntutan apa pun. Kegiatan-
kegiatan kecil tersebut membantu mahasiswa melepaskan penat dan kembali fokus ketika
menghadapi tugas akademik.
Fenomena soft life ini bukan berarti mahasiswa menjadi kurang berprestasi atau menghindari
tanggung jawab. Gaya hidup ini justru menekankan pentingnya memahami batas kemampuan
diri dan menjalani perkuliahan dengan lebih seimbang. Dengan hidup yang lebih tenang dan
teratur, mahasiswa diharapkan dapat belajar dan berkembang tanpa harus mengorbankan
kesehatan mental mereka. (TB)
Referensi: https://kumparan.com/natalie-clarissa/soft-life-gaya-hidup-baru-gen-z-yang-
menolak-kehidupan-penuh-tekanan-268ci1EA1Zz?utm_source=chatgpt.com