

Jurnalikanews – Avatar: Fire and Ash merupakan seri ketiga dari film Avatar (2009) dan
Avatar: The Way Of Water (2022) yang disutradarai oleh James Cameron, saat ini sedang
menjadi perbincangan di social media. Film ini sudah tayang di Indonesia sejak 17 Desember
2025. Memiliki durasi selama 3 jam 17 menit, lebih lama dibandingkan seri keduanya di
tahun 2022. Menampilkan plot cerita yang lebih luas melalui konflik internal dalam dunia
Pandora, cerita terjadi pada latar waktu tidak lama setelah kejadian tragis di Avatar: The Way
of Water (2022) Jake Sully dan keluarganya masih berduka atas kematian putra sulung
mereka, Neteyam.
Di tengah proses beradaptasi dengan kehidupan bersama klan Metkayina, ancaman baru
mulai muncul dari wilayah vulkanik Pandora Suku Ash (Mangkwan), salah satu kelompok
Na’vi agresif yang hidup di daerah berapi dan memuja api sebagai simbol kekuatan dipimpin
oleh Varang yang menjalin aliansi berbahaya dengan Recom Miles Quaritch serta korporasi
Resources Development Administration (RDA). Berbeda dengan klan Na’vi lain yang hidup
selaras dengan alam, klan ini menolak keberadaan Eywa sebagai dewi yang selama ini
menjadi pusat kepercayaan bangsa Na’vi. Narasi dalam film ini lebih banyak disampaikan
dari sudut pandang Lo’ak putra kedua Jake Sully.
Penonton diajak untuk menjelajahi wilayah baru Pandora, pertemuan dengan klan
pengembara langit yang dikenal sebagai Wind Traders. Film ini juga membuka sisi gelap
peradaban Na’vi, menunjukkan bahwa konflik tidak hanya berasal dari manusia, tetapi juga
muncul dari perbedaan yang terjadi di antara mereka. Konflik memuncak melalui berbagai
adegan aksi intens, salah satunya saat Neytiri melakukan penyelamatan nekat seorang diri di
markas RDA keberanian dan kesetiaan bangsa Na’vi dalam mempertahankan keluarga dan
tanah mereka.
Namun, di sisi lain hal ini berbanding terbalik dengan ulasan yang sudah disampaikan oleh
para kritikus. Dilansir dari cnnindonesia.com, berdasarkan pemberitaan Forbes dan
ScreenRant pada Selasa (16/12), Avatar: Fire and Ash mendapatkan skor 68% dalam
Tomatometer atau Critics Score dari 88 ulasan yang masuk. Salah satunya kritikus Todd
Gilchrist dari ScreenRant yang memberikan nilai 8/10. Gilchrist menilai James Cameron
terlalu banyak mengulang konflik yang sama dari kedua seri film sebelumnya.
Angka 68% untuk film Avatar: Fire and Ash masih tetap seiring bertambahnya ulasan,
hingga kurang lebih bisa dipastikan Fire and Ash resmi menjadi film dengan rating paling
rendah di antara ketiga sekuelnya. Tentu hal ini akan menjadi tantangan baru bagi James
Cameron dan Disney untuk melanjutkan sekuelnya dalam Avatar 4 dan 5. (MMJA)
Referensi :
https://jatimtimes.com/baca/351474/20251217/143300/tayang-perdana-hari-ini-berikut-
sinopsis-lengkap-film-avatar-3-fire-and-ash
https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20251217182108-220-1307970/avatar-fire-and-ash-
dapat-skor-review-awal-rendah
https://kumparan.com/kabar-harian/avatar-fire-and-ash-tayang-sampai-kapan-cek-di-sini-
26SCTNo8aAv