

Jurnalikanews – Aksi pengibaran bendera putih oleh masyarakat di berbagai wilayah Aceh
terus meluas sebagai bentuk permohonan bantuan darurat. Dalam unjuk rasa yang
berlangsung di Banda Aceh pada Kamis (18/12), warga menyampaikan aspirasi terkait
lambatnya penanganan pascabencana oleh pemerintah pusat, mengingat akses transportasi
masih terputus di banyak titik meski bencana telah berlalu selama tiga minggu sehingga
memicu ketidakmerataan bantuan serta krisis persediaan medis dan bahan bakar minyak
(BBM).
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 19 Desember
2025, banjir dan longsor di wilayah Sumatra telah berdampak pada 52 kabupaten/kota.
Jumlah korban jiwa tercatat 1.090 orang, sekitar 7.000 orang luka-luka, dan 186 orang masih
dinyatakan hilang. Selain itu, tercatat 147.256 rumah rusak, 1.600 fasilitas umum, 967
fasilitas pendidikan, 145 jembatan, 434 rumah ibadah, 290 gedung perkantoran, serta 219
fasilitas kesehatan mengalami kerusakan.
Koordinator demonstrasi di Banda Aceh, Rahmad Maulidin, mengklaim aksi mereka
merupakan gerakan yang digagas masyarakat. Rahmad berkata, kelompoknya menuntut tiga
hal. Pertama, mereka mendesak pada pemerintah segera menetapkan bencana di Sumatra
sebagai bencana nasional. Kedua, Rahmad mengatakan bahwa, mereka menuntut agar
pemerintah membuka akses untuk komunitas internasional yang hendak memberikan bantuan
ke Sumatra. Ketiga, mereka mendesak pemerintah secara tegas menindak perusahaan yang
merusak lingkungan.
Menanggapi aksi pengibaran bendera putih oleh masyarakat di sejumlah daerah di Aceh,
Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian mewakili pemerintah menyampaikan permohonan
maaf jika terdapat kekurangan dalam penanganan bencana banjir dan longsor di Aceh.
Tito mengatakan, kendala yang dihadapi untuk penanganan bencana sangat besar, tetapi
pemerintah pusat selalu mendengarkan kritik serta saran dari warga, termasuk yang
disampaikan melalui tanda-tanda seperti mengibarkan bendera putih. Ia menegaskan bahwa
pemerintah terus berusaha untuk mengerti situasi di lapangan dan mempercepat respons
terhadap bencana yang melanda wilayah Sumatra, termasuk Aceh. Hal tersebut disampaikan
Tito dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (19/12) siang. (MRS)
Referensi: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c0je63x5zxno