

Sumber : Liputan6
Jurnalikanews – Pada awal September 2026, aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menjadi perhatian. Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan aktivitas erupsi yang disertai suara gemuruh. Aktivitas erupsi yang masih berlangsung membuat Gunung Anak Krakatau berada pada Status Level III (Siaga). Oleh karena itu, masyarakat perlu mengikuti perkembangan informasi dari lembaga resmi dan mematuhi arahan keselamatan yang berlaku.
Berdasarkan pemantauan atmosfer, sebaran abu vulkanik terpantau mengarah ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu. Namun, arah dan jangkauan sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi angin pada berbagai ketinggian. Wilayah yang berada dalam jalur sebaran abu juga belum tentu mengalami dampak dengan tingkat yang sama. Oleh karena itu, informasi mengenai sebaran abu perlu dipahami berdasarkan waktu dan hasil pemantauan terbaru.
Abu vulkanik perlu diwaspadai karena partikelnya dapat mengiritasi saluran pernapasan dan mata, serta mengurangi jarak pandang. Risiko gangguan akibat paparan abu dapat menjadi lebih besar bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan. Masyarakat sebaiknya memperhatikan imbauan kesehatan, terutama ketika terjadi hujan abu atau kualitas udara menurun.
Dampak erupsi tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas masyarakat dan kondisi lingkungan. Sebaran abu vulkanik dapat mengganggu perjalanan, terutama penerbangan jika abu mencapai jalur penerbangan pesawat. Dalam bidang pertanian, endapan abu yang menutupi permukaan tanaman dapat mengganggu pertumbuhan, terutama jika menumpuk dalam jumlah banyak. Sementara itu, abu yang masuk ke sumber air terbuka dapat memengaruhi kualitas air sehingga penggunaannya perlu diperhatikan. Penumpukan abu juga dapat menambah beban atap bangunan, terutama ketika abu bercampur dengan air hujan sehingga menjadi lebih berat. Oleh karena itu, pembersihan endapan abu perlu dilakukan secara hati-hati.
Di kawasan pesisir, material vulkanik yang masuk ke perairan juga perlu dipantau karena dapat memengaruhi kondisi lingkungan dan aktivitas masyarakat, termasuk nelayan. Selain dampak jangka pendek, material vulkanik juga memiliki proses alami yang dapat memengaruhi lingkungan dalam jangka panjang. Material vulkanik yang mengalami pelapukan dapat berkontribusi terhadap kesuburan tanah. Meski demikian, manfaat tersebut tidak berarti bahwa setiap endapan abu langsung menyuburkan tanah. Pengaruhnya bergantung pada sifat material, ketebalan endapan, serta kondisi lingkungan di sekitarnya.
Riwayat Gunung Anak Krakatau juga mengingatkan masyarakat terhadap potensi bahaya turunan di wilayah pesisir, termasuk tsunami. Pada 2018, aktivitas Gunung Anak Krakatau menyebabkan sebagian material gunung runtuh ke laut dan memicu tsunami di kawasan Selat Sunda. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa aktivitas gunung api di wilayah pesisir dapat menimbulkan bahaya lain selain erupsi, khususnya apabila terjadi perpindahan material dalam jumlah besar ke laut. Meski demikian, erupsi tidak selalu menyebabkan tsunami. Risiko tsunami vulkanik bergantung pada kondisi aktivitas gunung api, seperti perubahan morfologi tubuh gunung, serta kemungkinan terjadinya longsoran material ke laut. Oleh karena itu, masyarakat tetap perlu mengacu pada informasi dan peringatan resmi, serta menjauhi kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya.
Menghadapi erupsi bukan berarti harus menunggu bencana terjadi. Kesiapsiagaan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Selain memahami potensi risikonya, masyarakat juga perlu mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi kesehatan, menjaga keselamatan, serta mengantisipasi dampak erupsi terhadap lingkungan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Lindungi kesehatan saat abu vulkanik turun. Masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan sesuai imbauan resmi. Jika harus keluar, gunakan masker yang direkomendasikan untuk mengurangi paparan partikel abu dan pelindung mata apabila diperlukan. Hindari mengucek mata jika terkena abu, serta bersihkan bagian tubuh yang terpapar setelah beraktivitas di luar.
- Jaga kebersihan sumber air dan makanan. Sumber air terbuka perlu dilindungi agar tidak terpapar abu vulkanik. Air yang diduga tercemar sebaiknya tidak langsung digunakan untuk minum sebelum dipastikan keamanannya melalui pemeriksaan atau arahan instansi terkait. Makanan juga perlu ditutup agar tidak terpapar abu.
- Ikuti informasi resmi dan pahami jalur evakuasi. Masyarakat yang berada di wilayah berisiko perlu mengetahui arahan pemerintah daerah, batas zona bahaya, serta lokasi evakuasi. Masyarakat juga tidak dianjurkan mendekati gunung atau kawasan pesisir yang telah dinyatakan berbahaya hanya untuk melihat aktivitas erupsi secara langsung. Keselamatan harus tetap menjadi prioritas.
- Perhatikan kondisi lingkungan setelah erupsi. Pembersihan abu perlu dilakukan secara hati-hati agar partikel tidak kembali beterbangan dan terhirup. Abu yang menumpuk di saluran drainase juga perlu dibersihkan untuk mencegah penyumbatan. Selain itu, kondisi sumber air, lahan pertanian, dan lingkungan pesisir perlu dipantau apabila terdampak.
Menghadapi aktivitas erupsi gunung api, pada akhirnya bukan sekadar memahami kapan erupsi terjadi, tetapi juga bagaimana masyarakat membangun kesiapsiagaan dan kepedulian bersama. Keselamatan jiwa dan kelestarian lingkungan perlu berjalan berdampingan. Dengan berbekal informasi yang tepat, kewaspadaan, dan kepedulian, masyarakat dapat mengurangi risiko serta tetap tangguh di tengah aktivitas alam. (AZR)
Sumber
https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/bmkg-terus-pantau-dampak-erupsi-gunung-anak-krakatau