JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Sumber : BINUS UNIVERSITY

Jurnalikanews – Jika berbicara mengenai kecerdasan buatan, apa yang terlintas dipikiranmu? Sebuah sistem yang dapat berpikir sendiri, melakukan analisa, alat peniru atau pemberi jawaban otomatis. Banyak opini-opini terkait AI dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita pun sudah sering menggunakan mereka baik dalam urusan pribadi, pendidikan, maupun pekerjaan.

Dengan berkembangnya teknologi, gaya hidup dan pola pikir masyarakat pun ikut berubah. Teknologi mengubah hampir seluruh tatanan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, tidak terkecuali pula para mahasiswa. Terdapat tren bahwa dikatakan mahasiswa zaman sekarang mengerjakan tugas mereka dengan bantuan AI dan salah satu yang sering digunakan adalah chatgpt.

Melansir dari Wikipedia, chatgpt merupakan sistem AI generatif berbentuk chatbot yang dapat melakukan brainstorming melalui perintah pengguna berupa teks, suara, dan gambar. Chatgpt memiliki berbagai fungsi dalam satu waktu mulai dari meringkas materi, membuat poin-poin, mengolah data dalam jumlah besar, menghasilkan ilustrasi yang diingikan, hingga membuat kurva grafik maupun garis.

Dengan banyaknya fungsi tersebut, tidak heran jika chatgpt menjadi pilihan pertama mahasiswa dalam membantu mengerjakan tugas mereka. Chatgpt seperti alat Jack of all trade  yang dapat mengerjakan apapun itu perintah dari penggunanya. Ambil contoh seperti saat mahasiswa mengerjakan PPT materi kuliah, mereka dapat meminta dibuatkan ringkasan materi atau gambar ilustrasi dari chatgpt.

Akan tetapi, apakah menggunakan chatgpt untuk mengerjakan tugas sebenarnya boleh atau tidak?

Banyak opini terkait fenomena ini, beberapa mengatakan tidak mengapa jika digunakan sewajarnya, namun ada yang secara tegas menolak mentah-mentah penggunaannya. Menurut saya sebagai mahasiswa sendiri, menggunakan chatgpt untuk mengerjakan tugas bukanlah suatu hal yang dilarang atau tidak boleh. Akan tetapi, perlu dipahami kembali bahwa chatgpt hanyalah sebuah alat bantu semata, dan kita tetap harus kritis terhadap jawaban yang dihasilkan.

Lalu, bagaimana pandangan orang-orang yang menolak AI, bukan tanpa alasan mereka menolak penggunaannya. Salah satu diskursus terkait penggunaan AI adalah bagaimana mereka secara tidak langsung mereduksi kemampuan berpikir kritis dan analitis seseorang (Puslapdik, 2026). Beberapa juga menyatakan bahwa chatgpt membuat orang menjadi malas membaca dan menggali informasi lebih dalam yang berakibat menurunnya kemampuan literasi seseorang.

Sumber : bekraf

AI bekerja dengan cara mengumpulkan data dari berbagai sumber dan meringkasnya sehingga lebih mudah dipahami. Hal ini berdampak positif terhadap peningkatan pemahaman materi karena AI dapat menyesuaikan materi bacaan sesuai individu (Japendi, 2025). AI juga turut membantu memberi referensi pembelajaran, ekplorasi ide, dan menganalisa suatu tulisan, sehingga dapat melatih argumentasi dan membuat gagasan seseorang (IJSS, 2025).

Disisi lain, jika seseorang terlalu terbiasa diberikan informasi secara instan maka dapat membuat ketergantungan dan melimpahkan proses berpikir kepada mesin, sehingga melemahkan daya analisis dan berpikir kritis. Terlebih lagi, bagi orang yang terbiasa dengan segala hal yang instan dapat membuat orang tersebut tidak mau mencari tahu lebih dalam atau memastikan informasi yang didapatnya, hal ini juga turut mempengaruhi kemampuan literasi seseorang.

Mengerjakan tugas dengan bantuan AI memang tidak dipermasalahkan ataupun dilarang, yang menjadi masalah adalah ketika kita terlalu bergantung pada AI, yang padahal AI hanya sebuah alat bantu yang bisa melakukan kesalahan. Sesekali tidak apa-apa menggunakan AI, terutama jika dirasa tidak mampu atau masih belum memahami materi. Namun, alangkah baiknya kita tidak terlalu sering meminta bantuan atau lebih mensortir kembali informasi yang diberikan.

Pada akhirnya semua tergantung pada setiap orang, apakah mereka mampu menyortir informasi yang diberikan oleh AI atau hanya menerima secara mentah-mentah saja. Pemakaian AI yang terlalu berlebih juga tidak baik karena dapat menurunkan kemampuan analisis, berpikir kritis, dan kemampuan literasi. Perlu diimbangi dengan proses berpikir dan kemauan untuk berproses secara bertahap. (HRG)

 

Referensi :

ChatGPT – Wikipedia https://share.google/kRWOL3E8YUmW2j5DO

https://share.google/QgmTKEHc6us4RkU4R

https://share.google/QrJ4G9W1HnziJXNsC

Pengaruh Penggunaan AI (Chat GPT) terhadap Minat Baca, Pola Pikir dan Kemampuan Akademis Mahasiswa (Kajian Studi Literatur) | Indonesian Journal of Social Science https://share.google/tuf2Bhlij81WKC3Bc

Sumber: Japendi https://share.google/VhgNmKKHyH7LN1Dbu