JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Dampak Kebiasaan Telat Makan terhadap Kesehatan Tubuh: Kebiasaan yang Sering Diabaikan oleh Mahasiswa

Sumber : MDPI International Journal of Molecular Sciences

Jurnalikanews – Makan merupakan kegiatan sehari-hari yang sering dianggap ringan, padahal
menjadi kebutuhan dasar agar tubuh memperoleh energi untuk berpikir, bergerak, dan
beraktivitas. Dari makanan, tubuh mendapatkan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan
mineral yang berperan menjaga fungsi organ serta mencegah berbagai penyakit. Namun
ironisnya, di tengah kesibukan akademik, makan justru menjadi hal yang paling sering
dikorbankan, terutama oleh mahasiswa.
Survei yang diambil dari penelitian repository itera menunjukkan bahwa 8 dari 10 mahasiswa
mengaku sering telat makan atau menunda waktu makan, dengan alasan tugas, jadwal kuliah
padat, organisasi, hingga pekerjaan sampingan. Kebiasaan ini sering dianggap wajar dan tidak
berbahaya. “Nanti aja makannya,” atau “tanggung, dikit lagi kelar,” menjadi kalimat yang sangat
akrab di telinga. Padahal, kebiasaan yang terlihat kecil ini menyimpan dampak kesehatan yang
tidak bisa dianggap remeh.
Tubuh manusia memiliki sistem biologis yang peka terhadap waktu. Saat jadwal makan terlewat,
kadar gula darah menurun dan tubuh akan merespons dengan melepaskan hormon stres seperti
kortisol untuk mempertahankan energi. Lambung juga tetap memproduksi asam meskipun tidak
ada makanan yang masuk. Jika kondisi ini terjadi berulang, tubuh dipaksa bekerja dalam kondisi
darurat hampir setiap hari. Bagi mahasiswa yang sering menunda makan saat mengerjakan tugas
atau belajar, efeknya mungkin tidak langsung terasa. Namun bayangkan jika hal ini dilakukan
terus-menerus selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh international journal of molecular science
mengungkapkan bahwa kebiasaan telat makan atau pola makan tidak teratur dapat menyebabkan:

1. Gangguan lambung, seperti maag dan nyeri ulu hati, akibat peningkatan produksi asam
lambung.
2. Penurunan konsentrasi dan daya ingat, karena otak kekurangan suplai glukosa sebagai sumber
energi utama.
3. Perubahan mood, seperti mudah marah, cemas, dan cepat lelah, yang berkaitan dengan
peningkatan hormon stres.
4. Pola makan tidak terkontrol, termasuk makan berlebihan di malam hari sebagai bentuk balas
dendam akibat tidak makan dari pagi.
Mengubah kebiasaan telat makan tidak harus drastis. Beberapa langkah sederhana yang realistis
bagi mahasiswa antara lain:
1. Menetapkan jam makan sebagai jadwal tetap, sama pentingnya dengan jadwal kuliah.
2. Menyediakan camilan sehat, seperti buah atau roti, untuk mencegah perut kosong terlalu lama.
3. Tidak menunda makan utama, meskipun hanya makan porsi kecil terlebih dahulu.
4. Mendengarkan sinyal tubuh, seperti lapar, pusing, atau lemas.
5. Mengubah mindset, bahwa makan tepat waktu adalah bagian dari produktivitas, bukan
penghambatnya.
Mengerjakan tugas dan menuntaskan tanggung jawab memang penting. Namun, kesehatan diri
sendiri jauh lebih penting untuk bisa bertahan dan berkembang dalam jangka panjang. Kebiasaan
yang sering kita tunda hari ini bisa menjadi masalah besar di kemudian hari. Seperti pepatah,
mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Jadi, saat perut mulai memberi sinyal, jangan
lagi berkata “nanti”. Karena deadline bisa menunggu, tetapi tubuhmu tidak. (ZF)
Referensi : Meal timing, aging, and metabolic health. International journal of molecular sciences.
(2019).
Pengaruh Banyaknya Tugas Terhadap Kesehatan Mahasiswa Itera, Repository Itera. (2021).
Role of late-night eating in circadian disruption and depression: a review of emotional health
impacts. Physical Activity and Nutrition. (2025).