JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Potret Terbaru Kalimantan dari Satelit NASA, Karhutla Kian Mengkhawatirkan

Sumber: NASA Earth

Jurnalikanews – Lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA, membagikan foto kondisi Kalimantan yang  diselimuti asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan. Pada foto terbaru yang diambil pada Selasa (1/9) menggunakan instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer), yaitu instrumen sensor pada satelit NASA yang digunakan untuk mengamati permukaan atmosfer bumi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Kalimantan Selatan mengatakan bahwa kondisi kering yang berlangsung cukup lama dan adanya pengaruh kuat El Nino sehingga membuat kandungan air di tanah dan vegetasi terus berkurang. Lahan gambut yang selama ini menyimpan air seperti spons dapat kehilangan kelembapannya. Ketika lahan semakin kering, percikan api kecil dapat dengan mudah berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar. BMKG Provinsi Kalimantan Selatan juga memberikan catatan bahwa cuaca panas dan kering bukan penyebab kebakaran hutan dan lahan.

Musim kemarau dan fenomena El Nino hanya memberikan kondisi yang kering sehingga lebih mudah terjadi kebakaran, namun penyebab kebakaran terjadi akibat aktivitas manusia, seperti pembakaran sampah, pembukaan lahan baru dengan cara membakar, atau pembuangan puntung rokok secara sembarangan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, hingga Maluku Utara.

Wilayah yang menjadi prioritas dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan meliputi Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Menurut Kompas.com, di Kalimantan Barat yang ditemukan 46 titik api dengan luas lahan terbakar lebih dari 528 hektare. Kualitas udara dilaporkan berada dalam kategori berbahaya dengan jarak pandang kurang dari satu kilometer.

Sementara itu, di Sumatera Selatan, terdapat 20 titik api dengan luas lahan yang terbakar 98,5 hektare. Kualitas  udara berada pada kategori sedang hingga tidak sehat dengan jarak pandang sekitar 5 sampai 7 kilometer.

Dampak dari asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan juga mulai terasa oleh masyarakat sekitar. Kementerian Kesehatan mencatat 50.891 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan sepanjang Juli hingga Agustus 2026. (SAL)

 

Sumber:

https://x.com/NASAEarth/status/2095606997416587333?s=20

https://internasional.kompas.com/read/2026/09/04/171100270/nasa-rilis-citra-satelit-kalimantan-tertutup-asap-pekat-dan-ratusan?page=2

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260904104027-641-1399910/potret-terbaru-kalimantan-dari-satelit-nasa-kabut-asap-makin-tebal

https://staklim-kalsel.bmkg.go.id/karhutla-ancam-kualitas-udara-dan-kesehatan-masyarakat-kalimantan-selatan/