JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Kayu: Material Biologis yang “Hampir Tak Mungkin Ada”

Sumber:Dokumen Pribadi

Jurnalikanews – Ketika membicarakan benda paling berharga dan langka di alam semesta, sebagian besar orang akan langsung membayangkan pada emas murni, batu permata berlian, atau bahkan logam langka seperti platinum. Persepsi ini sangat wajar karena di Bumi, barang-barang tersebut dihargai sangat mahal dan membutuhkan usaha yang sangat besar untuk mendapatkannya. Namun, jika kita menggeser sudut pandang ke skala kosmik dan kosmologi dan ilmu material, realitas yang terjadi justru bertolak belakang secara drastis. Di luar atmosfer Bumi, material paling langka dan bernilai konseptual tinggi bukanlah batu mulia, melainkan material organik yang tampak sederhana yang sering kita jumpai sehari-hari: kayu.

Fenomena ini dapat dipahami dengan melihat bagaimana benda-benda kosmik terbentuk di jagat raya. Berlian, misalnya, Berlian tersusun atas atom karbon yang terikat dalam struktur kristal akibat tekanan dan suhu yang sangat tinggi. Proses fisika dan kimia semacam ini terjadi dalam skala yang sangat besar di berbagai penjuru alam semesta. Di planet raksasa es seperti Neptunus dan Uranus, atmosfer yang kaya akan gas metana terus-menerus mengalami tekanan ekstrem puluhan ribu kali lipat dari atmosfer Bumi. Kondisi ini mengubah gas metana menjadi kristal berlian murni yang kemudian jatuh ke inti planet dalam bentuk hujan berlian. Begitu pula dengan emas dan platinum yang terbentuk secara alami melalui peristiwa kosmik dahsyat, seperti ledakan bintang raksasa (supernova) atau benturan dua bintang neutron yang saling bertabrakan. Artinya, emas dan berlian adalah produk dari proses fisika anorganik biasa yang diperkirakan tersebar luas di berbagai penjuru alam semesta.

Sumber: Dokumen Pribadi

Sebaliknya, kayu tidak bisa diciptakan hanya melalui reaksi fisika ekstrem atau tekanan tinggi. Kayu merupakan material biologis yang memiliki struktur kompleks yang terdiri dari serat selulosa yang terikat kuat oleh polimer lignin. Hingga saat ini struktur biologi ini hanya diketahui dihasilkan oleh organisme hidup, khususnya tumbuhan berkayu (vaskular), yang telah melalui proses evolusi biologi teramat rumit selama ratusan juta tahun. Untuk menghasilkan sekeping kayu saja, sebuah planet membutuhkan ombinasi kondisi yang sangat spesifik: keberadaan air dalam wujud cair, atmosfer yang stabil, siklus karbon yang seimbang, sumber energi bintang yang pas, serta keberhasilan molekul biologis alami untuk berintegrasi membentuk sel hidup yang mampu berfotosintesis.

Dalam sejarah geologi Bumi sendiri, kemunculan kayu merupakan sebuah lompatan evolusi yang sangat besar. Tumbuhan darat pertama kali mengembangkan senyawa lignin sekitar 380 juta tahun lalu pada periode Devonian. Kehadiran lignin memungkinkan tumbuhan untuk tumbuh menjulang tinggi melawan gravitasi Bumi tanpa runtuh, sekaligus membentuk sistem pembuluh untuk mengangkut air dan nutrisi dari tanah. Pada masa itu, lignin merupakan senyawa yang sangat sulit diuraikan, bahkan selama puluhan juta tahun setelah kayu pertama kali muncul di Bumi, belum berkembang mikroorganisme yang mampu menguraikannya secara efektif. Akibatnya, batang-batang pohon kuno yang tumbang tidak membusuk, melainkan tertimbun tanah dan perlahan berubah menjadi fosil batu bara yang kita tambang hari ini.

Hingga detik ini, dari miliaran hingga triliunan planet yang diperkirakan ada di alam semesta teramati (observable universe), Hingga saat ini, Bumi merupakan satu-satunya tempat yang telah terbukti memiliki kehidupan berkayu. Fakta ini memberikan kita sebuah perspektif baru yang mendalam tentang makna kelangkaan. Meja kayu, pensil, atau pintu rumah yang kita sentuh saban hari sesungguhnya merupakan kejutan biologis yang jauh lebih unik dibandingkan kemungkinan hujan berlian di Neptunus atau asteroid yang dipenuhi emas. Keberadaan kayu menjadi pengingat betapa berharganya biosfer Bumi dan betapa istimewanya kehidupan yang ada di dalamnya di tengah dingin dan hampanya jagat raya. (AR)

Referensi:

Kompas.com. (2022, 3 Oktober). Mengenal Apa Itu Pohon dan Ciri-cirinya. Diakses dari https://www.kompas.com/sains/read/2022/10/03/080500623/mengenal-apa-itu-pohon-dan-ciri-cirinya

Bobo.Grid.id. (2023, 26 Mei). Tidak Semua Tanaman Bisa Disebut Pohon, Lalu Apa Ciri-Ciri Pohon? Diakses dari  https://bobo.grid.id/read/083797255/tidak-semua-tanaman-bisa-disebut-pohon-lalu-apa-ciri-ciri-pohon

NASA. (2021). Diamond Rain on Icy Giant Planets: Uranus and Neptune. NASA Science.

American Museum of Natural History. (2020). The Origin of Wood and Lignin in Earth’s Evolutionary History.