JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Tips Mencegah Brainrot di Tengah Perkembangan AI

Sumber: teknobuzz.id

Jurnalikanews – Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan
(Artificial Intelligence/AI), informasi mengalir deras, hiburan tersedia tanpa batas dan
berbagai aktivitas menjadi lebih efisien. Namun, penggunaan teknologi yang tidak terkontrol
juga dapat memicu penurunan kualitas fokus.
Istilah brain rot merujuk pada kondisi menurunnya kemampuan kognitif akibat kebiasaan
mengonsumsi konten digital secara berlebihan, dangkal, dan berulang. Fenomena ini menjadi
perhatian utama, khususnya di kalangan pengguna media sosial yang terjebak dalam siklus
konsumsi konten secara terus menerus tanpa jeda. Tanpa disadari, otak dibanjiri oleh
informasi yang tidak semuanya berguna sehingga dapat mengganggu proses berpikir dan
daya ingat.
Untuk mencegah hal tersebut, terdapat beberapa kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah membiasakan diri menulis secara manual
menggunakan kertas dan pulpen atau pensil. Aktivitas menulis tidak hanya digunakan untuk
mencurahkan perasaan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk melatih pemikiran kritis.
Misalnya, dengan mencoba menjelaskan kembali suatu kegiatan, konsep, atau objek secara
sederhana. Menulis secara manual melibatkan proses berpikir yang lebih mendalam
dibandingkan mengetik di perangkat digital yang sering disertai distraksi.
Selain itu, journaling juga dapat membantu menjaga fokus. Journaling yang dimaksud bukan
hanya menuliskan rencana jangka panjang, tetapi membuat perencanaan kecil yang realistis
untuk waktu terdekat, seperti menentukan aktivitas pada jam berikutnya atau menetapkan
target membaca selama 30 menit dalam satu hari. Perencanaan sederhana seperti ini dapat
membantu otak terbiasa menyelesaikan tugas secara bertahap.
Membaca buku, baik fiksi maupun nonfiksi, serta artikel ilmiah juga menjadi salah satu cara
efektif untuk melatih konsentrasi. Aktivitas membaca tetap dapat dilakukan melalui gadget,
namun perlu disertai pengelolaan gangguan notifikasi dari aplikasi lain seperti WhatsApp, Instagram, atau TikTok. Mematikan notifikasi sementara dapat membantu mengurangi
distraksi sehingga proses membaca menjadi lebih fokus.
Selain kebiasaan tersebut, pengaturan waktu penggunaan media sosial juga penting.
Memanfaatkan fitur pembatasan waktu layar (screen time) dapat membantu mengontrol
durasi penggunaan aplikasi hiburan. Teknik manajemen waktu seperti bekerja fokus selama
25 menit kemudian beristirahat singkat juga dapat melatih kembali kemampuan konsentrasi.
Melakukan digital detox ringan, misalnya dengan mengurangi penggunaan gadget sebelum
tidur, juga bermanfaat untuk memberi kesempatan otak beristirahat dari rangsangan digital.
Aktivitas lain seperti olahraga ringan, berjalan santai, atau menjalankan hobi produktif dapat
menjadi alternatif kegiatan yang lebih menstimulasi secara positif.
Pada akhirnya, perkembangan AI dan teknologi digital tidak harus dihindari, tetapi perlu
dimanfaatkan secara bijak. Dengan mengatur kebiasaan penggunaan teknologi dan
membangun rutinitas yang mendukung fokus, brain rot dapat dicegah sehingga produktivitas
dan kualitas aktivitas sehari-hari tetap terjaga. (SA)

Referensi:
https://lpmneraca.com/2025/04/04/fenomena-brainrot-di-era-digital-mengenali-memahami-
dan-mengatasi-dampaknya/

Cegah Brain Rot pada Anak, Komdigi Dorong Literasi AI