JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Ketika Banjir Bukan Lagi Tamu, Melainkan Rutinitas Tahunan yang Melelahkan

Sumber: Media Indonesia

Jurnalikanews – Pagi ini, bagi sebagian besar warga di kota-kota besar Indonesia, alarm
bangun tidur yang paling efektif bukanlah suara dering ponsel, melainkan suara gemuruh
hujan yang menghantam atap rumah sejak dini hari. Saat jendela dibuka, pemandangan jalan
aspal yang biasa dilalui telah berganti rupa menjadi aliran sungai cokelat keruh. Banjir
kembali menyapa di penghujung bulan Januari, menutup awal tahun dengan genangan yang
seolah enggan surut.
Jika kita turun ke jalan dan mengamati wajah-wajah para pengendara motor yang berteduh di
bawah jembatan layang atau warga yang sibuk menguras teras rumah. Kita sepertinya telah
sampai di titik di mana banjir dianggap sebagai “tamu bulanan” yang menyebalkan namun tak terhindarkan. Percakapan di grup pesan singkat dan media sosial pun bergeser; bukan lagi bertanya “mengapa banjir terjadi”, melainkan pertanyaan praktis tentang “jalan mana yang
masih bisa dilewati”. Normalisasi bencana ini sesungguhnya adalah tanda bahaya bagi
kesadaran kita terhadap lingkungan.
Para pengamat tata kota sering menggambarkan situasi ini dengan analogi sederhana: kota
kita telah “lupa cara minum”. Ibarat menumpahkan segelas air di atas meja kaca, air tersebut
akan menggenang dan melebar tak terkendali karena tidak ada pori-pori yang menyerapnya.
Begitulah kondisi tanah perkotaan saat ini. Padatnya pembangunan yang menutup permukaan
tanah dengan semen, aspal, dan beton membuat air hujan kehilangan pintu masuk alami ke
dalam perut bumi. Halaman rumah yang dulunya tanah resapan kini berubah menjadi garasi
beton, memaksa air hujan mengantre di permukaan dan berebut masuk ke saluran drainase
yang seringkali dangkal serta tersumbat sampah plastik.

Dampak dari genangan ini seringkali diremehkan, terutama jika ketinggian air hanya sebatas
mata kaki. Padahal, kerugian yang ditimbulkan sangat nyata dan meluas. Bukan hanya soal
mesin kendaraan yang mogok atau perabot rumah yang rusak karena lembab, tetapi juga
risiko kesehatan yang mengintai. Air yang menggenang di jalanan bukanlah air hujan murni,
melainkan campuran air selokan, limbah domestik, dan bakteri yang naik ke permukaan.
Genangan ini membawa ancaman penyakit kulit hingga leptospirosis atau biasa kita sebut
penyakit kencing tikus yang kerap menyerang warga, terutama anak-anak, pasca-banjir surut.
Rentetan kejadian banjir sepanjang Januari 2026 ini seharusnya menjadi alarm keras bagi kita
semua bahwa daya tampung lingkungan sudah melampaui batas kritisnya. Menyalahkan
curah hujan atau pemerintah semata tidak akan serta-merta mengeringkan jalanan depan
rumah kita. Kesadaran untuk tidak menutup seluruh halaman dengan semen, serta disiplin
membuang sampah pada tempatnya agar saluran air tidak tersedak, adalah langkah
pertahanan paling mendasar yang bisa dilakukan. Kita tidak boleh membiarkan banjir
menjadi rutinitas tahunan yang dimaklumi, karena jika alam terus diabaikan, bukan tidak
mungkin tamu tak diundang ini akan datang lebih sering dan menetap lebih lama di masa
depan.(AIPP)
Referensi
https://mediaindonesia.com/megapolitan/855027/banjir-jakarta-kamis-29-januari-2026-ini-
jalan-yang-wajib-dihindari-dan-cara-cek-genangan-via-google-maps