JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Petilasan Surya Kencana, Tapak Sejarah Tanah Sunda

Sumber : bogor.tribunews.com

Jurnalikanews – Petilasan Surya Kencana terletak di lereng Gunung Salak, Kecamatan
Pamijahan, Kabupaten Bogor merupakan situs bersejarah yang memiliki nilai penting bagi
masyarakat Sunda. Lokasi ini diyakini sebagai tempat persinggahan Raden Surya Kencana,
tokoh yang erat kaitannya dengan Kerajaan Pajajaran. Setelah keruntuhan Pajajaran pada
abad ke-16, Surya Kencana dianggap sebagai figur yang menjaga kesinambungan nilai
budaya Sunda melalui ajaran kebijaksaan dan spiritualitas. Keberadaan petilasan ini menjadi
bukti bahwa sejarah Sunda tidak hanya tercatat dalam naskah kuno, tetapi juga hidup dalam
ruang-ruang sakral yang dijaga masyarakat.
Menurut Bah Oja, kuncen atau penjaga petilasan yang merupakan keturunan kelima dari
leluhur penjaga situs ini, Petilasan Raden Surya Kencana dikenal juga dengan nama Keramat
Mangga Tiga Gedong Ijo. Petilasan ini bukan sekadar situs sejarah, tetapi dipercaya sebagai
tempat moksa Eyang Surya Kencana. Dalam konsep Hindu dan Budha, moksa adalah
keadaan di mana seseorang mencapai pencerahan dan melepaskan diri dari siklus reinkarnasi.
Dalam konteks lokal, Moksa dianggap sebagai peristiwa spiritual besar yang menandai
kepergian Eyang Surya Kencana dari dunia fisik menuju dunia spiritual. Oleh karena itu,
petilasan ini bukanlah makam dalam arti harfiah, melainkan tempat yang diyakini pernah
ditinggali atau disinggahi oleh beliau.
Di dalam pendopo yang dibangun terdapat sebuah makam panjang yang diyakini sebagai
simbol keberadaan spiritual Eyang Surya Kencana. Makam tersebut terletak di bawah
pendopo berwarna hijau dengan detail emas yang ditopang oleh sepuluh pilar peyangga.

Sebagai situs keramat, Petilasan Raden Surya Kencana menarik banyak pengunjung dari
berbagai daerah, terutama mereka yang ingin berziarah dan memohon barokah. Bah Oja
selalu mengingatkan para pengunjung untuk menjaga adab dan meluruskan niat ketika
berziarah, seperti tidak menganggap petilasan ini sebagai objek yang didewa-dewakan.
Kebiasaan masyarakat yang menjadikan petilasan sebagai tempat ziarah dan doa ini disebut
dengan tradisi lisan.Tradisi ini menempatkan Surya Kencana sebagai sosok yang dihormati,
bukan untuk disembah, melainkan simbol penghormatan terhadap leluhur. Kawasan ini juga
menyimpan peninggalan prasejarah seperti punden kuta ganggelang, berupa menhir dan batu
monolit yang memperkaya nilai arkeologis Gunung Bunder. Dengan demikian, situs ini
memperlihatkan kesinambungan sejarah dari masa prasejarah, kejayaan pajajaran, hingga
praktik budaya masyarakat modern.
Petilasan Gunung Bunder bukan sekadar situs keramat, melainkan ruang yang
menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Ia menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Sunda,
sekaligus sarana refleksi bagi generasi sekarang untuk menghargai warisan leluhur. Penelitian
lebih lanjut terhadap situs ini penting dilakukan, tidak hanya untuk memperkuat pemahaman
tentang sejarah Pajajaran, tetapi juga untuk menjaga kelestarian budaya lokal yang menjadi
identitas masyarakat Bogor. (APL)
Referensi :
https://bogor.tribunnews.com/2024/10/17/menelusuri-petilasan-raden-surya-kencana-jejak-
sejarah-dan-spiritualitas-di-gunung-bunder?page=2
https://www.kompasiana.com/andrixu/6806543934777c75847c9ee2/eyang-raden-surya-
kencana-sosok-legendaris-dan-keberadaan-petilasannya-di-dalam-kelenteng