

Jurnalikanews – Kafein sudah menjadi “teman setia” di kalangan semua orang, khususnya
mahasiswa. Mulai dari kopi, teh, cokelat, hingga minuman energi lainnya. Kafein digunakan
dengan berbagai alasan yang berkaitan untuk kebutuhan mata agar tetap terjaga,
meningkatkan fokus, dan mengurangi rasa lelah yang sering terjadi semasa ujian, tenggat
waktu tugas atau stres akademik. Apalagi untuk mahasiswa yang semester akhir, tidak sedikit
yang merasa tidak bisa memulai hari tanpa secangkir kopi, teh, cokelat, ataupun susu.
Namun, pertanyaanya sekarang adalah “apakah kafein benar-benar membantu mahasiswa
atau justru menjadi ancaman bagi kesehatan?”
Sebuah studi yang diterbitkan oleh Journal of Caffeine Research (2021) menunjukkan bahwa
sekitar 80% mahasiswa di seluruh dunia mengonsumsi kopi setiap hari untuk meningkatkan
fokus atau mengurangi rasa kantuk. Kafein merupakan sebuah senyawa psikoaktif yang
berfungsi sebagai menghentikan reseptor adenosin di otak yang menyebabkan tubuh merasa
lelah dan mengurangi tingkat kewaspadaan. Dengan menghentikan adenosin, kafein
meningkatkan sekresi neurotransmiter seperti dopamin dan norepinefrin yang dapat
meningkatkan kewaspadaan, fokus, dan energi.
Prof. Hardinsyah sebagai Guru Besar Ilmu Gizi di Universitas IPB mengatakan batas aman
untuk orang dewasa untuk mengonsumsi kafein adalah antara 300 dan 400 miligram per hari.
Angka ini setara dengan antara dua dan tiga gelas kopi, tergantung ukurannya.
Jadi, manfaat kafein untuk kita yaitu:
1. Membantu meningkatkan konsentrasi
2. Meningkatkan mood dan produktivitas
3. Mengurangi rasa lelah dan mengantuk
4. Meningkatkan memori jangka pendek
Di balik manfaatnya, kafein dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, terutama bagi
mahasiswa yang memiliki pola tidur tidak teratur. Berikut ancaman kesehatan akibat
mengonsumsi kafein berlebihan:
1. Gangguan tidur dan pola istirahat berantakan
Minum kopi sore atau malam hari bisa mengganggu kualitas tidur. Alhasil, keesokan
harinya tubuh makin lelah dan butuh kopi lagi.
2. Memicu stres dan kecemasan
Terlalu banyak kafein memicu pelepasan hormon adrenalin. Tubuh menjadi gelisah,
tangan gemetar, jantung berdebar, dan pikiran sulit tenang.
3. Ketergantungan
Ketika tubuh terbiasa dengan kafein setiap hari, tidak minum kopi bisa menyebabkan
sakit kepala, gampang marah, sulit fokus, dan badan terasa lemas.
4. Masalah lambung
Biasanya mahasiswa yang sering telat makan, sarapan seadanya, atau langsung ngopi
saat perut kosong biasanya lebih rentan mengalami maag, sakit ulu hati, dan mual setelah
minum kopi.
5. Kandungan gula tinggi di minuman kopi
Yang sering dianggap remeh bukan hanya kafeinnya yang berbahaya, tapi juga gulanya.
Contohnya minuman es kopi susu. Es kopi susu bisa mengandung 20–40 gram gula per
gelas. Jika diminum hampir setiap hari, bisa menyebabkan berat badan naik, kulit mudah
berjerawat, hingga energi cepat drop.
Tips aman mengonsumsi kafein supaya tetap produktif tanpa merusak kesehatan, berikut
langkah sederhana yang bisa dilakukan:
Batasi konsumsi maksimal 1–2 gelas per hari
Jangan minum kopi setelah jam 5 sore
Pilih kopi yang sedikit gula atau tanpa gula, seperti americano, kopi hitam atau latte
less sugar.
Jangan minum kopi saat perut kosong
Tidur yang cukup
Peka terhadap tubuh, apabila tubuh sudah mulai bergetar, cemas atau jantung berdebar
itu bertanda bahwa tubuh membutuhkan jeda dari kafein.
Kafein bisa menjadi teman belajar yang efektif kalau digunakan dengan “bijak”. Namun,
jika dikonsumsi berlebihan, kafein bisa berubah menjadi ancaman yang dapat menyebabkan
susah tidur, kesehatan mental, dan kondisi fisik kita. Yang terpenting adalah menjaga
keseimbangan, mengatur pola hidup sehat, dan tidak menjadikan kafein sebagai “pelarian”
dari lelah, stres, atau tugas yang menumpuk. (NSA)
Sumber:
https://mediaindonesia.com/humaniora/829531/anda-pecinta-kopi-ini-batas-aman-
konsumsi-kafein-harian
American College of Sports Medicine. (2021). Caffeine consumption and sleep patterns:
Implications for academic performance. ACSM Report.