JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Budaya Malu Bertanya Di Kelas: Pendidikan Kita Mengajari Kepatuhan, Bukan Keberanian?

Sumber: www.idntimes.com

Jurnalikanews – Keheningan di ruang kelas sering dipuji sebagai tanda “kelas tertib”. Banyak
pengajar mungkin pernah merasakan suasana kelas yang sunyi setelah penjelasan diberikan
seperti tak ada tangan terangkat, tak ada pertanyaan yang muncul. Keraguan siswa untuk
bertanya sering kali bukan karena mereka memahami sepenuhnya, tetapi karena ada hambatan
internal yang menahan mereka. Sikap pasif ini meninggalkan kekosongan penting dalam proses
belajar, padahal dialog antara guru dan siswa merupakan fondasi pembelajaran yang efektif.
Fenomena ini jauh lebih kompleks daripada sekadar sifat pemalu; ada aspek psikologis, sosial,
dan lingkungan belajar yang berperan besar. Karena itu, kondisi ini perlu ditangani sejak dini
agar penyebab sebenarnya dapat teridentifikasi dan pendidik bisa membantu siswa lebih berani
mengemukakan rasa ingin tahunya.
Sejumlah penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa kecemasan, rasa takut salah, dan
kurangnya kepercayaan diri menjadi pemicu utama rendahnya keberanian bertanya. Sebuah studi
pada mahasiswa pendidikan bahasa menemukan bahwa banyak siswa menahan diri karena
khawatir ditertawakan atau dinilai “kurang pintar” jika pertanyaannya dianggap sederhana.
Penelitian lain mencatat bahwa norma sosial yang mendorong siswa untuk “tidak menonjol” di
depan kelas memperkuat budaya diam ini.
Padahal, bertanya adalah indikator keterlibatan kognitif. Tanpa pertanyaan, guru kehilangan
sinyal apakah materi dipahami atau sekadar dihafal. Pakar pendidikan menilai bahwa pola
pengajaran yang terlalu berpusat pada guru juga memperlemah ruang dialog. Ketika peran murid
sebatas menerima informasi, keberanian kritis mereka sulit tumbuh.
Budaya ini menyimpan konsekuensi besar dimana siswa kurang terlatih menguji asumsi,
mempertanyakan argumen, dan membangun pemikiran mereka sendiri. Pendidikan akhirnya
lebih menekankan kepatuhan dan ketertiban, bukan keberanian intelektual.

Peran Guru dalam Membantu Siswa Berani Bertanya
Keengganan siswa untuk bertanya di kelas sering dipengaruhi rasa takut salah, kurang percaya
diri, hingga suasana kelas yang tidak mendukung. Guru memegang peran penting untuk
mengubah situasi ini. Berikut lima langkah utama yang dapat dilakukan:
1. Membangun Lingkungan Kelas yang Aman
Guru perlu memastikan kelas menjadi ruang yang nyaman untuk bertanya. Sikap menghargai
setiap pertanyaan dan tidak mempermalukan siswa sangat membantu meningkatkan keberanian
mereka.
2. Mengajak Siswa Bertanya Sejak Awal
Jangan menunggu siswa bertanya lebih dulu. Guru dapat memancing interaksi dengan
pertanyaan terbuka, sehingga siswa merasa wajar dan terbiasa untuk terlibat dalam diskusi.
3. Memberi Waktu Berpikir
Siswa sering membutuhkan jeda untuk memahami materi sebelum berani mengajukan
pertanyaan. Memberikan waktu hening beberapa detik membuat mereka lebih siap dan tidak
terburu-buru.
4. Menggunakan Metode Belajar Interaktif
Diskusi kelompok, kerja tim, atau sesi tanya jawab membuat suasana belajar lebih hidup. Dalam
kelompok kecil, siswa cenderung lebih nyaman mengutarakan kebingungannya.
5. Menyediakan Alternatif Bertanya
Untuk siswa yang sangat pemalu, guru bisa memberikan opsi seperti kotak pertanyaan anonim,
pesan pribadi, atau waktu konsultasi. Ini membantu mereka tetap bisa mencari klarifikasi tanpa
merasa tertekan.
Jika sekolah ingin membentuk generasi yang kritis dan percaya diri, budaya “diam itu aman”
perlu dikaji ulang. Rasa ingin tahu seharusnya tidak dipadamkan oleh rasa takut. Pendidikan
idealnya melatih keberanian untuk bertanya bukan hanya kemampuan untuk patuh. (ARF)

Sumber:
https://guruinovatif.id/artikel/membongkar-diamnya-kelas-mengapa-murid-sulit-bertanya-dan-
solusinya
https://jejakrekam.com/2022/06/26/malu-bertanya-sesat-di-kelas/
https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JEAR/article/download/14439/8844/18750?__cf_chl_tk=AbII
ro2oQRu8kw6asP6N.9JBwspNoyEcbRaupD8nfXM-1764950098-1.0.1.1-
7FYj6j83KNDZ3Cg2O_m5Px8ku44AgcJAwNA3ZF2O8DA