JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Lawang Salapan Bogor: Ketika Budaya, Sejarah, dan Keindahan Bertemu dalam Satu Gerbang

Sumber: Mamafathan01

Jurnalikanews – Tepat di pusat Kota Bogor, di sepanjang Jalan Juanda, berdiri sebuah
monumen gerbang megah yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna budaya
dikenal sebagai Tepas Lawang Salapan Dasakreta (TLSD) atau disingkat Lawang Salapan.
Lawang Salapan Bogor menjadi salah satu ikon kebanggaan warga kota hujan yang
diresmikan oleh Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto pada tanggal 7 Desember 2016.
Di balik kemegahannya, Lawang Salapan menyimpan makna filosofis yang mendalam.
Ungkapan “dinu kiwari ngancik nu bihari seja ayeuna sampereun jaga” adalah peribahasa
dalam bahasa Sunda yang berarti, “apa yang kita nikmati hari ini adalah warisan dari
pendahulu, dan apa yang kita nikmati sekarang akan diwariskan untuk generasi berikutnya.”
Kalimat tersebut mencerminkan nilai kontinuitas, tanggung jawab, serta penghargaan
terhadap sejarah dan alam warisan leluhur. Filosofi ini sejalan dengan semangat masyarakat
Sunda dalam menjaga keseimbangan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Arsitektur Lawang Salapan terinspirasi oleh falsafah Kerajaan Pakuan Pajajaran, yakni silih
asih, silih asah, dan silih asuh. Ketiga prinsip ini menggambarkan kehidupan yang penuh
kasih, saling menuntun dalam pengetahuan, dan saling melindungi. Sepuluh pilar megah pada
Lawang Salapan merepresentasikan ajaran dasakreta, yakni sepuluh anggota tubuh manusia
yang menjadi lambang kesucian fisik dan spiritual. Dari telinga hingga kaki, setiap bagian
mengajarkan tanggung jawab untuk menjaga perilaku dan tutur kata agar tetap selaras dengan
nilai moral yang luhur.
Dari sepuluh pilar itu terbentuk sembilan celah yang disebut “lawang”, dalam filosofi Sunda
melambangkan sembilan jalan menuju harmoni dan kesejahteraan hidup. Sembilan nilai itu meliputi kedamaian, persahabatan, keindahan, kesatuan, kesantunan, ketertiban, kenyamanan,
keramahan, dan keselamatan. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar bagi kehidupan masyarakat
Bogor yang terbuka, ramah, serta menjunjung tinggi kebersamaan di tengah keberagaman.
Selain sepuluh pilar dan sembilan pintu, ikon ini menampilkan bunga teratai di bagian bawah
tiang sebagai lambang kesatuan Nusantara. Di kedua sisinya terdapat dua gazebo berbentuk
rotunda yang menggambarkan keseimbangan antara manusia dan alam semesta. Menariknya,
gaya rotunda pada Lawang Salapan memiliki kemiripan dengan salah satu peninggalan
bersejarah di Bogor, yaitu Monumen Lady Raffles yang berada di dalam Kebun Raya Bogor.
Kesamaan gaya arsitektur ini menunjukkan adanya jejak sejarah yang saling terhubung antara
bangunan kolonial dan karya kontemporer Kota Bogor. Melalui Lawang Salapan, nilai
budaya Sunda berpadu indah dengan warisan sejarah kolonial, menghadirkan simbol cinta,
keharmonisan, dan penghormatan terhadap masa lalu yang tetap hidup di tengah kemajuan
zaman.
Saat ini, Lawang Salapan tidak sekadar menjadi tempat berfoto, tetapi juga ruang bagi
masyarakat untuk mengingat bahwa budaya dan kemajuan bisa berjalan beriringan. Melalui
monumen ini, Kota Bogor tampil bukan hanya indah secara alamiah, tetapi juga berkarakter
dan kaya nilai budaya. (AZR)

Referensi:

AUGEETIANSYAAH, R. 2018. PERPUSTAKAAN DIGITAL BUDAYA INDONESIA.
https://budaya-indonesia.org/Lawang-Salapan [31 Oktober 2025]
PENELITIAN PARIWISATA. 2024. https://penelitianpariwisata.id/keindahan-dan-sejarah-
lawang-salapan-bogor/ [31 Oktober 2025]
https://lovelybogor.com/makna-tepas-lawang-salapan-dasakreta/ [31 Oktober 2025]