JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Artikel Recent Update

The Red Turtle, Sajian Animasi Bisu yang Membius

Jurnalikanews– HaloIMG_20170228_130905 guys! Masih semangat nggak kuliahnya? Pastinya harus dong ya. Tapi, apa gak capek tuh kuliah terus tiap hari? Apakah kalian sedang mencari rekomendasi film buat ditonton sebagai pelepas lelah sejenak dari rutinitas kuliah yang menjemukan itu? Tenang, Jurnalika punya rekomendasi film animasi non-dialog nih dan sangat menarik untuk diikuti kisahnya. Seperti apakah filmnya? Yuk lanjut baca.

Perlu kalian tahu, ini bukan sembarang film animasi ya, guys. Karena film ini sampai masuk nominasi Piala Oscar 2017, itu loh ajang penghargaan film tertinggi di Amerika sana. So, masih hangat bukan film ini? The Red Turtle yang mempunyai judul asli La Tortue Rogue menembus ajang paling bergengsi ini dalam kategori Best Animation Film. Walaupun kita tahu pemenang untuk nominasi ini adalah Zootopia, animasi dari Disney. Tapi jangan salah, jangan kira animasi yang tidak mempunyai dialog sama sekali disepanjang filmnya ini akan membuatmu menguap bosan. Karena animasi yang dibuat atas kerjasama sutradara asal Belanda dengan beberapa animator asal Perancis dan Belgia serta tidak lupa dengan dukungan studio animasi sekaliber Studio Ghibli dibelakangnya, tentunya animasi ini tidak main-main dalam segala aspek baik itu alur cerita, grafis maupun dari segi suara-nya. Bahkan, menurut opini penulis, animasi ini masih jauh lebih baik dari Zootopia-nya si Disney itu.

Jadi, ceritanya itu ngalir gitu aja, awal film kita langsung dihadapkan pada adegan dimana ada seorang pria dewasa yang sedang hanyut terombang-ambing oleh amukan badai ditengah lautan. Hingga saatnya dia terdampar di sebuah pulau kecil tak berpenghuni dan tak dikenal. Dipulau itu terdapat hutan nan rimbun, hingga pada suatu hari pria tak bernama tersebut berencana untuk keluar dari pulau itu dengan membuat rakit berbahan kayu bambu yang diambilnya dari hutan tersebut. Namun, belum lama pria tersebut berlayar tiba-tiba muncul hentakan dari bawah rakit hingga menghancurkan rakit tersebut. Pria tersebut pun kembali lagi ke pulau untuk kembali membuat rakit dan kembali berusaha untuk keluar dari pulau tersebut. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seekor penyu merah yang memaksa pria tersebut harus tinggal dan bertahan di pulau tersebut. Lalu, siapakah sebenarnya sosok penyu merah misterius itu?

Dengan modal cerita yang sangat sederhana tersebut, kita dibuat hanyut sekaligus penasaran akan kelanjutan kisah si pria tersebut. Apakah yang akan dia lakukan ketika terdampar dipulau tersebut, bagaimanakah ia harus bertahan di pulau yang tidak dikenalnya tersebut dan poin misteri yang menjadi daya tarik dari film ini adalah sosok si penyu merah. Sungguh luar biasa harus saya katakan akan segala aspek yang disajikan oleh animasi ini. Bagaimana bisa animasi ini mengalirkan kisahnya dengan tanpa dialog sama sekali dalam penyajian alur ceritanya. Sebuah film dikatakan berhasil atau dinilai bagus bila ia mendapat perhatian dari penontonnya. Dan bahkan tanpa dialog pun animasi ini sukses membuat kita ikut merasakan dan menikmati jalinan kisahnya. Karena film ini sebenarnya tidak hanya menyajikan kisah seorang pria yang terdampar dan bertahan hidup di suatu pulau, film ini lebih dari itu. Sarat makna tersurat maupun tersirat yang ingin disampaikan sutradara kepada penonton, maupun kebebasan interpretasi dari penonton setelah menontonnya. Sungguh indah film ini, karena ia tahu dengan tanpa dialog maka film ini memaksimalkan sisi lainnya yaitu segi grafis dan audio-nya. Grafis 2D yang ditawarkannya tidak kalah dengan gempuran animasi-animasi 3D sekelas Hollywood, karena dengan gambar 2D akan terasa lebih artistik dan lebih terasa feel seni-nya hehe. Pokoknya sungguh sangat indah gambar yang disuguhkan oleh animasi ini. Dari segi sound, dijamin kita seakan ikut terdampar dan merasakan sedang berada di pulau tersebut karena dengan adanya berbagai ‘suara alam’ yang ditawarkan oleh pulau tersebut. Sangat detail, mulai dari suara desiran ombak, angin sepoi-sepoi, rerimbunan pohon, kicau burung, hujan dan segala suara alam lainnya. Film ini semakin hidup karena tidak hanya berfokus pada kisah pria tersebut namun juga ditampilkan apa saja dan apa yang terjadi pada pulau tersebut. Mulai dari rerimbunan pohon hingga beberapa kepiting yang menemani si pria selama di pulau tersebut. Sehingga kita bisa ikut merasakan atmosfer berada di pulau tersebut sekaligus sisi psikologi yang dirasakan pria tersebut.

Film ini seakan tampil mudah dicerna dan ditonton untuk semua kalangan baik dari anak kecil hingga dewasa. Namun bila kita telaah lebih dalam lagi, film ini banyak bercerita mengenai kehidupan, apa arti hidup dan segala hal lainnya. Oleh karena itu, film ini cocok banget untuk kalian tonton karena setelah melihat ending dari film ini, kalian akan memiliki berbagai tafsiran makna yang berbeda dari kisah yang ditawarkannya. Jadi tunggu apalagi, segera tonton animasi ini tanpa harus repot-repot mencari subtitle bukan? (ifd)

(28/2/17)