JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Artikel

SI MANIS GULA AREN BUATAN DADONG ASIN

Jurnalikanews– Kalian tentu tidak asing dengan gula aren yang dalam kehidupan sehari-hari kita kenal dengan gula merah, bukan? Walaupun bukan merupakan makanan pokok, namun gula aren sering digunakan sebagai bahan tambahan pada makanan sehari-hari. Seperti dalam pembuatan bumbu, kue, saus jajan bali dan lain-lain.

gula

Di Bali, tuak merupakan salah satu jenis minuman beralkohol yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Bali. Di Desa Alis Bintang, tuak yang dihasilkan dari sadapan pohon aren tidak dikonsumsi langsung, melainkan diolah terlebih dahulu sehingga menghasilkan gula aren. Bagian pohon aren yang dicari tuaknya adalah bagian pangkal bunga yang disebut puji. Puji yang disadap biasanya yang sudah tua dan berwarna keunguan. Apabila yang masih muda kemungkinan tuak/nira yang disadap tidak keluar atau hanya sedikit. Sekali menurunkan nira ini dapat memperoleh 6-8 liter. Proses penyadapan nira dilakukan pada pagi hari dan sore hari. Produksi nira pada setiap pohon berbeda-beda, terkadang hanya mendapat hasil yang sedikit pada musim tertentu.

Dadong (baca : panggilan nenek dalam Bahasa Bali) Asin adalah seorang pembuat gula aren yang tinggal di Desa Alis Bintang. Dadong Asin ini sudah membuat gula sejak masih kecil. Bahkan ini beliau warisi sejak turun temurun. Dalam sehari Dadong Asin melakukan dua kali pembuatan gula, yaitu pagi dan sore. Produksi gula aren yang dilakuka oleh Dadong Asin ini dibantu oleh sekitar 8 keluarga lainnya yang nantinya diambil oleh pengepul dan dijual ke Kabupaten Gianyar.

aren

Proses pembuatan gula aren dimulai dengan memasak nira yang saudah diturunkan dan dibersihkan. Waktu yang diperlukan adalah kurang lebih 6 jam sampai siap cetak. Terdapat beberapa istilah dalam bahasa lokal yang digunakan untuk menggambarkan nira yang sedang dimasak dalam pembuatan gula tersebut. Pada saat awal direbus disebut tuak siag (sudah panas dan sedikit berbuih). Setelah melebug (mendidih) menjadi Langsaan, ini digunakan untuk menggambarkan tuak yang sudah berubah menjadi gula encer seperti gula yang ditambahkan dalam jajan Bali. Dalam proses pemasakan gula yang sudah mendidih, biasanya Dadong Asin akan menambahkan sedikit kelapa parut, agar tidak meluap. Setelah kental (seperti jelly) maka gula aren sudah siap cetak. Cetakan yang digunakan yaitu berbahan batok kelapa, namun sedikit lengser. Karena kelapa yang ada di Desa Alis Bintang berukuran besar-besar. Dalam sekali pembuatan gula dengan 6-8 liter nira, Dadong Asin dapat menghasilkan 6-7 bungkul (buah) gula aren dengan harga Rp 12.500 per-bungkus. (nn)

(22/1/17)