JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Berita Internal

Dari GIMA, untuk Bumi Pancaniti

dari

Jurnalikanews- Kementrian Sosial Masyarakat BEM IMAKA menyelenggarakan kegiatan Gerakan IMAKA Mengajar (GIMA) yang saat ini sudah menginjak tahun ke-4. kegiatan ini dimulai dari hari Minggu (8/1) sampai dengan Sabtu (14/1) di Kampung Mulyasari, Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Lebih tepatnya, kampung dengan jumlah 47 rumah dan dihuni 58 Kepala Keluarga(KK) ini berada di kaki Gunung Pancaniti. Kegiatan sosial ini melibatkan seorang volunter dan 52 orang lainnya, dimana sembilan orang di antaranya merupakan pengajar yang telah melalui beberapa tahap seleksi.

Poin ketiga Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berisikan “Pengabdian Masyarakat” menjadi landasan panitia untuk melaksanakan kegiatan ini. Agenda yang menjadi fokus utama kegiatan ini adalah pengabdian masyarakat berupa perbaikan infrastruktur dan pengajaran.

Perbaikan infrastruktur dilakukan dengan pembangunan bak penampung serta penyaluran air dari Curug Cisarua menggunakan media pipa paralon yang diteruskan ke bak penampung di sekitar wilayah desa.

gima

“Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan mengapa GIMA IV memilih desa ini untuk menjadi lokasi pengabdian masyarakat dan pengajaran adalah karena masih tertinggalnya desa tersebut dalam berbagai aspek dan masih kurangnya bantuan dari berbagai pihak, terutama pemerintah. Ketertinggalan dalam berbagai aspek yang menjadi perhatian kami seperti: pendidikan, fasilitas listrik, air, infrastruktur desa, MCK, dan bangunan yang masih jauh dari kata layak.” tutur Resha Ratna Kusumah selaku Menteri Sosial Masyarakat BEM IMAKA.

Sementara itu, pengajaran yang dilakukan di desa tersebut masih sangatlah terbatas. Belum terdapat sekolah formal yang menjadi wadah penyaluran minat dan bakat bagi anak-anak disana. Tenaga pengajar-nya pun sangatlah minim. Sampai-sampai, sebuah komunitas bernama “Camp 135” secara rutin melakukan pengajaran di hari Sabtu dan Minggu. Bukan dari tenaga Pegawai Negeri Sipil yang seharusnya ditugaskan untuk mencerdaskan anak bangsa. Sembilan pengajar GIMA IV membantu pengajaran kepada anak-anak disana selama 6 hari terhitung dari hari senin(9/1). Kelompok pembelajaran dibagi menjadi 4 tingkatan, yaitu tingkat bawah(3-5 tahun) yang membahas tentang pengenalan huruf vokal dan permainan edukasi, tingkat menengah satu(6-8 tahun) yang membahas tentang suku kata dan perhitungan satuan, tingkat menengah dua(9-12 tahun) yang membahas tentang membaca dan menghitung tingkat lanjut, dan tingkat atas(12-15 tahun) yang membahas tentang pengetahuan alam dan sosial. “Pembagian kelas berdasarkan kemampuan anak didik disana dan juga berdasarkan konsultasi dengan Camp 135.” jelas Fahrizal Ardiansyah selaku koordinator pengajar.

untuk

Sampai dengan hari terakhir, kegiatan ini berhasil membangun dua bak penampung yang semula hanya dikonsepkan satu bak penampung saja. Selain itu, Penyaluran air-pun berhasil dilakukan dengan kebutuhan pipa sebanyak 350 pipa paralon dengan jarak total 1,6 km.

“Kami sangat-sangat berterimakasih karena kakak-kakak mahasiswa yang sudah mau membantu dalam pembuatan infrastruktur dan memberikan pengajaran kepada anak-anak kami.” ungkap Ustadz Sollihudin (atau yang lebih sering disebut Abi) selaku salah satu tokoh masyarakat disana.

“Semoga Desa Mulyasari segera terselesaikan permasalahan kesenjangan sosialnya dan GIMA terus berlanjut. GIMA bisa menjadi pelopor kegiatan-kegiatan serupa, supaya daerah daerah yang terisolir bisa terselesaikan masalah kesenjangan sosialnya.” pesan Gilang Riski S. selaku ketua pelaksana GIMA IV. (av)

(22/1/17)