JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Artikel Opini

Comment Filter

Jurnalikanews – Dalam serial The Simpson Season 27 Episode “The Girl Code”, Lisa Simpson membuat sebuah program yang dapat memprediksi kosekuensi kita dalam memposting suatu kiriman media sosial. Hal ini berawal dari perbuatan ibunya, Marge yang memposting foto ambigu hingga membuat Homer Simpson, sang ayah dipecat dari pekerjaannya di nuclear plant. Program yang dinamakan CONRAD atau akronim dari Consequences Eradicator berhasil dibuat Lisa dengan bantuan gurunya sendiri, Quinn. Namun, pada saat diuji coba, Lisa menemukan hal yang janggal di kala CONRAD tersebut hidup dan mampu berkomunikasi dengan manusia.

CONRAD berkata kepada Lisa bahwa ia tidak ingin dipatenkan sebagai software gratis dengan alasan CONRAD bahwa Ia tidak sanggup untuk mengurus postingan orang-orang bodoh di dunia maya. Lisa berusaha menolong CONRAD dan ditolak oleh guru, tim software dan para investor. Akhir kisah, CONRAD tampil di depan monitor publik dan mengatakan kepada banyak orang yang berada di Tech Festival, “Perhaps the society should not rely into program to warning them of consequencs of their action. Humanity to think before they posted. It’s not the technology that need upgrades, It’s you!” Terang CONRAD sebelum pindah ke Wikileaks.

mulutmu

Episode ini mengingatkan saya pada kejadian manusia era post-modern kini, orang-orang memposting curhatan atau foto bodohnya yang dapat menimpa dirinya sendiri. Postingan bodoh seperti swafoto bugil wanita cantik, tulisan facebook tentang penistaan agama, dan postingan lainnya di media sosial, seakan manusia tidak berpikir akan konsekuensinya yang berdampak pada masa depannya.

Undang-Undang Informasi Teknologi dan Komunikasi (UU ITE) dengan revisinya ditaksir dapat mereduksi pemikiran kotor masyarakat yang tertuang di media sosial mereka, seakan wujud nyata CONRAD-nya The Simpson. Revisi UU ITE tersebut dituangkan dalam empat perubahan. Pertama, prinsip “the right to be forgotten,” seseorang dapat menghapus kesalahannya pada masa lalu dan tidak boleh diungkit lagi oleh orang lain. Kedua, pemerintah berhak menghapus dokumen elektronik apabila telah melanggar. Ketiga, dokumen elektronik dapat dijadikan alat bukti di persidangan, kecuali dokumen yang disadap. Dan terakhir, pengaturan masa tahanan dan denda akibat melanggar UU ITE.[1] Dengan demikian, masyarakat yang menggunakan teknologi diatur oleh pemerintah, melalui CONRAD tertulis, UU ITE.

UU ITE tidaklah harus diperketat. Polisi tidak akan bisa menangani jutaan akun masyarakat yang berisi penghinaan, dan hal lainnya sebagai hasil unek-unek yang tidak terealisasikan. Jika mengikuti revisi UU ITE di atas, pengguna media sosial yang menistakan nama individu atau institusi dapat dilaporkan ke pihak berwajib dengan bukti dokumen elektronik, yaitu postingan pengguna tersebut. Pemerintah juga seakan mengatur dengan menghapus dan menghukum pelanggar pengguna media sosial, sehingga kita tidak dapat berekspresi secara bebas di media sosial. Revisi ini menyulitkan kita.

Menyadur dari sebuah film kartun yang menurut saya bermakna, kemanusiaan sebaiknya berbicara. Penistaan agama yang terjadi sekarang, karena telah melanggar kemanusiaan. Kita tidak membutuhkan comment filter seperti CONRAD atau UU ITE jika pikiran kita jernih. Sejak lahir, kita diajarkan untuk menerima toleransi, diajarkan untuk terbuka dalam ide dan keputusan. Pertahankan pusaka leluhur kita untuk dapat berpangku tangan, membuat bangsa menjadi maju dan aman. Berpikir bijaklah sebelum mengunggah. (Bintang Mikail Subuh)

02/01/17

[1] Deliusno, 4 Poin Perubahan UU ITE Hasil Revisi yang Mulai Berlaku Hari Ini Kompas.com, diakses dari http://bit.ly/2fXQzCg pada 9 Desember 2016 pukul 19:23