JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Opini Recent Update

Pesimis Konsumtif

Jurnalikanews-Masyarakat Indonesia adalah konsumen. Banyak diantara mereka atau sebagian besar masyarakat hanya ingin mendapatkan barang dan jasa tanpa pikir panjang. Walau terkadang barang dan jasa yang mereka inginkan dapat mereka ciptakan sendiri baik itu mereka sadari ataupun tidak. Pada dasarnya, Tuhan menciptakan manusia menjadi makhluk yang paling sempurna. Manusia dibekali akal untuk berfikir. Jadi pada hakikatnya, apabila manusia satu dapat melakukan satu hal, tidak menutup kemungkinan manusia lainnya juga dapat melakukan hal yang sama. Yang membedakan hanya seberapa terampil seseorang dalam melakukannya. Semakin terampil dia maka semakin menunjukan bahwa hal itu adalah keahliannya.

Banyak diantara mereka mempercayakan jasa seseorang tanpa melihat kemampuan mereka sebelumnya, yang mungkin lebih baik dari penjual jasa itu. Banyak juga dari mereka yang berlagak bos dalam melakukan pekerjaan dengan menyuruh orang lain melakukannya. Alhasil barang ataupun jasa yang kita terima terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan awalnya, itu bagi orang orang perfeksionis. Tapi tidak dengan orang orang pasrah. Mereka dengan kepasrahannya hanya dapat mengeluh akan kekecewaannya dan berkata “sudah terlanjur” kata yang terkesan tak dapat mengubah apapun.

Lalu lebih baik siapa? Orang perfeksionis yang malas atau orang pasrah yang malas? Menjadi perfeksionis memang menyakitkan. Segala sesuatu yang kita kerjakan harus sempurna. jadi jika orang perfeksionis malas itu tandanya celaka. Namun apa menjadi orang pasrah dan malas adalah pilihan yang tepat? Jawaban nya pun tak jauh berbeda  Seseorang yang pasrah tak dapat mengubah dunia ini. Pasrah adalah tak berkeinginan mengubah apapun. Orang pasrah tak memiliki optimisme dalam hidupnya untuk menjadi lebih baik. Ditambah sifat malas yang meradang akan menjadi bencana besar. Masyarakat indonesia harus menjadi masyarakat yang rajin. Itu inti nya. Entah dia perfeksionis atau malas jika rajin telah mendarah daging maka tak perlu berfikir pusing. oleh : Nadia Natasya Putri-Depok,Jawa Barat (Peserta Yuk Menulis)