JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Artikel

Mudahnya Jadi Ustadz di Media Sosial


Jurnalikanews-Akhir-akhir ini, di media sosial ramai orang berdebat masalah agama. Masing-masing orang merasa bahwa pendapatnya adalah yang paling benar. Ada yang menyampaikan pendapat secara rapi, namun ada pula yang berpendapat ngawur tanpa dasar. Bahkan tak jarang pula perdebatan yang seharusnya dijadikan sarana untuk memperoleh suatu kebenaran malah berubah menjadi adu kata-kata kasar yang tidak senonoh, sampai menyinggung masalah SARA.

Melihat fenomena diatas, saya tertarik untuk membahas masalah ini secara lebih faktual. Bangsa Indonesia merupakan bangsa majemuk yang kaya akan suku, ras, dan agama. Pada hakikatnya, semua orang mempunyai hak yang sama dalam menyampaikan pendapat. Hal ini juga dijamin secara tegas oleh undang-undang. Namun perlu juga diketahui bahwa masalah agama merupakan masalah yang tidak sembarang orang bisa berfatwa. Sangat menggelitik jika melihat orang-orang dengan beraninya mengatakan yang lain kafir sementara ia juga belum paham betul dengan permasalahan yang dibicarakan. Seseorang yang sholatnya saja tidak karuan bisa dengan mudah menjadi seorang pendakwah di media sosial. Pada kasus seperti ini, orang yang tidak bisa mengaji pun bisa dengan mudah memberikan fatwa-nya`.

Memang benar pepatah yang mengatakan bahwa semakin orang itu berilmu maka semakin hati-hati pula bicaranya. Jika kita mencermati secara lebih mendalam, orang yang notabenenya seorang kyai/ustadz tidak akan mudah memvonis seseorang kafir, apalagi hanya karena masalah perbedaan tafsir mengenai suatu ayat atau kalimat. Berbeda dengan seseorang yang ilmu agamanya pas-pasan. Kata-kata kasar begitu mudah keluar dari mulutnya. Hal semacam ini jika dibiarkan (walau hanya di media sosial), bukan tidak mungkin akan menimbulkan suatu masalah yang lebih serius.

Lantas apa tindakan yang sebaiknya kita lakukan? Melayani orang awam tidak boleh dengan sesuatu yang awam. Jika kita terbawa emosi dan membalas kata-kata kasar mereka, maka tak ubahnya kita juga sama seperti mereka. Diam adalah pilihan terbaik. Mengapa begitu? Bukankah sebaiknya kita luruskan pemahamannya? Dari pengalaman yang dialami penulis, tidak ada gunanya memberikan nasehat kepada mereka. Yang ada kita justru akan semakin mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Mengingatkan cukup sekali atau dua kali saja, selebihnya biar menjadi urusan dia dengan Tuhan. Bukankah sebuah kebaikan jika kita mencontoh perbuatan ulama-ulama terdahulu yang selalu memaafkan orang awam dan lebih memilih untuk bersikap diam.

Dunia maya memang seringkali membuat seseorang lebih berani untuk melakukan sesuatu hal yang sebenarya tidak mungkin mereka lakukan di dunia nyata. Meski begitu, kita juga berkewajiban untuk menetralisir cuaca panas yang sedang melanda negeri kita. Langkah nyata kita bisa dimulai dari dunia maya karena kita juga sering berkecimpung di dalamnya. Sesuatu hal yang kecil pun jika banyak yang menyadarinya akan memberikan dampak yang luar biasa bagi persatuan bangsa ini kedepannya. (Mutakim-Wonosobo)