JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Artikel

Menulis, Kunci Hidup Termanis

Jika kau bukan anak raja atau anak seorang ulama, maka menulislah” -Imam Ghazali-

Sayup-sayup udara mulai menerpa. Begitupun, cahaya senja selalu ingin ikut menyapa. Sunyi, sepi, itulah teman yang selalu setia menemani. Mulailah tampak, rembulan saat itu sedikit tersenyum melihatku. Seolah ingin menghibur kalbu yang sedih tak menentu. Krucuk, krucuk, itulah bunyi yang akrab di telingaku. Beginikah perjuangan itu? Inikah rasanya kelelahan dalam kelaparan? Yang terkadang terasa begitu menyakitkan. Namun terkadang sedikit membahagiakan.

Bergerilya pikiranku saat itu. Gelisah begitu dalam angan dan rasa dalam hatiku. Akankah aku akan menyerah pada keadaan? Ataukah aku sudah tak mulai yakin dengan kebesaran Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Satu yang masih kuingat, selama manusia masih hidup, maka selama itu pula rezekinya masih terjamin dan ada untuknya.

Tidak terasa, tiba-tiba seolah malam ingin memelukku dan seolah mengerti perasaanku sambil berkata, “Lihatlah diriku. Diriku selalu identik dengan sunyi dan sepi. Banyak orang yang tak mau berkenalan denganku. Mereka pun sering mengabaikan keberadaanku. Namun, kebaikan itulah yang selalu kuberikan dan kutebarkan. Akhirnya mereka pun bisa tidur ditengah-tengah masalah dan kesulitan hidup serta dapat bangun dengan hari yang baru dan semangat yang penuh menggebu-gebu. Itulah hidup, yakinlah setelah kegelapan akan datang fajar yang begitu mencerahkan hingga kau lupa dengan pekatnya dan suramnya kegelapan itu. Kunci dari itu semua yaitu usaha, do’a dan pasrah itulah yang mesti dilakukan.”

Tibalah mungkin pertolongan itu. Tiba-tiba kulihat ada teman yang post di facebook bahwa tulisannya, dimuat di media massa dan ternyata ada honor sebagai upahnya. Maka sejak saat itu, kumulai belajar menulis dan mengirimkan beberapa tulisan ke berbagai media massa. Alhamdulillah, sudah banyak tulisan dan opiniku yang dimuat di media massa baik dalam negeri hingga luar negeri serta tak terasa ternyata, sejak kumulai menulis di tahun 2015, sudah 7 buku yang telah diterbitkan. Salah satu yang telah tersebar di seluruh toko buku gramedia Indonesia yaitu berjudul “Para Pencari Cahaya Kehidupan”.

Sedikit demi sedikit, mulai membaiklah keadaanku. Tiba-tiba ada pesan untuk mengambil honor, ada juga yang minta nomer rekening untuk pengiriman uang naskah, ada yang hubungi untuk mengisi materi, dan beragam hal lain yang membahagiakan hati. Tetapi dibalik itu semua, tetap memberi manfaat itulah dasarnya, karena materi dan popularitas hanya sebagai bonusnya saja. Laksana menanam padi, maka rumput akan tumbuh mengikutinya. Begitulah, ketika ingin terus memberi manfaat, maka dunia akan turut mengikuti dengan sendiri walau tanpa dicari.

Akhirnya baru kusadari. Inilah, kesempitan yang melapangkan. Kekurangan yang melebihkan. Keterbatasan yang mencukupkan. Dan kesedihan yang membahagiakan. Maka benarlah, Man Shbara Zhafira. Barangsiapa yang bersabar, maka merekalah yang akan menang dan berhasil. Akhirnya bersabarlah, karena kenikmatan itu datang setelah kelelahan. Dan teruslah bersabar, hingga kau mendapatkan suatu kemanisan, yang manisnya akan membuatmu lupa perihnya penderitaan yang telah kau alami selama ini.

BIOGRAFI PENULIS:

Sunali Agus Eko Purnomo berasal dari Desa Ngrayung, Kec. Plumpang, Kab. Tuban yang menempuh studi S1-Biologi FST UNAIR angkatan 2012. Tahun 2014 menjadi kadept. Syiar SKI JIMM FST. Tahun 2015 menjadi ketua BLM FST dan mawapres 2 FST UNAIR angkatan 2012. Tahun 2016 menjadi delegasi Indonesia di konferensi AMSA Universitas Selangor Malaysia. Kesibukannya saat ini yaitu menulis. Tepat bulan November 2016, berhasil menerbitkan 7 buku, salah satu bukunya yang tersebar di seluruh gramedia yaitu buku Para Pencari Cahaya Kehidupan. Penulis dapat dihubungi di HP/WA: 089678370363, FB: Sunali Agus, ID Line: sunali25 dan email: [email protected] serta blognya: https://sunaliagus.blogspot.com .