JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Artikel

Jalan Menuju Kemandirian Bangsa

Jurnalikanews-Indonesia sudah seharusnya belajar dari Millenium Development Goals atau MDGs. Target dan tujuan MDGs membuktikan adanya perubahan yang signifikan dalam pembangunan di berbagai tingkatan, baik nasional, regional, maupun global. Sebagaimana yang kita ketahui saat ini berbagai negara mencanangkan Sustainable Development Goals atau SDGs yang merupakan evaluasi dari MDGs.

Hal yang perlu diingat adalah SDGs tidak dapat dilaksanakan sendiri, tanpa dukungan semua pihak. Dalam pelaksanaannya, diperlukan partisipasi aktif dari berbagai pihak.  Implementasi SDGs harus dilaksanakan secara inklusif, sama seperti proses penyusunannya. Pengarusutamaan pelaksanaannya meliputi 3 elemen penting yaitu kerangka kebijakan, struktur institusi dan keterlibatan masyarakat. Tiga hal tersebut harus senantiasa bersinergi satu sama lain. Berkaca dari pelajaran yang didapatkan dari penerapan MDGs sebelumnya, salah satu tantangan dalam menerapkan tujuan universal ini adalah kurangnya partisipasi publik. Pasalnya, inisiatif yang dilakukan untuk memenuhi tantangan MDGs masih berkutat di kalangan high level, dan belum merata secara grassroot.1

Peran pemuda sebagai pengaruh utama perubahan dapat berpartisipasi aktif dalam SDGs. Memanfaatkan momentum bonus demografi yang tinggi, keterlibatan pemuda dapat menjadi penyambung pada rantai yang belum dapat disempurnakan pada MDGs yang terdahulu. SDGs mungkin terdengar asing ataupun sulit pada awalnya. Namun pada esensinya, kontribusi kepada SDGs dapat dilakukan dengan hal-hal kecil di sekitar kita. 1 aksi kecil yang dilakukan pemuda untuk negeri ini sangat berarti dalam menentukan tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan ini. 2

Pada bulan Agustus 2015, 193 negara menyepakati 17 tujuan pembangunan berkelanjutan. Dari beberapa poin yang dituliskan, masalah pendidikan merupakan hal yang menjadi perhatian utama dan permasalahan yang harus segera dituntaskan.3 Pemerataan pendidikan harus segera dilaksanakan mengingat potensi demografi Indonesia membutuhkan perhatian khusus dan sumber dari pengembangan potensi tersebut adalah adanya suatu sistem pendidikan yang berkualitas dan dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Namun mirisnya, melihat fenomena yang terjadi saat ini, pedidikan belum menyentuh masyarakat secara keseluruhan. Kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang layak hanya dinikmati oleh kalangan tertentu. Contohnya, ketika kita melihat pendidikan di bidang kesehatan. Peran pemerintah sangat diperlukaan dalam bidang pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi serta bidang kesehatan lainnya. Saat ini mekanisme pasar terjadi di pendidikan tenaga kedokteran. Pendidikan yang sebenarnya merupakan public goods berubah menjadi private goods. Selama ini sistem pasar di pendidikan tenaga kedokteran dan kedokteran gigi berjalan sangat liberal tanpa peraturan cukup, termasuk di pendidikan spesialis-subspesialis. Peserta pendidikan hanya yang mampu membayar dengan besaran yang tinggi.

Akibat yang ditimbulkan dari sistem tersebut yakni pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi hanya mampu ditempuh oleh kalangan tertentu. Beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut yakni:

1) Sulitnya masyarakat di daerah yang tertinggal untuk menjadi dokter karena tes akademik yang mengurangi kesempatan.

2) Mahalnya biaya pendidikan kedokteran yang pada ujungnya berdampak pada mahalnya biaya kesehatan yang harus ditanggung oleh masyarakat.

Dampak dari ketidakmerataan tersebut yakni ketersediaan tenaga kerja dalam bidang kesehatan terbatas dan kebutuhan kesehatan masyarakat tidak terpenuhi karena SDM dalam bidang kesehatan kurang. Di bidang kedokteran gigi sendiri, jumlah dokter gigi di Indonesia sangat minim. Kebutuhan dokter gigi di Indonesia mencapai 100 ribu orang. Saat ini Indonesia memiliki 25 ribu dokter gigi dan dokter spesialis. Itu berarti bahwa Indonesia masih kekurangan 75 ribu dokter gigi. Tentunya hal ini dapat diatasi dengan cara pemberian kesempatan yang lebih besar kepada anak–anak yang ada di daerah kurang maju untuk bisa mengenyam pendidikan tingkat tinggi khususnya dalam bidang kesehatan. Demi tercapainya derajat kesehatan yang memadai. Penyediaan beasiswa bagi masyarakat di daerah kurang maju perlu ditingkatkan. Jika hal ini dapat diwujudkan cita – cita bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang mandiri di tahun 2025 bukan lagi suatu hal yang mustahil. Oleh : Andi Eka Asdiana Warti-Universitas Hasanuddin