JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Opini Recent Update

Dicari: Penjahit Politik

Jurnalikanews- Sebuah gerai jahitan di Cindereji Lor, Gilingan, Banjarsari, Solo, menentukan nasib politik Ahok. Gerai jahitan itu adalah Arjuna Tailor yang tentu masih membawa imajinasi cerah jalan politik Jokowi. Teman Ahok memang sengaja memesan baju bermotif kotak-kotak di Solo untuk Pilkada DKI Jakarta 2017 (Solopos, 4 Oktober 2016). Di tahap pertama, ada 1.500 potong siap membajui Jakarta. Kampanye politik tidak cukup butuh slogan atau program kerja. Politik butuh penjahit bertuah untuk menjahit potongan kain kerja dan janji menuju busana kekuasaan.

Baju kotak-kotak tentu masih mengingatkan publik pada sosok Jokowi saat melenggang di Pilkada DKI Jakarta 2012 sebelum “dijerumuskan” ke kursi Pilpres 2014. Kotak-kotak jadi pembawa janji kerja di tengah arus kemacetan, tata ruang yang parah, keistiqomahan banjir, dan kesemrawutan pemukiman. Kotak-kotak memang masih Jokowi tapi kelangsungan citranya ada di pihak Ahok dan teman Ahok.

Dalam keseharian bercita-cita, penjahit bukan profesi yang begitu diperjuangkan layaknya dokter, guru, pengacara, pengusaha, atau bahkan desainer. Di desa, menjahit biasa jadi sambilan ibu-ibu rumah tangga. Hanya cukup dengan papan identitas kecil di halaman rumah atau sekadar gethok tular, informasi jahitan bisa sampai ke tetangga atau warga di desa seberang. Tidak banyak gerai jahitan yang dibuka megah ala butik.

Menjahit atau menjadi perempuan penjahit tidak lagi masuk dalam daftar penentu status sosial sebagai perempuan somahan. Dewi Sartika justru pernah mendobrak politisasi merumahkan gagasan dan daya perempuan dengan menyandingkan pengajaran menjahit dan ketrampilan berumah tangga dengan membaca dan menulis di Sekolah Kautamaan Isteri. Sebaliknya, di sekolah- sekolah masa Orde Baru, menjahit pun hanya menjadi semacam ekstrakulikuler.

Di jalanan pinggiran kota kini, sudah bersemi penjahit jalanan yang lapaknya bersanding dengan penjual es degan, batagor, cakue, rujak, bakso bakar, atau es cincau. Penjahit jalanan jadi penolong ibu-ibu sekitar yang butuh perbaikan kecil dan dadakan atas busana hariannya. Hal ini secara satire mengabarkan ketidakakraban perempuan kekinian dengan jarum dan benang. Daripada repot menjahit tangan, lebih praktis busana dibawa ke penjahit jalanan yang lebih banyak dilakoni lelaki.

Namun, kita mengingat sejarah tidak hanya tentang diplomasi dan perang. Di Banda Neira semasa pengasingan, Sjahrir memiliki kegiatan menjahit sebagai pereda dari beban politik dan kekuasaan kolonial yang angkuh. Sjahrir menjahitkan pakaian anak-anak angkatnya. Majalah mode pun jadi bacaan langganan yang berhasil lolos ke pengasingan. Biografi Sjahrir tidak lepas dari ketokohan saudari perempuannya, Rohana Kudus bersama mesin jahit Singer yang jadi perwakilan zaman (Rudolf Mrazek, 2005). Sjahrir dan Rohana adalah dua penjahit harapan-harapan kemerdekan.

Politik melahirkan penjahit-penjahit baju kampanye yang menentukan kesuksesan berpolitik para tokoh. Memang lebih darurat Indonesia membutuhkan politisi berwatak penjahit: ulet, telaten, prigel, dan teliti. Mereka akan menambal-menjahit kantong duit negara yang sering robek sembarangan. Penjahit politik dengan telaten menjahit potongan-potongan masalah dengan jalinan benang penyelesaian. Mereka memperbaiki nasib kebolongan-kerombengan Indonesia. Oleh : Setyaningsih (Peserta Yuk Menulis)