JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Berita Opini Recent Update

Ibu Cerdas, Kunci Indonesia Bergenerasi Emas

Jurnalikanews-Ratusan juta orang di dunia yang hidup dalam kemiskinan, tidak mempunyai akses pada makanan sehat dan bergizi. Hal ini menyebabkan lebih dari 800 juta orang di dunia menderita kekurangan gizi yang berlangsung lama pada tahun 2012 hingga 2014. Kekurangan gizi kronis (stunting) diderita oleh sekitar 161 juta anak balita di dunia pada tahun 2013. Setengah dan sepertiga dari jumlah tersebut tinggal di Asia dan Afrika.  Gizi seharusnya tidak dipandang penting semata karena perannya dalam tumbuh kembang individu. Sebaliknya, gizi harus ditempatkan sebagai aset yang penting dalam pembangunan. Gizi juga menjadi indikator keberhasilan pembangunan yang dilakukan oleh negara. Gizi bersama dengan faktor non gizi seperti kesehatan, pendidikan, dan ekonomi merupakan fondasi dalam pembangunan manusia yang berkualitas. Salah satu masalah gizi yang menjadi perhatian utama saat ini adalah masih tingginya anak balita kekurangan gizi (stunting) di negara Indonesia ini. Dari 10 orang anak sekitar 3-4 orang anak balita mengalami stunting.  Keadaan ini akan berlanjut apabila bayi sampai dengan usia 6 bulan mendapatkan ASI saja (ASI Eksklusif). Untuk mempertahankan hal tersebut, maka pemberian MP-ASI sejak usia 6 bulan dan melanjutkan pemberian ASI sampai usia 2 tahun merupakan cara efektif untuk mencapai berat badan dan panjang badan yang normal.

Periode yang paling kritis dalam penanggulangan stunting dimulai sejak janin dalam kandungan sampai anak berusia 2 tahun yang disebut dengan periode emas atau yang lebih dikenal dengan seribu hari pertama kehidupan. Oleh karena itu perbaikan gizi diprioritaskan pada usia seribu hari pertama kehidupan yaitu 270 hari selama kehamilannya dan 730 hari pada kehidupan pertama bayi yang dilahirkannya.

Secara langsung masalah gizi disebabkan oleh rendahnya asupan gizi dan masalah  kesehatan. Selain itu asupan gizi dan masalah kesehatan merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Adapun pengaruh tidak langsung adalah ketersediaan makanan, pola asuh dan ketersediaan air minum (bersih), sanitasi dan pelayanan kesehatan. Seluruh faktor penyebab ini dipengaruhi oleh beberapa akar masalah yaitu kelembagaan, politik dan ideologi, kebijakan ekonomi, dan sumberdaya, lingkungan, teknologi, serta kependudukan.

Berdasarkan faktor penyebab masalah gizi, maka perbaikan gizi dilakukan dengan dua pendekatan yaitu secara langsung, melalui kegiatan spesifik dan secara tidak langsung, melalui kegiatan sensitif melibatkan sektor terkait. Kegiatan spesifik umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan seperti pemberian sosialisasi masalah kesehatan janin pada ibu hamil, pemberian tablet tambah darah, pemeriksaan kehamilan, imunisasi TT, dan pemberian vitamin A pada ibu nifas. Untuk bayi dan balita dimulai dengan inisiasi menyusu dini (IMD), ASI eksklusif, pemberian vitamin A, pemantauan pertumbuhan, imunisasi dasar, pemberian MP-ASI. Sedangkan kegiatan yang sensitif melibatkan sektor terkait seperti penanggulangan kemiskinan, penyediaan pangan, penyediaan lapangan kerja, perbaikan infrastruktur ( jalan, pasar), dan sebagainya.

Dampak  buruk  yang dapat ditimbulkan oleh  masalah gizi, dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan, dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan resiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua. Kesemuanya itu akan menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, produktifitas, dan daya saing bangsa.

Periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) ini telah dibuktikan secara ilmiah merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan seseorang, oleh karena itu periode ini sering disebut sebagai “periode emas”. Pemenuhan asupan gizi pada 1000 HPK anak sangat penting. Jika pada rentang usia tersebut anak mendapatkan asupan gizi yang optimal maka penurunan status gizi anak bisa dicegah sejak awal. Bagaimana seorang bayi dapat tumbuh menjadi seseorang, ditentukan oleh Ibunya. Bagaimana sang Ibu merawat bayi tersebut pada 1000 hari pertama kehidupannya. Untuk itu, untuk mendapatkan generasi emas Indonesia, jutaan ibu di Indonesia serta calon-calon Ibu harus diedukasi, disosialisasi didampingi, dan disupport dalam perawatan 1000 hari pertama kehidupan bayinya, sehingga bayi tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat, cerdas, dan  optimal sehingga nantinya dapat menjadi generasi emas penerus Indonesia. (Rifda Latifa)