JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Opini Recent Update

Menguji Kesaktian Bhinneka Tunggal Ika

Jurnalikanews– Berbeda-beda, tetapi satu jua. Mungkin itulah sepenggal kalimat yang biasa kita dengar dan kita kenal dengan istilah Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan yang berasal dari bahasa Jawa kuno ini menjadi hal yang disakralkan dalam kehidupan bernegara bagi bangsa Indonesia. Lantas apa pula yang menjadikan semboyan ini begitu sakral bagi Indonesia?

Semboyan yang pertama kali diresmikan pemakaiannya pada sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat yaitu tanggal 11 Februari 1950 dan diatur dalam UUD 1945 pasal 36A dan UU No. 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan ini merupakan alat untuk memperkokoh dan menyatukan keberagaman masyarakat Indonesia yang multietnis, multibudaya, multibahasa, dan multiagama.

Identitas kenegaraan ini menjadi simbol pemersatu bagi suburnya ancaman terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah tantangan globalisme saat ini. Tentu saja ancaman dalam hal ini tidak saja berasal dari luar negeri, tetapi juga dari dalam negeri. Ancaman tersebut muncul sebagai akibat dari ketimpangan sosial di masyarakat. Gesekan antarmasyarakat tentulah terjadi, baik individu dan individu, individu dan kelompok, atau kelompok dan kelompok.

Sebut saja kasus yang sedang hangat terjadi dan menjadi viral di masyarakat, yaitu kasus Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang pada satu kesempatan entah sengaja atau tidak mengganggu kenyamanan umat muslim dengan menyebut salah satu ayat dalam kitab suci Al-Quran yang akhirnya menjadi polemik di masyarakat dan berefek pada pengerahan massa ke Istana Negara secara nasional pada 4 November 2016 lalu.

Kasus lain yang juga mengganggu kehidupan bernegara yaitu kasus pengeboman sebuah gereja di Samarinda dan akhirnya menewaskan seorang bocah tidak berdosa bernama Intan. Kenapa gereja? Ya mengapa gereja yang merupakan tempat peribadatan umat Kristiani.

Rasanya dua kasus di atas cukup untuk menggambarkan ketimpangan rasa solidaritas dalam keberagaman di Indonesia. Belumlah kasus-kasus lain yang rasanya akan sangat panjang jika dibeberkan satu persatu. Lantas apakah ini ujian bagi semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu? Padahal semboyan itu sudah tertanam kuat pada hati nurani masyarakat Indonesia. Barangkali juga sudah terlalu lama terkubur dalam ingatan saja.

Mungkin pendidikan kenegaraan kitalah yang harus dipertanyakan. Pengetahuan tentang 4 pilar kebangsaan saja tidak cukup untuk memperbaiki rasa nasionalisme kita. Butuh adanya sebuah kesadaran bersama untuk menjunjung rasa toleransi, rasa menghargai, dan rasa kepekaan terhadap sesama agar perdamaian, situasi aman, dan nyaman bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama.

Jadikanlah keamanan dan perdamaian ini menjadi sebuah kebutuhan dalam bermasyarakat sehingga kalau sudah menjadi sebuah kebutuhan tentulah orang akan berupaya sekuat tenaga untuk memenuhinya. Hal itu juga akan menjadi kontrol bagi setiap individu untuk berinteraksi dengan sesama dan menghindari gesekan semaksimal mungkin sehingga kesaktian Bhinneka Tunggal Ika tak perlu lagi diuji dan Sang Garuda pun akan tetap berdiri dengan kokoh.

Oleh : Tanti Hartanti, S.Pd.