JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Inspirasi Opini Recent Update

Labelisasi; Pembunuhan Karakter

Jurnalikanews- Ribuan mahasiswa bertemu belajar untuk mengabdi kepada universitas, daerah masing-masing, maupun Negeri tercinta Indonesia. Mahasiswa tak boleh hidup dalam keragu-raguan apalagi keniscayaan yang tak berarti, mahasiswa harus merubahnya. Disadari atau tidak, mahasiswa akan berhadapan dengan berbagai hambatan yang menyenangkan. Mengapa menyenangkan? Karena jika suatu permasalahan pelik dihadapi dengan cara yang bijak juga ikhlas, tentu semuanya akan menjadi baik. Bagian yang sering dijumpai di kalangan manapun ialah adanya kelas sosial yang sudah merekat dalam keseharian.
Bagian tersempit dari kelas sosial yaitu ruang kelas dimana mahasiswa saling tegur sapa dan berinteraksi dengannya dan memahami posisinya. Apa yang ada dalam kelas selalu menjadi hal unik. Karena, ribuan mahasiswa berkumpul untuk mencapai idealismenya. Mereka semua pilihan, mereka semua unik, mereka semua panik karena setelah lulus nanti apa yang mereka perbuat untuk dapat dibanggakan olehnya, dosennya, juga universitasnya terlebih luas untuk Negeri tercinta, Indonesia. Mengapa kita selalu berkutat pada persoalan ganjil? Mengapa ada kelas sosial di dalam ruang yang pengap karena tak ber-AC; ruang kelas? Dan, mengapa mereka yang berpenampilan menarik hanya ingin bermain dan berkutat terhadap cerminan dirinya, sebaliknya mengapa yang berpenampilan buruk hanya ingin bermain dan berkutat terhadap cerminan dirinya?
Mengapa sedemikian sempit hidup kita sampai dibatasi oleh strata. Selama ini memang belum sadar, tetapi memang seperti itu keadaannya. Apakah ini yang dinamakan berbeda-beda tetapi tetap satu, Bhineka Tunggal Ika? Tapi pada kenyataannya saat kita jumpai di ruang-ruang manapun atau contoh kelas saja, mereka dengan bangganya berkelompok dengan yang satu daerahnya, mereka dengan kelompok strata tinggi atau rendahan yang orangtuanya turunkan. Mereka terlalu asyik berkelompok dengan kedaerahannya, kekayaannya, dan status yang mereka dapatkan. Bagaimana akan menjadi satu apalagi padu jika mental primordialisme masih tertanam kuat dalam pribadi. Tantangan kedepan dengan bungkusan pemasalahan pelik tentu akan kita hadapi. Lantas bagaimana jika hanya mementingkan ego kelompoknya sendiri. Senyatanya kita memang seperti itu karena strata telah membatasi ruang gerak kita sehari-hari. Seharusnya kita saling memahami betul satu dengan yang lainnya. Pada skala kecil di tingkat universitas sudah kelihatan bagian-bagian strata yang angkuh. Kelompok popular selalu bersenda-gurau dengan yang popular. Rasanya asing terdengar oleh kita ada kelompok popular bersenda-gurau dengan kelompok rendahan.
Pembenahan yang diinginkan ialah perubahan yang berarti bukan ucapan yang membodohkan. Lantas tak ada yang boleh diragukan disini. Tak ada yang boleh direndahkan disini. Tak ada yang boleh seenaknya mencaci apalagi memberi gelar yang buruk; Labelisasi. Mengapa kau lakukan pembunuhan karakter terhadap rekanmu sendiri? Tak ada yang antusias bertanya saat dibuka forum di ruang kelas. Tak ada yang mau mempertanyakan apa yang harusnya dipertanyakan. Untuk apa ada pembelajaran di ruang kelas? Jika hanya menimbulkan kubu-kubu dengan egonya sendiri. Untuk apa diadakan pembelajaran. Jika hanya menciptakan pembunuhan karakter. Tak perlu saling menyalahkan. Hanya perlu kompromi agar tak menjadi pribadi dengan kata-kata yang hanya mampu mengkerdilkan rekannya sendiri. Tak perlu menjadi mahasiswa. Jika kau belum merubah apa-apa yang terjadi di masyarakat sekitar. Karena menjadi mahasiswa kita akan melihat sisi lain yang bertentangan.
Nama                           : R. Ravika Dwi Daningtyas
Status                          :  Mahasiswi Bhayangkara Jaya Bekasi, Jurusan Ilmu Hukum