JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Artikel Inspirasi Opini Recent Update

Hukum Gulpot Menurut Pandangan Islam

xxJurnalikanews- Tidak terasa sebentar lagi Indonesia akan memilih, tentu pikiran-pikiran yang muncul tidak asing bagi kita semua tentang “siapa yang akan dipilih? Plihan saya sudah tepatkah? Pilihan saya akan memihak kepada rakyatkah?”Tahukah, karena pikiran-pikiran yang mengganggu sikap keraguan-raguan tersebut nyatanya banyak membuat masyarakat untuk berpikir dua kali dalam memilih atau bahkan bisa jadi akan golput. Terbukti partisipasi pemilu cenderung menurun dari tahun ke tahun. Berbicara tentang golput, seolah-olah menjadi trend yang muncul saat pemilu/pemilukada yang biasanya diakibatkan persoalan ekonomi lebih penting dalam penanganan bangsa ketimbang politik. Artinya, masyarakat lebih mengutamakan persoalan sepiring nasi. Rakyat yang menjadi apatis dan tidak mau tahu siapa yang akan menjadi pemimpinnya, tentu saja hal ini menjadi pertanyaan bagaimana sebenarnya hukum tidak memberikan suara ketika pemilu/pemilukada dalam pandangan Islam. Hukum golput dalam pemilu/pemilukada tergantung bagaimana kita memandangnya. Mereka yang mengharamkan pemilu/pemilukada tentu menjadikan golput sebagai pilihan.

Berdasarkan fatwa Darul Ifta Mesir pada tanggal 9 oktober 2000 menyatakan “Hendaknya mereka menghormati pemerintahan legislatif (tasyi’iyyah), yudikatif (qadhaiyyah), dan eksekutif (tanfiziyyah) yang dihasilkan sistem syura yang sehat dengan keimanan yang benar, dan syura itu wajib bagi setiap invidu untuk memilih unsur-unsur pemerintahan legislatif”. Sementara dalam perspektif MUI apabila seorang muslim tidak menggunakan hak pilihnya, padahal ada calon pemimpin yang memenuhi syarat seperti beriman, bertakwa, jujur, terpercaya, aktif dan aspiratif maka hukumnya haram. Seperti yang telah diketahui bahwa MUI mengeluarkan fatwa haram untuk golput atau tidak menggunakan hak pilih saat pemilu ini merupakan salah satu bentuk upaya dari para ulama dalam menegakkan demokrasi di Indonesia. Terkait dengan MUI yang mengeluarkan fatwa haram untuk golput begitu banyak pendapat yang dilontarkan seperti pendapat Dr. Sofjan S. Siregar yang menyatakan bahwa fatwa MUI yang mengharamkan golput adalah sebuah ‘blunder ijtihad’ dalam sejarah pefatwaan. Justru mengharamkan golput itu hukumnya haram. Terkait hukum golput tergantung dari kita semua, bagaimana menanggapi dan menyikapinya. Oleh karena itu, jika ada pemimpin yang beriman, bertakwa, jujur, dapat dipercaya, aktif dan aspiratif apa salahnya jika kita memilih dan tidak golput. Ayo memilih!

Nama              : Napsiah
Jurusan          : Agroteknologi
Universitas    : Universitas Bangka Belitung