JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Artikel Inspirasi Recent Update

Hidup sebagai Kaum LGBT di Indonesia

sumber-gambar-news-okezone-comJurnalikanews- Fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) menjadi isu yang sangat memprihatinkan dan meresahkan masyarakat Indonesia. Komunitas LGBT semakin terbuka menunjukkan identitas diri di ruang publik serta gencar mengkampanyekan dan mempropagandakan isu Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai jurus pamungkas agar eksistensi komunitasnya dapat di legalkan oleh negara. Tercatat, sudah ada sekitar 23 Negara di dunia yang melegalkan praktek pernikahan sesama jenis yang merupakan cikal bakal kemunculan komunitas LGBT.

Menjadi LGBT adalah sebuah pilihan, namun selalu ada sikap pro-kontra dalam pelegalan LGBT. Oleh karena itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengambil langkah tegas untuk menolak segala propaganda, promosi, dan dukungan terhadap legislasi serta adanya perkembangan LG BT di Indonesia.

Sejauh ini, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) menganggap praktek LGBT tidak berbenturan dengan hukum positif. Meskipun demikian, dengan kemajemukan bangsa Indonesia, ada beberapa daerah yang secara tegas melarang praktek LGBT yang diatur dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda). Seperti Aceh dengan hukum syariahnya, serta beberapa daerah lainnya dengan asas otonomi daerah yang berlaku saat ini. Sementara itu penulis berpandangan, Bahwa:

sumber-gambar-google-com1Pertama, jika memang aktivis LGBT membawa isu HAM sebagai langkah supaya Negara melegalkan eksistensi komunitasnya. Dalam Pasal 1 angka 1 UU No. 39 Tahun 1999 disebutkan bahwa HAM adalah hak asasi yang dimiliki manusia semata-mata karena martabatnya sebagai manusia. Manusia diciptakan berpasangan dengan lawan jenis yang menjadi standart dalam agama apapun. Hal tersebut dikuatkan pula dalam hukum positif yang menetapkan dua gender manusia yaitu pria dan wanita, Pencantuman tegas tentang pria dan wanita diatur dalam UU No. 01 Tahun 1974 dan UU No. 24 Tahun 2013. Artinya, secara default hanya ada pria dan wanita. Masalah LGBT muncul karena memodifikasi kondisi default tersebut, yang jelas-jelas akan menyalahi kodratnya sebagai manusia.

Kemudian, terjadi kesesatan dalam berfikir ketika memaknai arti HAM yang sesungguhnya. Bahwasanya, HAM yang dianut di Indonesia ialah HAM yang bersifat Komunal, bukan HAM yang bersifat Individual yang memaksakan untuk mengakui hak asasi secara perorangan maupun kepentingan kelompok sosialnya. Hal tersebut diatur dalam Pasal 28J Ayat (2) UUD 1945.

Kedua, jika propaganda LGBT dimaksudkan agar mempunyai hak yang sama dan setara dengan gender lainnya karna terlalu sering mendapatkan bullying, dilarang bekerja di perusahaan tertentu, bahkan larangan untuk kuliah di salah satu kampus dengan alasan diskriminasi. Hal ini sungguh sangat memprihatikan, jika dibandingkan dengan saudara-saudara kita, Muslimah Bercadar yang banyak ditemui di lingkungan sekitar kita yang dipandang secara sinis, dicaci, dimaki, dikata-katai serta dipermalukan di depan umum. Entah terlepas dari aliran yang mereka anut, penulis melihat jauh lebih manusiawi mereka mendapatkan perhatian khusus untuk tidak di diskriminasi. Tapi adakah, diantara mereka yang dengan giat dan gigih membelanya atas nama Hak Asasi Manusia?

Ketiga, Komunitas LGBT ini tetaplah harus kita hormati, bersikap toleransi, empati, bersikap lemah lembut serta tetap merangkul dalam keberagaman dan meluruskannya. Tetap mengupayakan sikap mencegah dan mengobati dibandingkan harus bersikap apatisme dan anarkisme.

Dari uraian ketiga hal diatas, adanya fenomena LGBT nyata-nyata jelas bertentangan dengan Konsep HAM maupun ideologi yang dianut oleh bangsa kita. Kita tetap harus berpegang teguh pada nilai-nilai moral, agama, kesusilaan serta nilai luhur pandangan hidup bangsa. Kita tidak ingin 20-30 tahun lagi menyaksikan pasangan cowok bermesraan di depan umum, tetangga sebelah kita pasangan sesama cewek yang dilegalkan. Jangan sampai ketika masa itu tiba, kalian mulai membuka lembaran tulisan ini. Mulailah untuk memberi pemahaman seksualitas yang benar pada generasi mendatang. Dan jangan sampai hal ini menjadi catatan kelam sejarah bangsa selanjutnya.

Irwan Hafid (penulis) adalah mahasiswa aktif Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Angkatan 2014. Ia merupakan seorang mahasiswa yang punya komitmen tinggi untuk belajar dan punya minat di bidang jurnalistik. Kini, ia aktif di Departemen Riset dan Penulisan Forum Kajian dan Penulisan Hukum FH UII. (CP: 085225840219, Email: [email protected])