JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Berita Eksternal Recent Update

Aksi Bela Islam II

Jurnalikanews- Sekitar 200 ribu orang diperkirakan ikut turun ke jalan sebagai bentuk reaksi atas ucapan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, atau yang akrab disapa Ahok yang dianggap menyinggung umat Islam. Ahok kala itu, mengutip petikan Surat Al Maidah ayat 51 ketika berkunjung ke Kepulauan Seribu. Perkataan Ahok tersebut dianggap menistai agama Islam dan dinilai melukai perasaan umat Islam. Dilansir dari liputan6.com, detiknews, tribunnews, dan sumber lainnya, aksi Bela Islam II atau yang disebut juga Aksi Damai 4 November ini bertujuan untuk mengadili Ahok terkait ucapannya dan meminta presiden agar tidak melindungi pelaku penistaan. Aksi ini bukan kali pertama yang dilakukan oleh umat Islam, tetapi aksi kedua yang dilakukan oleh umat Islam.

51e29d6187c9b9f221b620f4ff56b567Aksi Damai 4 November ini dilakukan di Ibu Kota Jakarta, ribuan pengunjuk rasa telah ada sejak pagi, mereka berasal dari sejumlah ormas Islam yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Aksi dimulai siang hari seusai Sholat Jum’at dengan menggelar arak-arakan dari Masjid Istiqlal menuju ke Istana Negara sesuai rute yang telah ditetapkan. Orasi didepan Istana Negara baru dimulai ba’da Ashar. Pelaksanaan orasi berjalan lancar dengan orator bergantian dari berbagai elemen dipimpin langsung oleh Habib Ruzieq Syihab (sebagai Pembina GNPF MUI). Perundingan pertama mengutus 2 orang Juru Runding GNPF MUI yaitu, KH. Bachtiar Nasir, dan KH. M. Zaitun Razmin untuk mendatangi Istana. Hasilnya Juru Runding menolak melakukan perundingan dikarenakan hanya akan ditemui oleh Menko Polhukkam dan beberapa menteri sebagai utusan resmi Presiden RI. Lalu Juru Runding mendatangi istana kembali untuk yang kedua kalinya, namun mereka tetap menolak untuk berunding karena istana tetap menawarkan Menko Polhukkam dan petinggi lainnya. Kemudian Juru Runding tersebut kembali kepada barisan. Juru Runding pun mencoba untuk yang ketiga kalinya kembali ke Istana, kali ini Juru Runding diikuti oleh KH. Misbahul Anam. Juru Runding ditemui Wapres RI dan petinggi lainnya. Perundingan berjalan alot, hasilnya Wapres RI memberikan jaminan akan memproses hukum Ahok secara cepat, tegas, dan transparan serta meminta waktu selama dua minggu untuk merealisasikannya. Lalu, Juru Runding kembali kepada barisan dan menyampaikan hasil perundingan tersebut. Setelah disampaikan, para peserta tidak bisa menerima hasil tersebut dan bersepakat untuk bermalam di depan istana. KH. Arifin Ilham berusaha untuk bernegosisasi langsung menemui Wapres RI.
Kericuhan kecil sudah mulai terjadi sebelum rombongan mobil komando tiba, antara massa yang “terprovokasi” dengan barikade polisi. Lalu, petugas keamanan secara tiba-tiba melakukan tindakan fisik mendorong untuk membubarkan barisan aksi secara paksa dengan menembakkan gas air mata dan menembakkan peluru karet. KH. Arifin Ilham yang masih berada di istana bersaksi bahwa Wapres RI, Menko Polhukkam, dan Kapolri memberikan reaksi marah atas kecerobohan petugas keamanan. Kejadian tersebut telah memakan 1 korban meninggal dunia dan ratusan korban luka. Barisan aksi akhirnya menginap di pagar luar Gedung MPR/DPR. Pada pukul 03.00 dinihari delegasi GNPF diterima oleh komisi 3 DPR dan Ketua DPR, setelah beberapa kali berunding, keamanan gedung MPR/DPR diambil alih oleh panglima TNI dan Kapolri yang akan menggusur massa yang menginap di luar pagar Gedung MPR/DPR. Kemudian Komisi 3 DPR memberikan jaminan akan menekan pemerintah pusat untuk memenuhi janjinya di depan massa Aksi Damai. Dan pada pukul 04.50 tanggal 5 November 2016 secara resmi GNPF MUI membubarkan Aksi Bela Islam II yang ditutup oleh Ketua GNPF MUI Ust. Bachtiar Nasir. (Liza/Arsen)
(8/11/16)