JURNALIKA

Jurnalistik Politeknik AKA Bogor

Berita Eksternal Recent Update

Darahku Bercerita

Jurnalikanews- Tanggal 20 Oktober 2016 merupakan momentum peringatan 2 tahun kinerja Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sebelum Jokowi-JK terpilih menjadi presiden dan wakil presiden Republik Indonesia, mereka menyampaikan komitmen untuk menjalankan 9 program nyata. Mahasiswa yang tergabung dalam BEM SI, HMI, PMII, IMM, PMKI, KAMMI dan lain-lain melancarkan aksi guna menagih janji-janji program nyata Jokowi-JK yang dilaksanakan didepan Istana Negara di jalan merdeka barat. Dalam aksi itu, aliansi BEM SI mengusung Lima Tuntutan Reformasi Mahasiswa atau yang dikenal dengan LITERASI MAHASISWA meliputi reklamasi Teluk Benoa dan Teluk Jakarta, kasus kebakaran hutan dan lahan, tax amnesty, izin ekspor konsentrat dan usaha hilirisasi minerba, serta hukum kebiri yang tak menjadi solusi nyata pelecehan seksual. 

Lima belas presiden mahasiswa berdiskusi di Istana Negara namun harapan mereka untuk bertemu dengan Presiden kandas karena Presiden tidak bersedia menemui perwakilan mahasiswa melainkan bertemu dengan bapak Teten Masduki selaku staff kepresidenan. Selagi menunggu presiden mahasiswa yang berdiskusi di Istana Negara, masa aksi BEM SI yang berkumpul di depan gedung koordinator Kementrian Perkembangan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia tetap bertahan membentuk border untuk memperkuat penagihan nawacita. Perhimpunan mahasiswa selain BEM SI dan buruh datang dari arah Monas dan menyebabkan kerusuhan sehingga pihak aparat mengeluarkan gas air mata dan mengelilingi masa aksi dengan pagar berduri. Sempat terjadi baku hantam antara aparat dan salah pihak Cipayung plus. “Anggota aparat kepancing emosi sama masa Cipayung plus, aparatnya sekarang diamanin. Aparat ngamanin tadi cuma kepancing emosi karena mungkin pihak cipayung plusnya ngotot juga.” Ungkap Fajri salah satu masa aksi. Kerusuhan tak hanya terjadi antara aparat dengan pihak Cipayung, namun juga terjadi kerusuhan antara aparat dan pihak BEM SI. Aksi yang telah diluncurkan sejak pagi hari hingga sore hari yang tak kunjung mendapat respon yang baik dari pemerintah mengakibatkan pihak BEM SI berusaha melewati pagar besi dan melakukan perlawanan terhadap aparat sehingga beberapa mahasiswa menjadi korban adanya kisruh ini. Salah satu korban dari fakultas teknik unj mengalami luka di bagian kepala. “Diketok pake bambunya polisi sama tameng. Kita dorong-dorong sama polisi terus polisi terprovokasi nyabet-nyabet bambu.” ungkap Fafa UNJ. Itu hanya segelintir korban yang menjadi saksi kebisuan sang pemimpin di negeri ini. (Pt/silv)

(24/10/16)